Jatengkita.id – Di Jawa Tengah, kita memiliki budaya dan warisan jalan rusak. Kondisi ini telah menjadi sebuah simbol ketahanan, kreativitas, bahkan termasuk dalam kearifan lokal yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Dapat dibayangkan jika jalanan yang kita miliki terlalu mulus tanpa cela? Mau di mana lagi kita dapat mengasah skil berkendara yang menguji nyali secara percuma? Seluruh pengemudi telah dilatih sejak dini untuk mengasah keterampilan tersebut.
Mereka menghindari jebakan-jebakan batman tanpa perlu membayar kursus mengemudi profesional. Bahkan, banyak pengendara yang teruji secara nyata telah mencapai level mahir dalam berjalan secara zig-zag untuk menghindari lubang. Ala-ala tes untuk mendapatkan SIM bukan?

Jalan yang berlubang rupanya turut berkontribusi pada perekonomian warga sekitar. Sebut saja bengkel yang menyediakan layanan tambal ban. Ada juga industri shockbreaker yang telah memiliki pelanggan setia gara-gara jalan rusak.
Selain itu, puskesmas dan dokter umum juga bisa mendapat pasien untuk mengobati luka akibat beberapa kecelakaan karena jalan rusak.
Baca juga : Kenali Perbedaan Status Jalan Nasional, Provinsi, dan Kabupaten
Masyarakat Jawa Tengah sejatinya sudah dibiasakan dengan kondisi jalan rusak yang bisa mengupgrade keterampilan berkendara. Itulah kenapa jalan rusak ini disebut sebagai warisan karena memang kondisinya dari dulu begitu-begitu saja.
Perbaikannya tak pernah menyeluruh. Artinya, ketika area yang rusak diperbaiki, giliran area lain yang mengalami kerusakan.
Selain jalan berlubang, ada juga jenis jalan aneh yang di desa-desa masih banyak ditemukan, yaitu jalan tengah yang rusak.

Jalan cor yang menyisakan bagian tengah masih jelek, biasanya hanya diratakan dengan batu. Bisa membayangkan betapa repotnya mobil yang melintas? Belum lagi jika harus berlawanan arah dengan kendaraan lain. Wajar saja jika prasangka kita mengarah pada kemana alokasi dana perbaikan jalan?
Selanjutnya, ada jalan bergelombang. Kondisi ini disebabkan karena medan geologinya tidak rata. Jalannya memang tidak ada lubang, tapi tetap harus berhati-hati saat berkendara.
Dari warisan jalan rusak ini, warga dituntun untuk menyabari keadaan. Keluhan akan diabaikan. Jalanan rusak di Jawa Tengah memang sudah sangat dikenal warga hingga luar provinsi. Mereka kerap membandingkan kesenjangan itu.
Sampai kapan stigma jalan rusak akan terus melekat di Jateng?
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

