Kimpul yang Lagi Viral, Superfood Lokal di Era Healthy Lifestyle

Kimpul yang Lagi Viral, Superfood Lokal di Era Healthy Lifestyle
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Nama kimpul belakangan ikut ramai dalam percakapan di media sosial. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar asing.

Padahal, kimpul merupakan salah satu jenis umbi yang sudah lama dikenal di Indonesia dan kerap tumbuh di pekarangan atau lahan pertanian masyarakat.

Kemunculan kimpul dalam tren kuliner masa kini menarik karena terjadi ketika gaya hidup sehat semakin populer. Masyarakat mulai mencari alternatif sumber karbohidrat, memperbanyak pangan berserat, sekaligus kembali melirik bahan makanan lokal.

Kimpul pun mendapatkan ruang baru, bukan hanya sebagai pangan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari pilihan menu healthy lifestyle.

  • Kimpul Sebenarnya Umbi Apa?

Kimpul termasuk kelompok tanaman talas-talasan atau famili Araceae. Dalam sejumlah sumber, kimpul dikenal sebagai talas Belitung dan umumnya merujuk pada genus Xanthosoma, terutama Xanthosoma sagittifolium.

Meski sering disamakan dengan talas, kimpul dan talas sebenarnya berbeda. Talas yang umum dikenal masyarakat biasanya berasal dari Colocasia esculenta.

Sedangkan kimpul berada dalam genus Xanthosoma. Keduanya memang masih berkerabat karena sama-sama termasuk famili Araceae.

Kimpul juga memiliki beragam nama lokal. Penyebutannya dapat berbeda di sejumlah daerah, antara lain bentul, enthik, atau nama lain yang merujuk pada jenis dan karakter tanaman setempat.

Karena itu, istilah “kimpul” di masyarakat tidak selalu digunakan dengan pengertian yang seragam.

Yang juga perlu diluruskan, kimpul bukan tanaman asli Jawa. Tanaman ini berasal dari kawasan tropis Amerika dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Meski demikian, kimpul telah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai pangan di berbagai daerah Indonesia.

  • Jenis Kimpul yang Dikenal

Dalam kajian botani, terdapat beberapa spesies Xanthosoma yang dimanfaatkan sebagai pangan. Dua yang cukup dikenal adalah Xanthosoma sagittifolium dan Xanthosoma violaceum.

Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Xanthosoma violaceum, misalnya, cenderung memiliki tangkai daun berwarna keunguan. Sedangkan Xanthosoma sagittifolium lebih banyak memiliki tangkai daun berwarna hijau.

Di tingkat masyarakat, pengelompokan kimpul juga dapat dilakukan berdasarkan warna, ukuran, maupun nama lokal.

kimpul umbi-umbian
(Gambar: istockphoto.com)
  • Apa Kandungan Gizi Kimpul?

Kimpul menarik perhatian dalam pembahasan pola makan sehat karena dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif.

Data yang dikutip Kementerian Pertanian menyebutkan 100 gram kimpul mengandung sekitar 28,66 gram karbohidrat, 2,81 gram protein, dan 0,08 gram lemak. Kimpul juga mengandung serat pangan.

Kandungan tersebut membuat kimpul dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan. Artinya, masyarakat tidak harus selalu mendapatkan sumber karbohidrat dari nasi.

Umbi-umbian seperti kimpul, singkong, ubi jalar, talas, dan berbagai pangan lokal lainnya dapat dikonsumsi secara bergantian sesuai kebutuhan.

Namun, kimpul tidak tepat jika disebut sebagai makanan “bebas karbohidrat”. Sebaliknya, umbi ini justru merupakan sumber karbohidrat. Daya tariknya terletak pada keberagaman sumber pangan dan kandungan seratnya.

  • Manfaat Kimpul untuk Healthy Lifestyle

Kandungan serat menjadi salah satu alasan kimpul menarik untuk dimasukkan dalam pola makan seimbang. Serat berperan dalam menjaga fungsi sistem pencernaan dan dapat membantu memberikan rasa kenyang.

Karbohidrat dalam kimpul juga dapat menjadi sumber energi bagi tubuh. Karena itu, kimpul dapat dikonsumsi sebagai bagian dari menu sehari-hari, misalnya dengan cara dikukus atau direbus dan dipadukan dengan lauk serta sayuran.

Meski begitu, jangan buru-buru menganggap kimpul sebagai makanan penurun berat badan atau obat untuk penyakit tertentu. Statusnya sebagai pangan sehat tetap bergantung pada porsi, cara pengolahan, dan makanan lain yang dikonsumsi dalam satu menu.

Kimpul yang digoreng dengan banyak minyak, misalnya, tentu memiliki karakter gizi berbeda dengan kimpul yang direbus atau dikukus. Begitu pula ketika kimpul diolah menjadi keripik dengan tambahan garam dan minyak.

  • Pangan Lokal Masuk Gaya Hidup Modern

Popularitas kimpul menunjukkan bahwa tren healthy lifestyle tidak selalu harus identik dengan bahan pangan impor atau makanan mahal.

Pangan lokal yang selama ini dianggap sederhana ternyata memiliki peluang untuk kembali populer ketika dikemas sesuai dengan selera konsumen masa kini.

Umbi-umbian seperti kimpul dapat diperkenalkan melalui menu yang lebih menarik, informasi kandungan gizi yang jelas, hingga kemasan modern.

Cara tersebut membuat generasi muda tidak hanya mengenal kimpul sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga melihat potensinya sebagai bagian dari pola makan yang lebih beragam.

Di tengah tren kembali ke makanan alami dan lokal, kimpul memiliki kesempatan untuk naik kelas.

Bukan karena harus diberi label sebagai “superfood”, melainkan karena masyarakat mulai menyadari bahwa pilihan makanan sehat dapat berasal dari bahan yang tumbuh di sekitar mereka.

Join saluran WhatsApp Jatengkita untuk update informasi seputar Jawa Tengah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *