Jatengkita.id – Bahasa sering kali menjadi arsip sejarah yang paling sunyi, tetapi paling setia. Ia menyimpan jejak perjumpaan budaya tanpa prasasti, tanpa monumen, namun terus hidup di lidah penuturnya. Dalam bahasa, pengaruh kolonial Belanda tidak hanya tertinggal pada bangunan tua, rel kereta api, atau sistem administrasi, tetapi juga meresap ke dalam beberapa kata Jawa yang digunakan sehari-hari.
Banyak kosakata yang terdengar sangat njawani ternyata berasal dari bahasa Belanda, lalu diolah, disederhanakan, dan disesuaikan dengan pola tutur lokal.
Kata-kata itu kini terasa biasa. Namun jika ditelusuri asal-usulnya, tersimpan cerita tentang teknologi baru, dunia kerja, pendidikan, hingga kehidupan rumah tangga pada masa kolonial.
- Potlot
Kata potlot dalam bahasa Jawa digunakan untuk menyebut pensil. Kata ini berasal dari bahasa Belanda “potlood”. Dalam proses adaptasi, bunyi “lood” disederhanakan oleh lidah Jawa hingga menjadi “lot”, melahirkan kata potlot yang terasa akrab dan mudah diucapkan.
Potlot menjadi simbol awal dunia pendidikan modern di Jawa. Hingga kini, meski pensil mekanik dan alat tulis digital semakin umum, kata potlot masih bertahan dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan orang tua dan guru.
- Setip
Sementara itu, kata setip berasal dari bahasa Belanda “stat”, yang diasosiasikan dengan benda kecil yang selalu berpasangan dengan potlot (pensil), yakni penghapus. Hingga kini, ungkapan seperti “nyilih stip” atau “endine ana stip-e ora?” masih lazim terdengar di sekolah-sekolah.
- Pit
Kata pit, yang berarti sepeda, berasal dari bahasa Belanda “fiets”. Karena bunyi “f” sulit diucapkan oleh lidah Jawa pada masa itu, bunyi tersebut berubah menjadi “p”.
- Sepur
Kata sepur, yang berasal dari bahasa Belanda “spoor”, yang berarti rel kereta api. Dalam bahasa Jawa, sepur justru digunakan untuk menyebut kereta api secara keseluruhan. Pergeseran makna ini menunjukkan cara masyarakat Jawa memahami teknologi baru secara praktis, bukan teknis.
- Prei
Kata prei yang berarti libur, berasal dari bahasa Belanda “vrij” atau “vrije”, yang bermakna bebas. Hingga kini, prei masih sering digunakan oleh pekerja untuk menyebut hari libur.
- Sempak
Kata sempak yang kini lazim digunakan untuk menyebut celana dalam memiliki asal-usul dari bahasa Belanda “zwempak”, yang berarti pakaian renang. Pada masa kolonial, zwempak merujuk pada celana pendek praktis yang dikenakan saat berenang.
Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa, bunyi “zw” yang sulit diucapkan disederhanakan menjadi “s”. Seiring waktu, maknanya pun bergeser, dari celana renang menjadi celana dalam sehari-hari.

- Duit
Kata duit berasal dari nama mata uang logam pada masa kolonial Belanda yang disebut “duit”. Pada abad ke-17 hingga ke-19, duit digunakan sebagai satuan uang kecil di wilayah Hindia Belanda dan banyak beredar dalam transaksi sehari-hari masyarakat.
Karena begitu lekat dengan aktivitas jual beli, istilah duit kemudian digunakan hingga sekarang yang berarti uang.
- Pulpen
Kata pulpen berasal dari istilah Belanda “vulpen” (vulpen), yang berarti pena isi ulang atau fountain pen. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa dan Indonesia, bunyi “v” berubah menjadi “p” karena lebih mudah diucapkan, sementara pelafalannya disederhanakan hingga menjadi pulpen.
Seiring waktu, maknanya pun meluas, tidak hanya merujuk pada pena isi ulang, tetapi digunakan untuk menyebut semua jenis pena.
- Blek
Kata blek berasal dari bahasa Belanda “blik”, yang berarti kaleng. Dalam bahasa Jawa, blek sering digunakan untuk menyebut wadah logam bekas yang masih dimanfaatkan dalam kehidupan rumah tangga.
- Tekel
Kata tekel berasal dari bahasa Belanda “tegel”, yang berarti ubin atau lantai. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa dan Indonesia, bunyi “g” di akhir kata mengalami perubahan menjadi “k”, sehingga tegel dilafalkan sebagai tekel.
Tak hanya itu, kata ember (dari “emmer”), kompor (dari “komfoor”), dan setrum (dari “stroom”) menjadi bukti bahwa bahasa Belanda hadir di hampir setiap aspek kehidupan.
Seri kata-kata Jawa serapan Belanda ini menunjukkan bahwa bahasa adalah ruang akulturasi yang hidup. Kata-kata tersebut tidak sekadar peninggalan kolonial, melainkan hasil adaptasi kreatif masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan zaman.
Kini, setiap kali orang menyebut pit, sepur, prei, atau duit, mereka sedang mengucapkan sejarah tanpa perlu menyadarinya.
Baca juga: Mengapa Belanda Banyak Menanam Pohon Asam Jawa di Pinggir Jalan?






