Jatengkita.id – Saya terlahir di Wonogiri bagian selatan, di antara bukit-bukit tanah kapur yang tandus tapi kokoh. Seperti watak orang-orang yang lahir di tanah itu, keras diuji, tapi lembut hatinya.
Bapak dan ibu saya seorang guru. Dua sosok yang tidak hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi juga menanamkan makna hidup lewat teladan dan kesederhanaan.
Dari delapan bersaudara, saya satu-satunya anak lelaki. Dan entah kenapa, sejak kecil saya merasa memikul amanah yang tak pernah diucapkan, menjadi penjaga nama baik keluarga, sekaligus penerus nilai-nilai yang Bapak titipkan.
Di antara banyak nasihat Bapak, ada satu yang paling sering beliau ulang dengan nada lembut, mendalam tapi tegas. Selalu diucapkan saat pamitan mau ke tempat kost di Solo: “Sing eling lan waspada, Le”
Dulu saya hanya menanggapinya dengan anggukan polos. Tapi kini, setelah melewati jalan panjang kehidupan, jatuh bangun, kehilangan dan harapan, saya mulai paham bahwa dua kata itu menyimpan lautan makna.
Eling berarti ingat kepada Tuhan, kepada asal-usul, dan kepada tujuan hidup. Terkadang Bapak juga berkata, “Wong urip aja nganti lali marang sing maringi urip.” Hidup jangan sampai lupa kepada Yang Memberi Hidup.
Dalam Islam, ini adalah makna dari dzikrullah, mengingat Allah dalam setiap keadaan, seperti firman-Nya:
“Fadzkuruni adzkurkum…”
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ketika hati selalu eling, kita belajar untuk bersyukur saat lapang dan bersabar saat sempit. Kita sadar bahwa semua keberhasilan hanyalah titipan, bukan hasil kehebatan diri.
Sementara itu, waspada berarti berhati-hati, mawas diri. Bapak mengajarkanku agar waspada terhadap godaan dunia, kesombongan, hawa nafsu, dan rasa putus asa.
Dalam ajaran Islam, sikap ini adalah wujud dari takwa, menjaga diri dari hal yang bisa menjauhkan kita dari rida Allah. Al-Qur’an menegaskan:
“Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha wal tanzhur nafsun ma qaddamat lighad.”
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah diperbuat untuk hari esok.” – (QS. Al-Hasyr: 18)

Pesan Bapak juga sejalan dengan ajaran luhur dalam Serat Wulang Reh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, yang berbunyi: “Elinga sira anak putu, aja dumeh sugih, aja dumeh pinter, aja dumeh wasis.” (Ingatlah, wahai anak cucu, jangan merasa tinggi karena kaya, pintar, atau pandai).
Petuah ini mengajarkan keseimbangan antara eling dan waspada, antara kesadaran spiritual dan kewaspadaan moral. Orang Jawa percaya, kemuliaan hidup bukan diukur dari pangkat atau harta, tapi dari kemampuan menjaga hati agar tetap eling marang Gusti lan waspada terhadap diri sendiri.
Dan ketika Bapak sudah sedo dan Ibu makin sepuh, saya akhirnya tersadar bahwa “eling lan waspada” bukan sekadar nasihat, melainkan warisan nilai dan doa. Bapak ingin anak lelakinya tumbuh menjadi manusia yang kuat tapi tetap tahu arah pulang, berani melangkah tapi tidak kehilangan kendali.
Dan kini, saat saya sendiri menjadi Bapak dan Ibu juga sudah sedo, kalimat itu seperti menggema kembali dalam telinga saya dengan gema dan getar yang sama, seperti dulu ketika pertama kali mendengarnya: “Le, sing eling lan waspada…”
Kalimat sederhana itu kini menjadi doa lintas generasi. Sebuah pengingat bahwa hidup adalah perjalanan panjang untuk terus mengingat Allah, menjaga hati, dan menapaki dunia dengan kesadaran penuh, seperti air jernih yang mengalir di antara bebatuan Wonogiri, tenang, tapi kuat membawa kehidupan.
Teruntuk semua Bapak, mari kita lantunkan doa dan aminkan untuk anak-anak kita,
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa anakku, bersihkan hatinya, dan jagalah kemaluannya”
Baca juga: Membaca Ulang Legenda Pusaka Majapahit, Kejatuhan dan Harapan







om ku masya Allah tabarakallah