Grebeg Rotan merupakan salah satu event rutin yang diselenggarakan di Desa Wisata Trangsan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo. Sampai di April 2019 festival Budaya ini sudah diselenggarakan ke empat kalinya. Namun karena Pandemi pada tahun 2020 hingga 2021 tidak diselenggarakan sesuai anjuran dari pemerintah.
Pagelaran budaya ini bertujuan mengangkat pamor kerajinan rotan kepada masyarakat maupun pelaku usaha, yang mana menampilkan kirab dan pameran budaya dengan menggunakan rotan. Pawai budaya ini menjadi momentum untuk meningkatkan dan membangkitkan industri rotan Trangsan. Rotan pernah menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat di Desa Trangsan. Selain itu juga dapat meningkatkan geliat pasar dalam negeri. Selama ini pangsa pasar rotan desa Trangsan sudah di ekspor ke luar negeri. Selan itu Industri rotan di Desa Trangsan ini, bukan hanya faktor ekonomi, namun juga budaya yang diturunkan sejak lama.

Puncak Grebeg Penjalin adalah kirab budaya yang melibatkan 20 komunitas seni dan budaya. Mereka bakal berjalan kaki sepanjang 1,5 kilometer sembari membawa lima gunungan berisi berbagai produk kerajinan rotan. Ikon Grebeg Penjalin IV 2019 lalu adalah bola takraw raksasa yang dipajang di depat panggung utama. Ada juga tiga sepeda unik dan raksasa karya para mahasiswa Institur Seni Indonesia [ISI] Solo yang ikut memeriahkan kirab budaya.
Grebek Rotan diawali karnaval budaya dengan menghadirkan sejumlah 190 perajin rotan aktif dan 3.000-an warga Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo. Seusai karnaval dilanjutkan launching showroom kerajinan rotan oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya. Rute karnaval sekitar 1,8 kilometer hingga dua kilometer.

Dalam karnaval itu ada replika Ki Demang Wongso Laksono pendiri Desa Trangsan, gunungan penjalin, duta wisata, masyarakat penjalin, 610 pemain holahop, gendhuk thole, dan dimeriahkan drumben anak sekolah,” katanya.
Kirab Budaya ini juga bertujuan mengembalikan kelestarian kerajinan rotan di Desa Trangsan. Kini, masyarakat Desa Trangsan mulai menyadari kerajinan rotan sebagai mata pencaharian. Penghasil rotan terbesar di Jawa Tengah salah satunya adalah di desa Trangsan.
Di Provinsi Jawa Tengah ada dua sentra kerajinan rotan yakni Jepara dan Trangsan, Sukoharjo, sedangkan di Indonesia sentra pengrajin rotan terbesar ada di Cirebon, Jabar, dan Sidoharjo, Jatim. Produksi terbesar rotan di Trangsan, Sukoharjo, tetapi seiring perkembangan waktu, nama Trangsan sebagai penghasil rotan mulai memudar tetapi tiga tahun terakhir mulai bangkit lagi.
Pasar lokal juga menjadi incaran produsen, sehingga desa Trangsan dijadikan Desa Wisata Rotan dan dibangun eduwisata bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo. Ketua panitia, Suryanto, menambahkan keberadaan eduwisata dimaksudkan mengenalkan industri lokal kepada generasi penerus.
Festival rotan diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali industri rotan di Trangsan. Seperti festival di tahun 2019 lalu, Festival rotan menjadi peristiwa budaya berkreasi baru yang sengaja menciptakan dan menumbuhkan semangat kerja dan daya cipta serta kreativitas segenap pelaku industri mebel rotan di Desa Trangsan. Ada 30 stan dan 100-an perajin terlibat dalam pameran.






