Jatengkita.id – Di Kudus, Jawa Tengah, ada sebuah desa yang seolah menyimpan potongan sejarah dari berbagai penjuru dunia. Desa Wisata Janggalan namanya.
Destinasi ini dikenal dengan julukan “Jerusalem van Java”, berkat kekayaan warisan budayanya dan jejak berbagai peradaban yang masih terlihat dalam arsitektur serta kehidupan masyarakatnya hingga kini.
Mengapa Dijuluki Jerusalem van Java?
Julukan “Jerusalem van Java” tentu bukan sekadar nama. Di Janggalan, terdapat jejak empat peradaban, yaitu Jawa-Hindu, Jawa-Arab, Jawa-Cina, dan Jawa-Eropa. Peradaban tersebut berpadu dalam wajah desa dan meninggalkan warisan arsitektur yang menarik untuk ditelusuri.
Jejaknya dapat ditemukan pada rumah-rumah joglo dengan ukiran khas, masjid-masjid tua, hingga makam Mbah Djenggolo yang masih mempertahankan bentuk aslinya.
Berjalan menyusuri Janggalan pun terasa seperti membuka lembar demi lembar cerita masa lalu yang masih hidup di tengah pemukiman warga.
Warisan yang masih terjaga inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan Janggalan untuk berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Baca juga: Benarkah Presiden Akan Lengser Bila Kunjungan ke Kudus?
Potensinya tidak hanya menawarkan sesuatu untuk dilihat, tetapi juga menghadirkan pengalaman untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kudus.
Melihat kekayaan tersebut, upaya untuk memperkenalkan sekaligus menjaga warisan Janggalan mulai mendapat perhatian lebih besar. Langkah itu kemudian diwujudkan melalui penetapan Janggalan sebagai desa wisata rintisan.
Pada 10 November 2021, Bupati Kudus HM Hartopo menetapkan Janggalan bersama tiga desa lainnya, yaitu Kauman, Karangampel, dan Kedungdowo sebagai desa wisata rintisan.
Lokasi Strategis di Jantung Kota Kudus
Berada di jantung Kota Kudus, Desa Janggalan memiliki letak yang strategis bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat wajah sejarah kota ini. Letaknya di Kecamatan Kota, tak jauh dari kompleks wisata religi Menara Kudus yang hampir selalu ramai oleh wisatawan.
Kedekatan tersebut membuat Janggalan mudah disambangi, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Dari kawasan Menara Kudus, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menyusuri Janggalan untuk menemukan sisi lain Kudus.
Jjejak sejarah, bangunan berusia puluhan hingga ratusan tahun, serta tradisi dan kehidupan masyarakat yang masih terjaga dapat dijumpai di sini.

Daya Tarik Wisata yang Menggugah Rasa Penasaran
Berada di Janggalan berarti memberi diri kesempatan untuk menikmati Kudus dari sisi yang lebih dekat. Bukan hanya melihat peninggalan sejarah, pengunjung juga diajak berinteraksi dengan budaya dan kehidupan masyarakat melalui berbagai aktivitas yang ditawarkan.
Perjalanan dapat dimulai dengan menyusuri kawasan heritage, melihat bangunan kolonial Belanda yang masih bertahan hingga kini, termasuk salah satunya yang telah dialihfungsikan menjadi klinik kecantikan.
Rumah adat Kudus yang masih terawat juga menjadi bagian menarik dari perjalanan. Hal ini memperlihatkan kekayaan arsitektur yang menjadi identitas kawasan ini.
Bagi yang ingin mencoba kegiatan yang lebih interaktif, membatik bisa menjadi pilihan. Pengunjung dapat belajar membuat batik secara langsung dengan motif-motif yang memiliki sentuhan khas daerah.
Aktivitas ini sekaligus mengenal proses dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setelah puas menjelajah, perjalanan bisa dilanjutkan dengan mencicipi kuliner tradisional. Nasi jangkrik, lapis jenggolo, dan berbagai penganan lokal menawarkan cita rasa khas yang turut menjadi bagian dari cerita budaya Janggalan.
Sementara bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi spiritual dan sejarahnya, ziarah budaya dapat menjadi pengalaman tersendiri.
Baca juga: Pesona Agrowisata Desa Getassrabi Kudus
Makam Mbah Djenggolo dan masjid tua di kawasan ini menjadi bagian dari jejak perkembangan Islam di Jawa yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Di Janggalan, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Sholawatan Mataram, tari tradisional, hingga kerajinan perak terus dirawat dan diwariskan.
Tradisi yang tetap hidup inilah yang membuat Janggalan memiliki daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sejarah, tetapi juga dapat merasakan budaya yang masih tumbuh di tengah masyarakat
Potensi Ekonomi dan Kreativitas Warga
Seiring berkembangnya Janggalan sebagai desa wisata, geliat ekonomi kreatif di tengah masyarakat pun ikut tumbuh.
Warga mulai memanfaatkan potensi desa dengan menghadirkan homestay, jasa pemandu wisata lokal, hingga berbagai produk kerajinan dan kuliner khas yang dapat dibawa pulang sebagai buah tangan.
Perkembangan ini membuka ruang bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut mengambil bagian dalam menghidupkan desa.






