Jatengkita.id – Stand up Comedy special show Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono kini resmi tayang di Netflix. Sebelumnya, show ini viral di berbagai platform media sosial. Sejumlah cuplikan pertunjukan menyedot perhatian publik.
Show ini mengangkat mengangkat isu-isu sensitif seputar politik, hukum, dan sosial dengan gaya satire tajam, lugas, dan nyaris tanpa sensor. Tak heran jika Mens Rea disebut sebagai salah satu pertunjukan stand up comedy lokal paling berani dan relevan dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan durasi hampir dua jam, Mens Rea dibuka oleh Ben Dhanio. Ia sukses menghadirkan humor kritis dengan menyentil tokoh-tokoh publik. Suasana semakin memanas saat Dany Beler naik panggung dan menyinggung praktik kekuasaan lewat simbol “sembilan naga”.
Kedua komika ini menjadi pemanasan sebelum Pandji Pragiwaksono tampil dan menyapa ribuan penonton di Indonesia Arena, Senayan. Pembuka tersebut langsung menohok dan penuh sindiran.
Tayang sejak 26 Desember 2025, Mens Rea menyajikan kritik tajam terhadap berbagai realitas di Indonesia. mulai dari isu pajak, perilaku masyarakat, hingga dinamika kekuasaan yang sering kali luput dari perhatian publik.
Pandji memadukan riset mendalam, pengalaman personal, dan humor cerdas untuk menyampaikan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton. Sejumlah segmen dalam pertunjukan ini pun menuai sorotan karena menyentuh topik sensitif.
Sebut saja dugaan praktik pencucian uang yang digambarkan melalui ilustrasi fiktif aparat kepolisian serta penyebutan figur publik sebagai contoh.
Untuk meredam potensi polemik, Pandji kerap membuka materi kontroversialnya dengan kalimat “menurut keyakinan saya”, namun tetap berhasil menyampaikan pesan secara tajam dan mengundang tawa sekaligus renungan.
Mens Rea merupakan bagian dari tur nasional Pandji Pragiwaksono sepanjang 2025 yang digelar di 10 kota besar. Pementasan puncaknya di Indonesia Arena dengan kapasitas sekitar 10.000 penonton. Show ini bahkan disebut sebagai salah satu pertunjukan stand up tunggal terbesar di Asia Tenggara.
Tak mengherankan jika potongan-potongan materinya cepat menyebar luas dan memicu diskusi di ruang digital.
Selain isu nasional, Pandji juga menyinggung kasus korupsi di tingkat daerah, termasuk yang melibatkan kepala daerah. Ia juga menyinggung fenomena artis yang terjun ke dunia politik dan menjadi pejabat publik atau sekadar buzzer pemerintah.
Melalui kritik ini, Pandji menyoroti praktik demokrasi yang kerap dangkal dan sarat akan gimmick politik, seperti yang terjadi di realitas ini. Contoh kecilnya saja yaitu image seorang tokoh politik yang dianggap citranya sebagai “gemoy” dan digaungkan saat pemilu.

Padahal public figure ini kerap kali bersinggungan dengan masalah HAM. Pandji juga mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam menentukan pilihan, tidak mudah terbuai pencitraan, politik uang, maupun janji balas budi.
Dalam salah satu segmen paling tajam, Pandji menekankan pentingnya sikap mandiri dan kritis sebagai warga negara. Ia menyampaikan bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah atau lembaga negara.
Bukan tanpa alasan. Banyak kasus pelanggaran yang dilakukan oknum aparat, mulai dari kekerasan hingga keterlibatan jenderal polisi dalam bisnis narkoba.
Kritik ini disampaikan sebagai pengingat bahwa kekuasaan harus terus diawasi oleh rakyat. Oleh karena itu, ia juga menyampaikan rakyat adalah atasan presiden.
Pandji juga memberikan pesan kuat soal tips memilih pemimpin. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya berpegang pada satu alasan saat menentukan pilihan politik. Ia mengibaratkan memilih pemimpin seperti memilih pasangan hidup, yang perlu mempertimbangkan “bibit, bebet, dan bobot”.
Hal ini termasuk rekam jejak serta kualitas personal atau the weight of the person. Pandji menegaskan bahwa pilihan dalam pemilu, baik pilpres maupun pemilihan legislatif, bukan untuk kepentingan para elit, melainkan demi masa depan masyarakat bersama.
Berbicara soal tips untuk memilih pemimpin yang ideal menurut Pandji, pasti tak luput tentang persoalan diskursus prinsip one person one vote yang menjadi fondasi demokrasi.
Setiap suara warga negara seharusnya memiliki nilai yang sama tanpa memandang status sosial, ekonomi, maupun tingkat pendidikan.
Dalam pandangan umum, sistem ini idealnya menjamin bahwa kebutuhan dan kepentingan seluruh rakyat dapat dibela secara adil, baik mereka yang miskin maupun kaya, terdidik atau tidak.
Namun melalui Mens Rea, kita mendapat tamparan keras akan realitas yang seringkali dianggap tak kasat mata oleh sebagian masyarakat. Seperti fenomena saat ini yang justru menunjukkan ketimpangan, di mana suara masyarakat kelas bawah sering kali tidak benar-benar diperjuangkan.
Banyak kebijakan dinilai lebih berpihak pada kelompok tertentu, sementara kepentingan kaum miskin kerap terpinggirkan meski secara teori memiliki hak suara yang setara.
Kritik ini kembali menegaskan pesan dari acara ini agar publik tidak apatis, melainkan lebih sadar dan kritis dalam menggunakan hak pilih demi memperjuangkan dan melindungi kepentingan bersama.
Kritik Pandji terhadap praktik demokrasi juga diperkuat dengan menyinggung berbagai persoalan struktural yang dialami masyarakat kecil. Salah satunya termasuk kasus relokasi dan penggusuran warga di Pulau Rempang.
Dalam Mens Rea, Pandji menyoroti bagaimana kebijakan pembangunan kerap mengorbankan masyarakat akar rumput atas nama investasi dan kepentingan ekonomi.
Ia mempertanyakan keadilan dalam proses pengambilan keputusan yang sering kali tidak melibatkan suara warga terdampak secara utuh, meski secara prinsip mereka memiliki hak suara yang sama dalam sistem one person one vote.
Bagi Pandji, kasus seperti Rempang menjadi contoh nyata bagaimana suara kaum miskin dan rentan masih kerap diabaikan dalam praktik demokrasi, meskipun secara teori memiliki kedudukan politik yang setara.
Mens Rea tidak hanya menjadi tontonan menghibur. Melalui pendekatan komedi yang berani, terstruktur, dan sarat pesan sosial, acara ini merupakan ruang refleksi publik terhadap isu-isu sensitif yang kerap kali dianggap tabu di ruang publik.
Baca juga: Membaca Ulang Legenda Pusaka Majapahit, Kejatuhan dan Harapan
