Jatengkita.id – Salah satu peristiwa menarik setiap bulan Ramadan di Semarang adalah kuliner bubur India yang bisa disantap di Masjid Jami’ Pekojan saat berbuka puasa. Budaya ini tumbuh subur di Kampung Pekojan, yaitu pemukiman bagi kaum Koja, sebuah kelompok Muslim India dari Gujarat.
Hidangan gurih berempah ini bukan sekadar menu takjil, tetapi bagian dari tradisi berbagi yang telah mengakar di kawasan Kampung Arab. Setiap sore menjelang azan maghrib, warga berbondong-bondong datang untuk mendapatkan seporsi bubur hangat yang dibagikan secara gratis.
Tradisi ini menjadikan Bubur India Semarang bukan hanya fenomena kuliner, tetapi juga peristiwa sosial dan religius yang memperkuat ukhuwah di bulan suci.
Sejarah Bubur India di Pekojan, Kota Semarang
Kata “koja” berasal dari awalan “pe” dan “an”, yang masing-masing memiliki arti “tempat”. Oleh karena itu, “Pekojan” berarti tempat koja. Karena lokasinya dekat dengan Pecinan dan Pasar Johar, kampung tua ini selalu penuh dengan aktivitas ekonomi yang berasal dari perdagangan dan jasa.
Sebelum menjadi perkampungan padat penduduk seperti sekarang, Pekojan adalah tempat pelabuhan barang dagangan dari berbagai negara. Hal ini menunjukkan bahwa kampung itu adalah tempat tinggal orang-orang Koja.
Menurut berbagai sumber, tradisi pembagian Bubur India sudah berlangsung puluhan tahun dan dilakukan oleh takmir masjid di kawasan Pekojan.
Awalnya, bubur ini dimasak untuk konsumsi internal jamaah. Namun seiring waktu, tradisi berkembang menjadi kegiatan berbagi untuk masyarakat luas setiap Ramadan.
Pembagian bubur biasanya dilakukan menjelang waktu berbuka puasa dan dalam hitungan menit ratusan porsi langsung habis.

Ciri Khas Bubur India Semarang
Berbeda dari bubur ayam pada umumnya, Bubur India Pekojan memiliki karakter rasa yang kuat dan kompleks.
- Menggunakan beras yang dimasak hingga sangat lembut dan kental
- Berisi daging sapi atau kambing yang dimasak lama hingga empuk
- Kaya rempah seperti kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan lada
- Disajikan dengan taburan bawang goreng dan kadang acara
Teksturnya lembut, aromanya tajam khas Timur Tengah, dan rasanya gurih-rempah. Inilah yang membuat Bubur India menjadi kuliner khas Ramadan di Semarang yang selalu dicari. Dalam sehari menghabiskan 20 kilogram beras.
Tradisi Berbagi yang Menguatkan Ukhuwah
Setiap Ramadan, suasana Pekojan berubah menjadi lebih semarak. Warga dari berbagai wilayah Semarang datang untuk ikut merasakan tradisi ini. Antrean panjang menjadi pemandangan biasa, namun tetap tertib.
Dalam beberapa laporan disebutkan bahwa dana operasional memasak bubur berasal dari donatur serta swadaya masyarakat sekitar.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana kuliner bisa menjadi medium dakwah dan solidaritas sosial di bulan Ramadan.
Bubur India, Identitas Ramadan Semarang
Di tengah modernisasi kota dan menjamurnya menu berbuka kekinian, Bubur India Pekojan tetap bertahan sebagai simbol tradisi. Ia bukan hanya makanan, tetapi narasi sejarah migrasi, akulturasi budaya, dan semangat berbagi.
Bagi masyarakat Semarang, Ramadan terasa belum lengkap tanpa aroma rempah Bubur India yang mengepul dari dapur-dapur di Pekojan.
Jika kamu berkunjung ke Semarang saat Ramadan, sempatkanlah datang lebih awal menjelang Magrib untuk mencicipi Bubur India khas Semarang.
Baca juga: Mi Kopyok, Kuliner Legendaris Semarang yang Jarang Orang Tahu






