Filosofi Urip Prasojo Masyarakat Jawa Sebelum Budaya Minimalisme Eropa

Filosofi Urip Prasojo Masyarakat Jawa Sebelum Budaya Minimalisme Eropa
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Mengenal kembali filosofi Jawa, membuat kita kembali mengingat dan menjaga warisan nasihat para leluhur. Di tengah zaman yang selalu bergerak cepat, baik segi ekonomi, fashion, makanan, dan trend-trend lainnya, menuntut kita untuk hidup lebih dan tidak mau ketinggalan zaman.

Maka munculah istilah gaya hidup “minimalis” untuk menjaga ketenangan diri. Hidup dengan barang secukupnya, mengurangi konsumsi, dan membatasi keinginan sering dipandang sebagai cara untuk mencapai kehidupan yang lebih tenang.

Sebenarnya gaya hidup ini, sudah diajarkan oleh para leluhur Jawa, yakni hidup “Prasojo” yang berartikan sederhana, dalam bahasa Jawa.

Filosofi ini memiliki makna yang lebih dalam, yakni kemampuan seseorang untuk menjalani hidup secara wajar, tidak berlebihan, dan mampu menempatkan keinginan pada batas yang semestinya.

Makna Hidup Prasojo

Orang yang prasojo terus bekerja keras karena mereka belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan ego. Ia memiliki standar.

Ia memahami tujuan utamanya. Namun, ia tidak menggunakan pencapaian sebagai cara untuk menjadi lebih rendah atau lebih kuat daripada orang lain.

Meskipun ada, dia tetap tenang. Tidak terlalu cepat, tidak membutuhkan pengumuman, dan tidak perlu divalidasi setiap saat. Karena keinginan tidak akan pernah selesai jika diikuti terus. Akan selalu ada penantian karena tidak berujung. 

Prasojo sebagai Rem Kultural

Di tengah budaya konsumsi yang semakin kuat, prasojo dapat dilihat sebagai semacam rem kultural. Dunia modern sering mengatakan bahwa hidup harus terus naik.

Karier harus meningkat, pendapatan harus bertambah, rumah harus semakin besar, kendaraan harus semakin baru, dan gaya hidup harus terus mengikuti perkembangan zaman. Padahal, hidup tidak selalu harus diukur dengan seberapa banyak yang berhasil ditambahkan.

Ada kalanya kualitas hidup justru ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk mengetahui kapan harus berhenti. Prasojo mengajarkan bahwa tidak semua peluang harus diambil. Tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Dan tidak semua pencapaian harus diperoleh dalam waktu bersamaan. Kesederhanaan bukan tentang memiliki sedikit, tetapi tentang mampu merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk bertumbuh.

(Gambar: Pinterest)

Tetap Ambisius, tetapi Berkelanjutan

Menariknya, prinsip prasojo tidak harus membuat seseorang kehilangan ambisi. Justru filosofi ini dapat melahirkan bentuk ambisi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Ambisi tidak harus selalu berarti berlari secepat mungkin. Ambisi juga bisa berarti memilih kecepatan yang memungkinkan seseorang terus berjalan dalam jangka panjang.

Dalam konteks ini, prasojo mengajarkan sebuah bentuk sustainability dalam kehidupan: Ambisi yang masih bisa dijalani hari ini, tetapi juga memungkinkan seseorang bangun esok pagi dengan tubuh yang utuh dan batin yang tidak tercerabut.

Seseorang tetap boleh mengejar karier, membangun bisnis, meningkatkan pendapatan, atau memiliki cita-cita besar. Namun, semuanya perlu memiliki batas agar pencapaian tidak dibayar dengan kesehatan, ketenangan, hubungan sosial, dan kualitas hidup.

Mengikuti Zaman Tanpa Kehilangan Akar

Mengikuti perkembangan zaman bukan sebuah kesalahan. Yang perlu dijaga adalah alasan di baliknya. Jangan sampai seseorang mengubah seluruh gaya hidup hanya karena takut dianggap norak, tertinggal, atau tidak mengikuti tren.

Teknologi boleh berubah. Tren boleh berganti. Cara bekerja boleh berkembang. Namun, nilai hidup tidak harus selalu ikut berubah.

Masyarakat Jawa memiliki banyak warisan nilai yang dapat menjadi pegangan untuk menghadapi perubahan tersebut. Salah satunya adalah prasojo: menjalani kehidupan secara sederhana, terukur, dan tidak berlebihan.

Dengan begitu, tradisi tidak menjadi penghalang modernitas. Sebaliknya, nilai tradisional dapat menjadi fondasi agar manusia tetap produktif sekaligus menjaga keseimbangan hidup.

Prasojo dan Kehidupan yang Lebih Waras

Pada akhirnya, prasojo bukan sekadar tentang pakaian sederhana, rumah sederhana, atau memiliki barang dalam jumlah sedikit. Prasojo berbicara tentang “cara seseorang menyampaikan keinginan dalam hidupnya”.

Ia mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu lebih banyak. Tidak harus selalu lebih mahal. Tidak harus selalu lebih cepat. Ada kalanya hidup menjadi lebih baik ketika seseorang mampu berkata, “cukup”.

Bukan karena tidak mampu mendapatkan lebih, tetapi karena memahami bahwa tidak semua yang bisa dimiliki harus dimiliki.

Mungkin inilah relevansi prasojo di tengah kehidupan modern: kesederhanaan bukan penolakan terhadap kemajuan, melainkan kemampuan untuk tetap waras ketika dunia terus meminta kita memiliki lebih banyak.

Dan jauh sebelum “minimalis” menjadi tren gaya hidup modern, masyarakat Jawa telah mewariskan sebuah pesan yang sederhana: hidup boleh maju, tetapi jangan sampai kehilangan batas.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version