Jatengkita.id – Bulat, berlapis wijen, dengan isian manis di dalamnya onde-onde adalah salah satu jajanan pasar yang begitu akrab di lidah masyarakat Indonesia.
Namun apakah sebenarnya onde-onde berasal dari Indonesia?
Berasal dari Tiongkok
Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sejak ratusan tahun lalu melalui jalur perdagangan maritim. Pedagang Tionghoa membawa berbagai komoditas, termasuk bahan makanan dan resep kuliner.
Di Indonesia, camilan serupa jian dui dikenal sebagai onde-onde. Secara bentuk dan bahan dasar, keduanya memang sangat mirip: tepung ketan, wijen, dan isian manis.
Seiring waktu, resep tersebut beradaptasi dengan bahan lokal dan selera masyarakat setempat. Isian pasta kacang merah yang lazim di Tiongkok kemudian digantikan atau dipadukan dengan kacang hijau, yang lebih umum digunakan di Indonesia. Akulturasi ini mencerminkan proses panjang pertemuan budaya, bukan sekadar peniruan.

Jejak Sejarah Jian Dui di Tiongkok
Dalam tradisi kuliner Tiongkok, camilan berbentuk bola berlapis wijen dikenal dengan nama Jian Dui. Makanan ini telah ada sejak zaman Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-10).
Jian dui umumnya dibuat dari tepung ketan, diisi pasta kacang merah manis, kemudian digoreng hingga bagian luar mengembang dan renyah.
Di Tiongkok, jian dui sering disajikan saat perayaan tertentu, termasuk Tahun Baru Imlek. Bentuknya yang bulat dan mengembang melambangkan keberuntungan serta rezeki yang terus bertambah.
Secara teknik pembuatan, proses menggoreng adonan ketan hingga mengembang membutuhkan suhu minyak yang tepat. Ketika berhasil, bagian dalam akan membentuk rongga kosong yang khas, sementara lapisan wijen di luar menjadi renyah dan harum.
Perbedaan Onde-onde Indonesia dan Jian Dui
- Isian
Di Indonesia, onde-onde lebih sering diisi pasta kacang hijau manis. Sementara jian dui tradisional biasanya menggunakan pasta kacang merah.
- Tekstur
Onde-onde Indonesia cenderung memiliki tekstur lebih padat dan kenyal, sedangkan jian dui sering kali lebih ringan dengan rongga besar di bagian dalam.
- Variasi Modern
Onde-onde kini memiliki banyak varian rasa seperti cokelat, keju, bahkan matcha. Inovasi ini menunjukkan perkembangan kuliner lokal yang dinamis.
Di beberapa daerah Indonesia, nama dan bentuk onde-onde juga bisa berbeda. Di Mojokerto, Jawa Timur, onde-onde bahkan menjadi ikon daerah dan diproduksi dalam ukuran lebih besar dibanding versi jajanan pasar biasa.
Onde-onde dalam Tradisi Indonesia
Di Indonesia, onde-onde bukan hanya camilan biasa. Ia sering hadir dalam hajatan, pasar tradisional, hingga acara keluarga. Kehadirannya di antara jajanan pasar lain seperti klepon, kue lapis, dan nagasari menegaskan posisinya sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara.
Popularitasnya terus bertahan karena rasanya yang familiar dan proses pembuatannya yang relatif sederhana. Kombinasi kulit kenyal, isian manis, dan taburan wijen gurih menjadikannya camilan yang disukai lintas generasi.
Mitos atau Fakta Asal-Usulnya?
Jika ditelusuri secara historis, kemiripan teknik dan bahan menunjukkan bahwa onde-onde Indonesia kemungkinan besar terinspirasi dari jian dui Tiongkok. Namun, setelah melalui proses adaptasi panjang, onde-onde telah menjadi bagian dari identitas kuliner Indonesia.
Seperti banyak makanan lain di dunia, sulit menentukan klaim kepemilikan secara mutlak. Kuliner adalah hasil perjalanan panjang budaya manusia.
Yang jelas, baik jian dui maupun onde-onde sama-sama memiliki nilai sejarah dan makna simbolis dalam tradisinya masing-masing.
Baca juga: Fakta Menarik Gemblong, Jajanan Tradisional dari Ketan






