Jatengkita.id – Filosofi Jawa menyimpan banyak ajaran luhur yang sarat makna kehidupan. Salah satu pitutur (petuah) yang terkenal hingga kini adalah “Urip iku urup”, yang disampaikan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga.
Ungkapan singkat ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut dapat diterjemahkan sebagai “Hidup itu menyala” atau “Hidup itu harus memberi cahaya”.
Maknanya bukan hanya sekadar hidup secara biologis, tetapi hidup yang membawa manfaat, semangat, dan penerangan bagi sesama. Filosofi ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jawa, tetapi juga memiliki kesesuaian erat dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an.
Melalui pitutur tersebut, Sunan Kalijaga mengajarkan nilai-nilai sosial, spiritual, dan moral yang sejalan dengan prinsip-prinsip keislaman tentang kebermanfaatan dan kebaikan dalam hidup.
Makna Filosofis “Urip Iku Urup”
Dalam pandangan masyarakat Jawa, kata “urip” berarti hidup, sementara “urup” berarti menyala atau memberi terang. Dengan demikian, filosofi “urip iku urup” mengandung pesan bahwa hidup seharusnya memberikan cahaya dan manfaat bagi orang lain.
Manusia yang hidup hanya untuk dirinya sendiri dianggap belum benar-benar hidup secara hakiki. Kehidupan yang bermakna adalah ketika seseorang mampu menjadi sumber kebaikan dan inspirasi bagi sesama.
Makna “urup” juga bisa ditafsirkan sebagai simbol dari semangat, kehangatan, dan penerangan. Seperti api kecil yang memberi cahaya dalam kegelapan, manusia diharapkan dapat menyalakan api kebaikan di lingkungannya.
Dengan demikian, eksistensi seseorang tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga membawa pengaruh positif bagi masyarakat luas. Sunan Kalijaga menggunakan simbol “urup” untuk menggambarkan spirit sosial dan spiritual yang harus dimiliki manusia.
Hidup yang tidak urup diibaratkan seperti lampu yang padam: tidak memberi manfaat, tidak memberi arah, dan tidak memberi kehidupan bagi sekitarnya. Maka, seseorang hendaknya menjadi “api kecil” yang memberi penerangan, meskipun sederhana.
Filosofi dalam Konteks Sosial dan Spiritualitas
Pitutur “urip iku urup” mengandung dimensi sosial yang mendalam. Filosofi ini mendorong manusia untuk menjalin solidaritas dan empati terhadap sesama. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Semua saling membutuhkan dan saling melengkapi. Oleh karena itu, nilai “urip iku urup” menegaskan pentingnya gotong royong, tolong-menolong, dan saling menebar manfaat.
Dari sisi spiritualitas, makna “urip iku urup” juga menuntun manusia agar hidupnya bernilai ibadah. Segala aktivitas, baik dalam bekerja, berinteraksi, maupun membantu orang lain, akan bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat tulus karena Allah.
Dengan demikian, hidup yang menyala bukanlah sekadar hidup yang aktif, tetapi hidup yang memiliki orientasi ilahi.
Sunan Kalijaga mengajarkan agar manusia tidak sekadar mencari duniawi, melainkan juga menghidupkan nilai-nilai ilahiah dalam diri. “Urip iku urup” menjadi simbol bahwa hidup seharusnya mencerminkan kehidupan yang diridai Allah, yakni kehidupan yang membawa kebaikan bagi makhluk lain.

Kesesuaian dengan Nilai-nilai dalam Al-Qur’an
Filosofi “urip iku urup” sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an. Islam menekankan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Walaupun hadis tersebut bukan bagian dari Al-Qur’an, pesan yang terkandung di dalamnya bersumber dari nilai-nilai Qur’ani. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menegaskan pentingnya berbuat baik, memberi manfaat, dan menjadi cahaya bagi kehidupan.
- QS. Al-Baqarah (2): 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya…”
Ayat ini menegaskan bahwa kebajikan sejati bukan hanya ritual, melainkan tindakan nyata yang memberi manfaat kepada sesama. Nilai ini sejalan dengan makna “urip iku urup” hidup harus “menyala” dalam bentuk amal kebajikan yang menolong orang lain.
- QS. An-Nur (24): 35
“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, di dalamnya ada pelita besar; pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya…”
Ayat ini menggambarkan cahaya (nur) sebagai simbol petunjuk, ilmu, dan kebaikan. Manusia yang beriman dan berilmu akan memantulkan cahaya ilahi dalam kehidupan.
Dengan demikian, filosofi “urip iku urup” dapat diartikan sebagai ajakan agar manusia meneladani sifat an-nur (cahaya) Allah yaitu menyebarkan terang berupa kasih, kebaikan, dan ilmu kepada sesama.
- QS. Ali Imran (3): 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat ini menegaskan peran sosial umat Islam, yaitu menjadi penyeru kebaikan (amar makruf nahi munkar). Hidup yang sesuai dengan ayat ini adalah hidup yang “urup”, menyala dengan semangat kebaikan yang menuntun orang lain ke arah kebenaran.
Sunan Kalijaga: Simbol Integrasi Islam dan Budaya
Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang bijaksana dan sangat memahami kebudayaan Jawa. Dalam dakwahnya, Sunan Kalijaga tidak menolak budaya lokal, tetapi mengislamkan nilai-nilai Jawa dengan pendekatan kultural.
Filosofi “urip iku urup” adalah contoh nyata bagaimana Sunan Kalijaga menyatukan ajaran Islam dengan budaya setempat. Dengan pitutur itu, Sunan Kalijaga berusaha menanamkan nilai Islam secara halus, tanpa menimbulkan benturan budaya.
Masyarakat Jawa yang telah terbiasa dengan simbol dan makna filosofis, diajak untuk memahami bahwa hidup bukan hanya sekadar ada, tetapi harus memberi arti. Seperti api kecil di tengah gelap, keberadaan manusia diharapkan menjadi penerang bagi sesamanya.
Pendekatan seperti ini membuat ajaran Islam mudah diterima dan dipahami masyarakat Jawa. Dakwahnya menekankan keteladanan dan kasih sayang, bukan kekerasan atau pemaksaan. Prinsip ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. An-Nahl (16): 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Baca juga: Warisan Filosofi Jawa: Mangan Ora Mangan sing Penting Kumpul






