Mengenal Ritual Sakral Jamasan Pusaka Keraton Surakarta

Mengenal Ritual Sakral Jamasan Pusaka Keraton Surakarta
(Gambar: foto.espos.id)

Jatengkita.id – Tradisi Jamasan Pusaka di Keraton Surakarta menjadi salah satu ritual sakral tahunan yang terus dijaga keberlangsungannya hingga kini. Prosesi ini dilaksanakan sebagai bentuk perawatan terhadap benda-benda pusaka peninggalan leluhur sekaligus upaya pelestarian nilai budaya Jawa yang sarat makna spiritual.

Ritual jamasan biasanya digelar menjelang Malam 1 Suro yang menandai Tahun Baru Jawa. Bagi masyarakat dan keluarga besar Keraton Surakarta, jamasan pusaka bukan sekadar kegiatan membersihkan benda bersejarah.

Tradisi ini adalah laku spiritual yang mengandung nilai penghormatan terhadap leluhur dan keseimbangan hidup.

Makna dan Tujuan Jamasan Pusaka

Secara fisik, jamasan bertujuan membersihkan dan merawat pusaka keraton seperti keris, tombak, hingga meriam pusaka, termasuk Meriam Nyai Setomi. Hal ini bertujuan agar tetap terjaga keawetannya. Namun di balik itu, ritual ini memiliki tujuan yang lebih mendalam.

Jamasan pusaka dimaknai sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur, sekaligus sarana menjaga nilai spiritual, etika, dan filosofi kehidupan Jawa. Prosesi ini juga dipercaya sebagai ikhtiar untuk menolak pengaruh negatif serta menjaga keselamatan dan keharmonisan lingkungan keraton.

Dalam pandangan Jawa, pusaka tidak hanya dipandang sebagai benda mati, tetapi memiliki nilai simbolik dan sejarah yang merepresentasikan perjalanan, doa, dan kebijaksanaan para pendahulu.

jamasan pusaka
(Gambar: solobalapan.jawapos.com)

Prosesi yang Khidmat dan Sakral

Prosesi jamasan pusaka di Keraton Surakarta berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Abdi dalem keraton yang terlibat mengenakan busana adat Jawa dan menjalankan ritual dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selama prosesi berlangsung, mereka melantunkan dzikir dan salawat secara lirih sebagai bentuk doa dan pengharapan kepada Tuhan.

Beberapa perlengkapan khusus digunakan dalam ritual ini, antara lain air bunga yang terdiri dari melati, mawar, dan kantil, serta air jeruk nipis untuk membersihkan pusaka. Selain itu, minyak wangi atau minyak boreh dan koyoh digunakan sebagai pelapis agar pusaka tetap terlindungi.

Prosesi juga dilengkapi dengan sesaji berupa jajanan pasar, pisang, dan nasi uduk. Makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Di Keraton Surakarta, pelaksanaan jamasan diawali dengan dhawuh atau perintah langsung dari raja (Sinuhun). Seluruh rangkaian ritual dapat berlangsung selama beberapa jam, bergantung jumlah pusaka yang dijamas dan tata cara yang dijalankan.

Bagian dari Kalender Budaya Jawa

Jamasan pusaka merupakan bagian penting dari kalender budaya tahunan Keraton Surakarta. Puncak tradisi ini kerap bertepatan dengan Kirab Pusaka Malam 1 Suro.

Upacara jamasan umumnya dilaksanakan pada bulan Suro atau Muharram dalam penanggalan Jawa. Dalam beberapa tahun, ritual ini juga bertepatan dengan hari Selasa Kliwon, yang dalam kepercayaan Jawa dianggap sebagai hari baik dan memiliki nilai spiritual tersendiri.

Keberlangsungan tradisi Jamasan Pusaka di Keraton Surakarta menjadi bukti bahwa budaya Jawa tidak hanya dirawat sebagai warisan sejarah, tetapi juga dijalani sebagai laku hidup yang mengajarkan keselarasan, penghormatan, dan kebijaksanaan lintas generasi.

Baca juga: Sejarah dan Mitos Kebo Bule Milik Keraton Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *