Jatengkita.id – Tahukah kamu? Pelopor air minum kemasan pertama di Indonesia ada di Semarang. loh!
Sebelum brand air minum dalam kemasan (AMDK) terkenal seperti sekarang, Indonesia sudah memiliki pelopor sejak tahun 1900 an. Namanya Hygeia, pabrik air minum kemasan pertama di negeri ini.
Saat itu, air minum kemasan dianggap barang mewah karena hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Botol kaca elegan dengan label Hygeia Mineral Water menjadi simbol gaya hidup modern masa itu.
Hendrik Freerk Tillema, seorang apoteker asal Belanda yang hijrah ke Semarang mendirikan Hygeia. Awalnya ia mengakuisisi sebuah usaha farmasi dan limun yang kemudian mengembangkan Hygeia sebagai air minum kemasan dengan standar kebersihan tinggi.
Menariknya, nama “Hygeia” diambil dari dewi kesehatan dalam mitologi Yunani yang melambangkan kemurnian dan kebersihan. Sejalan dengan misinya yaitu menyediakan air minum higienis di tengah keterbatasan akses air bersih kala itu.
Pilihan nama ini bukan kebetulan. Bagi Tillema, air bersih dan higienis adalah kunci menjaga kesehatan masyarakat. Pada masanya, akses air minum yang layak masih sangat terbatas. Maka, Hygeia hadir bukan sekadar bisnis, melainkan misi kesehatan.

Pabrik Hygeia dilengkapi dengan teknologi mutakhir yaitu ubin bersih mengkilap, pencahayaan terang, dan lini produksi dengan conveyor otomatis. Termasuk juga mesin bilas untuk memastikan setiap botol benar-benar steril sebelum diisi.
Pada masa itu, promosi Hygeia berlangsung masif dengan iklan yang disebarkan melalui taman kota, stasiun kereta, bahkan selebaran yang diluncurkan melalui balon udara.
Produk Hygeia dikenal luas sebagai “Air Belanda” atau “Air Tillema” yang disukai oleh berbagai lapisan masyarakat baik Belanda maupun Pribumi termasuk priyayi, aktivis Jong Java, dan Boedi Oetomo.
Hari ini, air minum dalam kemasan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, jauh sebelum itu, Hygeia sudah lebih dulu menegaskan satu hal penting, bahwa akses air bersih dan higienis adalah hak semua orang.
Dari Hygeia lahirlah tradisi minum air dalam kemasan, hingga kini menjadi kebutuhan sehari-hari bagi jutaan orang.
Kini, Hygeia sudah tidak beroperasi lagi. Bahkan bangunan bekas pabriknya telah dialih fungsikan dan tersembunyi di dalam Pasar Ikan Hias Jurnatan di Jl. KH Agus Salim, Semarang Tengah.
Melansir dari situs Portal Informasi Indonesia, bangunan itu kini difungsikan sebagai gudang minyak goreng. Sayangnya, bangunan tersebut hingga kini belum terdaftar sebagai cagar budaya Kota Semarang.
Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi terbaru!






