Jatengkita.id – Nama Lawang Sewu akan terus kembali menjadi perbincangan setiap kali kisah misteri bangunan tua peninggalan Belanda di Semarang ini diangkat ke publik. Salah satu kejadian viral yang paling melekat di ingatan masyarakat adalah tayangan uji nyali di televisi swasta yang pada kala itu pernah menyoroti lorong bawah tanah Lawang Sewu.
Dalam acara tersebut, seorang peserta diminta bertahan sendirian di lorong gelap selama berjam-jam, sebelum akhirnya menyerah karena mengaku melihat penampakan berupa sosok bayangan putih di ujung lorong.
Sejak itu, banyak mitos dan misteri bemunculan yang sebagian dipercaya oleh masyarakat setempat. Sekilas, lorong bawah tanah Lawang Sewu memang tampak menyeramkan. Ruangannya gelap, sempit, dan terasa pengap.
Namun di balik kesan horor itu, lorong ini sejatinya memiliki fungsi penting di masa kolonial. Lorong bawah tanah tersebut dibangun sebagai saluran drainase sekaligus sistem pendingin alami bangunan, mengingat kondisi Semarang yang panas dan dekat dengan kawasan pesisir.
Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu
Tak hanya berfungsi sebagai saluran air, lorong bawah tanah Lawang Sewu juga diyakini terhubung dengan sejumlah bangunan tua lain di Semarang, termasuk kawasan Kota Lama. Jarak antara Lawang Sewu dan Kota Lama sendiri mencapai sekitar 4–5 kilometer.
Meski begitu, lorong-lorong ini tidak dibuka bebas untuk umum karena kondisinya yang gelap, lembap, serta dikhawatirkan mengandung gas berbahaya.
Akses menuju lorong bawah tanah sempat ditutup karena tangga menuju area tersebut mengalami kerusakan dan harus direnovasi. Pada masa tertentu, pengunjung masih diperbolehkan merasakan sensasi menyusuri lorong ini.

Tinggi lorong rata-rata kurang dari dua meter, bahkan di beberapa bagian pengunjung harus membungkuk. Bagian dasar lorong pun hampir selalu tergenang air, sehingga pengunjung diwajibkan mengenakan sepatu bot demi keamanan.
Air di lorong bawah tanah ini jarang sekali benar-benar kering. Kondisi lembap menjadi ciri khasnya, kecuali pada musim kemarau ekstrem ketika sebagian air bisa menguap. Inilah yang semakin memperkuat kesan dingin dan suram di dalam lorong.
Misteri lorong bawah tanah Lawang Sewu semakin kelam ketika Jepang menduduki Semarang. Pada masa itu, ruang bawah tanah yang sebelumnya hanya difungsikan sebagai drainase, diubah menjadi penjara.
Para tahanan, baik dari pribumi maupun warga Belanda, dikurung di ruang sempit dengan kondisi tidak manusiawi di sana.
Terdapat dua jenis ruang tahanan yang dikenal, yakni penjara jongkok dan penjara berdiri. Penjara jongkok berbentuk bak setinggi sekitar 50 sentimeter, di mana tahanan dipaksa jongkok dan direndam air hingga leher sebelum ditutup teralis besi.
Sementara penjara berdiri hanya berukuran sekitar satu meter persegi, diisi 7–8 orang yang harus berdiri berhimpitan. Penjara ini bukan untuk menahan, melainkan menyiksa hingga para tahanan meninggal dunia, lalu jasadnya dibuang ke sungai di belakang Lawang Sewu.
Wisata Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu
Kini, ruang bawah tanah Lawang Sewu kembali dibuka sebagai bagian dari wisata sejarah dengan nama Kelderverkenning. Untuk mengikuti tur ini, pengunjung dikenakan tiket sekitar Rp50.000 per orang dan wajib didampingi pemandu.
Penggunaan alat pelindung diri seperti helm dan rompi juga diwajibkan. Namun, tidak semua orang diperbolehkan masuk, melainkan hanya pengunjung berusia 13 hingga 60 tahun dengan kondisi fisik dan mental sehat.
Mereka yang memiliki fobia ruang sempit, penyakit jantung, gangguan pernapasan, atau sedang hamil tidak disarankan mengikuti tur ini.
Dibuka kembali setelah sempat ditutup pada 2014, ruang bawah tanah Lawang Sewu kini menjadi destinasi wisata sejarah yang sarat cerita. Beragam mitos pun masih menyelimuti tempat ini, mulai dari kisah penyiksaan, penampakan makhluk gaib, hingga kabar lorong yang konon tembus ke Laut Jawa.
Perpaduan antara sejarah kelam dan legenda inilah yang membuat misteri lorong bawah tanah Lawang Sewu terus memancing rasa penasaran hingga sekarang.
Baca juga: Kembali Dibuka! Menyingkap Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu






