Lezatnya Petolo Mayang, Kuliner Solo yang Semakin Langka

Lezatnya Petolo Mayang, Kuliner Solo yang Semakin Langka
(Gambar: viva.co.id)

Jatengkita.id – Solo memang terkenal sebagai kota yang penuh pesona budaya sekaligus surga kuliner tradisional. Dari sekian banyak sajian khasnya, ada satu jajanan legendaris yang sayang sekali untuk dilewatkan, yaitu Petolo Mayang.

Kudapan manis dengan tekstur lembut ini bukan hanya memanjakan lidah, tapi juga menyimpan kisah panjang di balik kehadirannya. Penasaran dengan keunikan, asal-usul, isian, hingga di mana bisa mencicipinya? Mari kita jelajahi bersama cerita menarik tentang Petolo Mayang khas Solo!

Keunikan Petolo Mayang

Keistimewaan Petolo Mayang ada pada rasa sekaligus tampilannya yang unik. Kudapan ini berbentuk mie keriting kecil berwarna hijau dan merah muda dari tepung beras, dipadukan dengan serabi mini, ketan srikaya, dan petolo itu sendiri.

Semuanya lalu disiram kuah santan dan gula merah cair yang gurih manis, berbeda dari putu mayang biasa yang hanya memakai gula merah. Kuah Petolo Mayang lebih encer dan kaya rasa, sehingga memberikan sensasi berbeda.

Menikmatinya bisa dengan cara hangat yang menenangkan, atau diberi tambahan es untuk rasa segar yang pas disantap siang hari. Kini, jajanan langka ini hanya bisa dijumpai di beberapa sudut Solo, membuatnya semakin istimewa sekaligus membangkitkan nostalgia di tengah gempuran kuliner modern.

Petolo Mayang
(Gambar: IDN Times)

Asal-Usul Petolo Mayang

Petolo Mayang sejatinya berasal dari Malang, Jawa Timur, namun justru lebih populer dan melekat sebagai kuliner khas di Solo. Kudapan manis ini mulai dikenal di Kota Bengawan sekitar 15 tahun lalu, dibawa oleh perantau asal Jawa Timur yang tetap menjaga resep turun-temurun keluarga mereka.

Hingga kini, keberadaan Petolo Mayang menjadi bukti bagaimana tradisi bisa beradaptasi dan tumbuh di tempat baru. Meski asal-usul pastinya belum tercatat dengan jelas, nama “Petolo Mayang” punya kisah menarik.

“Petolo” berasal dari panggilan akrab seorang penjual legendaris yang selama bertahun-tahun setia menjajakan jajanan ini di Solo. Sementara “Mayang” merujuk pada bentuknya yang menyerupai bunga kelapa muda.

Nama unik itu akhirnya melekat dan menjadi bagian penting dalam sejarah kuliner tradisional Solo. Sayangnya, meski penuh cerita, Petolo Mayang kini kian sulit ditemui, menjadikannya kuliner langka yang sarat nostalgia.

Tempat Menemukan Petolo Mayang

Karena tergolong kuliner langka, Petolo Mayang memang tidak mudah ditemui. Di Solo, hanya segelintir penjual yang masih setia melestarikan jajanan ini. Salah satunya adalah Pak Petolo, penerus generasi ketiga yang berjualan di depan Pura Mangkunegaran dan sekitar Pasar Triwindu.

Selain itu, ada juga penjual keliling yang biasanya bisa dijumpai di kawasan Jebres. Menariknya, meski sudah langka, harga Petolo Mayang tetap sangat ramah di kantong.

Dengan sekitar Rp5.000 saja, siapa pun bisa menikmati semangkuk kudapan manis dan gurih ini, sebuah cita rasa sederhana yang sarat makna sekaligus membawa nostalgia akan kuliner tradisional yang kian jarang dijumpai.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *