Menanam Rasa, Menumbuhkan Budaya Pada Generasi Muda

Menanam Rasa, Menumbuhkan Budaya Pada Generasi Muda
Budhi Hartanto, S.T., M.Si., Budayawan asal Wonogiri - (Ilustrasi: AI Generated)

Jatengkita.id – Ada satu kegelisahan yang sering muncul ketika kita berbicara tentang generasi muda: bagaimana agar mereka tidak tercerabut dari akar budayanya. Kita hidup di zaman yang serba cepat. Hari ini sebuah tren muncul di media sosial, besok sudah hilang, terganti dengan tren lain.

Di tengah pusaran seperti itu, anak-anak kita mudah sekali terombang-ambing. Mereka bisa hafal lagu Korea atau gaya busana Barat, tapi kadang tak mengenal tembang “Lir-Ilir” atau kisah Sunan Kalijaga.

Namun, mari kita jujur. Salah satu sebabnya bukan karena anak-anak menolak budaya. Justru sering kali karena kita, para orang tua dan pendidik, kurang menghadirkannya dengan cara yang hidup.

Kita seakan terlalu sibuk mengenalkan simbol—baju adat, tarian, upacara—tapi lupa menanamkan substansi di balik itu. Budaya akhirnya terlihat seperti pajangan museum: indah tapi berdebu, ada tapi jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal kalau kita lihat jejak para wali, raja, dan ulama dahulu, mereka justru menghadirkan budaya dengan ruh yang membumi. Sunan Kalijaga misalnya, dikenal dengan falsafah “urip iku urup”—hidup itu seharusnya menyala dan memberi manfaat.

Karena itu, Sunan Kalijaga menghadirkan wayang bukan hanya sebagai hiburan, melainkan media menyalakan nilai kebajikan di hati masyarakat. Wayang jadi jembatan, bukan sekadar simbol.

Hal yang sama tampak pada Sunan Bonang, yang menggunakan gamelan untuk menyampaikan ajaran. Ia tahu, hati masyarakat Jawa dekat dengan irama dan harmoni. Maka musik bukan dipinggirkan, melainkan dipeluk dan diisi dengan makna baru.

Dari sini kita belajar bahwa mengajarkan budaya pada anak bukan memaksa mereka melestarikan bentuknya, tapi menunjukkan ruhnya.

generasi muda
Orang tua perlu menanamkan pemahaman kepada anak tentang alasan dasar bagaimana batik lahir dan mengapa penting melestarikannya (Gambar: dbl.id)

Kita juga bisa menengok ke Sultan Agung, Raja Mataram yang menyatukan kalender Jawa dan Islam. Tindakannya sederhana, tapi menyimpan pesan besar bahwa agama dan budaya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dijahit agar masyarakat tidak tercerabut dari jati dirinya.

Begitu pula orang tua masa kini, jangan sampai anak-anak kita tumbuh “terlalu global” hingga lupa pada rumah asalnya. Dalam era modern, Ki Hajar Dewantara memberi panduan yang masih relevan: “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Prinsip ini menegaskan bahwa pendidikan budaya bukan berarti orang tua harus selalu di depan memberi perintah. Tetapi di depan dengan memberi contoh, menemani anak dalam eksplorasi, dan akhirnya mendorong mereka dari belakang. Budaya bukan paket seragam, melainkan proses bersama.

Generasi muda zaman sekarang tidak alergi pada budaya. Mereka hanya butuh “pintu masuk” yang sesuai. Kalau kita hanya menyodorkan simbol, mereka akan cepat bosan.

Tapi kalau kita membuka ruang dialog, membiarkan mereka bertanya, bereksperimen, bahkan memodifikasi, budaya justru akan menemukan kehidupan barunya.

Bukankah setiap zaman punya tafsirnya sendiri? Yang penting, akar tetap terjaga, meski cabang dan ranting tumbuh dengan bentuk yang berbeda.

Mengenalkan budaya pada generasi muda itu bukan soal memaksa mereka memakai batik tiap hari Kamis, melainkan mengajak mereka mengerti kenapa batik itu lahir. Bukan sekadar menyuruh mereka menghafal parikan Jawa, tapi menolong mereka menemukan relevansinya dalam hidup modern.

Kita ingin anak-anak kita tumbuh bukan hanya cerdas menghadapi dunia, tapi juga hangat dalam jiwanya. Mereka boleh berlari kencang mengejar zaman, asalkan tetap tahu jalan pulang.

Dan jalan pulang itu, tak lain, adalah budaya. Warisan yang tidak mati, selama kita menanamkannya bukan di kepala semata, melainkan di hati.

Baca juga: 10 Filosofi Hidup Sunan Kalijaga, Relate Banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *