Jatengkita.id – Planetarium UIN Walisongo yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah, dikenal luas sebagai planetarium terbesar di Indonesia sekaligus Asia Tenggara. Berdasarkan data WorldWide Planetarium, fasilitas ini bahkan tercatat sebagai planetarium universitas terbesar ketiga di dunia.
Hal ini menjadikannya ikon kebanggaan nasional dalam bidang edukasi dan wisata astronomi. Dengan kubah raksasa berdiameter sekitar 18 meter, ukurannya hanya sedikit lebih kecil dibanding planetarium terbesar di dunia yang mencapai diameter 20 meter.
Luas ini mampu menghadirkan pengalaman visual yang imersif dan spektakuler. Keberadaan Planetarium UIN Walisongo tidak hanya difungsikan sebagai sarana akademik bagi civitas kampus, tetapi juga dibuka untuk masyarakat umum.
Planetarium ini menjadi destinasi wisata edu-astronomi dan wisata religi berbasis sains. Pengunjung dapat menikmati berbagai program menarik, mulai dari pemutaran film dokumenter bertema astronomi, simulasi pergerakan benda langit, hingga penjelasan fenomena alam seperti gerhana, peredaran planet, dan sistem tata surya.
Seluruh pertunjukan disajikan dengan teknologi proyeksi modern yang mampu menampilkan simulasi langit malam secara realistis dan memukau.
Dibangun dengan empat lantai dan kapasitas ruang pertunjukan hingga 190 orang, planetarium ini memiliki fungsi ganda sebagai planetarium sekaligus observatorium.
Artinya, selain sebagai tempat edukasi dan rekreasi, fasilitas ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan pengamatan astronomi. Salah satu daya tarik utamanya adalah simulasi rukyatul hilal yang sempat viral dan sering diberitakan di berbagai media massa.

Simulasi ini dapat dinikmati oleh pengunjung dengan visual yang sangat jelas, bahkan tanpa memerlukan kacamata khusus. Keunggulan inilah yang menjadikannya cocok untuk wisatawan dari berbagai kalangan usia.
Planetarium UIN Walisongo juga dilengkapi dengan tiga jenis teropong unggulan. Pertama, teropong besar untuk mengamati objek langit dalam (deep sky object). Kedua, teropong khusus hilal yang dirancang untuk melihat kemunculan bulan sabit.
Dan ketiga, teropong matahari untuk pengamatan aktivitas surya. Fasilitas ini memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata karena pengunjung tidak hanya melihat visual simulasi, tetapi juga memahami proses ilmiah di balik pengamatan antariksa.
Tak heran jika planetarium terbesar di Asia Tenggara ini kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan penting berskala nasional maupun internasional.
Pada tahun 2022, Planetarium UIN Walisongo menjadi salah satu destinasi kunjungan delegasi forum Halal 20 (H20) yang dihadiri perwakilan lembaga halal dari sekitar 40 negara.
Para delegasi disuguhkan pertunjukan bertajuk A Journey to Milky Way yang menampilkan keindahan galaksi Bima Sakti secara imersif. Di tahun yang sama, planetarium ini juga dipercaya sebagai lokasi pengamatan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan.
Dengan fasilitas lengkap, teknologi canggih, jadwal pertunjukan yang variatif, serta harga tiket yang relatif terjangkau, Planetarium UIN Walisongo Semarang menjadi destinasi edukatif yang sangat direkomendasikan.
Tempat ini tidak hanya menawarkan pengalaman wisata yang berkesan, tetapi juga membuka wawasan pengunjung tentang astronomi, sains, dan kebesaran alam semesta, menjadikannya alternatif wisata keluarga dan pelajar yang bernilai edukatif tinggi di Jawa Tengah.
Baca juga: Mitos Gerhana Bulan pada Masyarakat Jawa dan Bagaimana Menyikapinya






