Mengulik Kisah Pilu Dibalik Ereveld Kalibanteng Semarang

Mengulik Kisah Pilu Dibalik Ereveld Kalibanteng Semarang
(Gambar: Instagram)

Jatengkita.idEreveld Kalibanteng merupakan sebuah pemakaman yang menjadi simbol penghormatan bagi ribuan korban perang.

Mereka mayoritas adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, yang tewas selama masa pendudukan Jepang dan revolusi Indonesia. Lokasi ini terletak di Jalan Siliwangi, Semarang, Jawa Tengah.

Sejarah dan Latar Belakang

Dirancang pada masa pasca-perang, ereveld ini pertama kali diresmikan pada 22 April 1949 dan terlaksana antara tahun 1946 hingga 1950 oleh Oorlogsgravenstichting (OGS), yaitu yayasan makam perang Belanda.

Awalnya, Indonesia memiliki sekitar 22 ereveld. Namun, sejak tahun 1960-an, perekatannya dilakukan menjadi tujuh lokasi utama di Pulau Jawa, termasuk Ereveld Kalibanteng dan Candi di Semarang.

Baca juga: 10 Bangunan Tua Kota Semarang yang Instagramable dan Historis

Arsitektur dan Simbolisme Makam

Ereveld Kalibanteng dibangun berbentuk segitiga sama sisi, dikelilingi oleh kanal dan pepohonan rindang, dengan tujuh waringin di depan serta satu di titik puncak.

Area makam ini mencakup sekitar 3.000 jenazah. Sebagian besar adalah warga sipil yang dimakamkan secara terpisah sesuai agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, dan Yahudi, ditandai oleh simbol pada nisan masing-masing.

ereveld kalibanteng
Pemandangan Ereveld Kalibanteng tahun 1949 (Gambar: ogsindonesia.nl)

Beberapa patung monumental pun dibangun sebagai tanda penghormatan.

  1. Monumen Perempuan
    Menggambarkan dua perempuan yang memegang anak. Melambangkan kekuatan dan perlindungan selama masa interniran.
  2. Monumen Anak (Jongenskampen)
    Patung anak kurus dengan alat pertanian sebagai simbol penderitaan anak-anak yang dijadikan romusha.
  3. Monumen Perempuan Tidak Dikenal
    Memperingati perempuan korban perang yang tidak teridentifikasi.
  4. Monumen Kehormatan
    Prasasti dalam bahasa Belanda:
    “Ter Eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offeden en niet rusten op de erevelden” — mengingat mereka yang telah berkorban namun tidak dimakamkan dalam taman kehormatan.

Baca juga: Bukan Boedi Oetomo! Sarekat Islam Lebih Dulu Memperjuangkan Kemerdekaan

Akses Publik dan Makna Kontemporer

Sejak beberapa tahun lalu, Ereveld Kalibanteng terbuka untuk umum gratis, meskipun pengunjung tetap harus menjaga suasana penuh hormat. Jam kunjungan biasanya dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Pengelola menyediakan kunjungan tur dengan pemandu untuk kategori komunitas, organisasi, lembaga pendidikan, dan lainnya.

Selain menjadi destinasi wisata sejarah, tempat ini juga menjadi tempat ziarah bagi warga Belanda keturunan korban perang. OGS secara rutin memfasilitasi kunjungan ziarah, doa, dan penghormatan terutama di sekitar monumen peringatan ibu dan anak.

Ereveld Kalibanteng bukan sekadar makam, tetapi juga ruang refleksi sejarah dan kemanusiaan. Dengan arsitektur yang tenang dan simbol-simbol penghormatan yang kuat, tempat ini mengajak pengunjung merenungkan dampak tragis perang, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak, serta pentingnya menjaga kedamaian.

Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk berita terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *