Jatengkita.id – Fenomena drama pendek atau short drama asal China, yang akrab disebut “dracin” (drama China) kini tengah melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Lonjakan konsumsi konten super singkat ini tidak lagi sekadar tren hiburan digital, tetapi berubah menjadi industri bernilai miliaran dolar yang menata ulang peta persaingan platform video-on-demand (VOD).
Bahkan, sebagian kalangan menyebut fenomena ini sebagai “wabah digital baru” yang memengaruhi pola konsumsi, kebiasaan menonton, hingga kondisi psikologis masyarakat.
Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company memperlihatkan bagaimana demam dracin tumbuh sangat cepat dan hampir tidak terduga.
Format video vertikal dengan durasi 3–8 menit per episode atau bahkan hanya 60–120 detik saja tiba-tiba menjadi konten paling agresif yang mendominasi aplikasi, media sosial, hingga strategi pemasaran digital.
Fenomena ini bukan hanya soal hiburan cepat. Di balik layar, terdapat dinamika industri, mekanisme psikologis, strategi bisnis ultra-efisien, hingga agenda besar soft power Tiongkok yang disisipkan melalui konten digital.
Di tengah kenyamanan menonton, publik perlu memahami bagaimana drama China membentuk pola konsumsi media, potensi kecanduan, akulturasi budaya, dan risiko menurunnya konsentrasi akibat banjir konten berformat cepat.
Artikel ini mengulas lengkap fenomena dracin dari berbagai sisi, seperti data ekonomi, strategi pemasaran, analisis psikologi sosial, dampak budaya, hingga kekhawatiran para ahli tentang perubahan perilaku masyarakat Indonesia.
Lonjakan Drastis Unduhan Aplikasi Drama Pendek
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025, aplikasi short drama menunjukkan peningkatan eksplosif sepanjang paruh pertama 2025. Kontribusinya terhadap total unduhan aplikasi VOD naik tajam menjadi 56%, dari sebelumnya hanya 31% pada periode yang sama di 2024.
Angka tersebut menunjukkan pergeseran signifikan dari platform streaming konvensional menuju format tontonan ultra-ringan dan cepat.
Pertumbuhan unduhan aplikasi short drama tercatat mencapai 120% secara year-on-year, menjadikannya salah satu segmen paling agresif di ekosistem hiburan digital Asia Tenggara.
Tidak hanya dari sisi instalasi, pangsa pengguna aktif aplikasi dracin melonjak dari 5% menjadi 17%, atau naik 200% YoY. Pertumbuhan ini menempatkan aplikasi short drama sebagai “kuda hitam” yang menantang dominasi platform raksasa global seperti Netflix, Disney+ Hotstar, dan Amazon Prime Video.
Fenomena tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh pemain lokal dan Tiongkok yang memproduksi dracin dalam jumlah besar. Biaya produksinya jauh lebih murah dibanding serial panjang atau film, tetapi mampu menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Format ini juga cocok dengan kebiasaan konsumsi digital masyarakat Asia Tenggara yang cenderung mobile-first dan memiliki durasi perhatian pendek. Di tengah padatnya aktivitas, drama China menjadi hiburan cepat yang mudah dinikmati kapan saja di angkutan umum, saat menunggu, atau di sela-sela pekerjaan.
Banjir Iklan di Media Sosial, Mesin Utama Penyebaran Drama China
Laporan penggunaan platform media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube Shorts, dan X memperlihatkan kenaikan signifikan dalam iklan dracin. Potongan adegan berdurasi 5–10 menit muncul hampir setiap saat, menampilkan konflik emosional intens yang memicu rasa penasaran.
Strategi pemasaran ini dikenali sebagai hook advertising, yakni menampilkan konten gratis di momen paling klimaks untuk memaksa penonton mengunduh aplikasi lanjutan seperti Dramabox, Flex TV, ReelShort, ShortMax, GoodShort, dan puluhan platform lain yang kian bermunculan.
Seluruh mekanisme ini dirancang untuk membuat penonton lengah. Tanpa sadar, mereka terseret dalam cerita, mengalami penasaran akut, lalu rela membayar untuk menonton kelanjutan episode yang diputus secara sengaja di titik paling emosional.
Model monetisasi yang digunakan pun semakin fleksibel: iklan (ad-supported), pembelian token, hingga paket berlangganan ultra-singkat seperti harian atau mingguan.
Industri Bernilai Triliunan, Mesin Uang Baru Tiongkok
Data iiMediaResearch mencatat bahwa pasar short drama China mencapai nilai 37,39 miliar yuan pada 2023, atau sekitar 5,26 miliar dolar AS.
Bagi produsen di China, dracin adalah bisnis berskala industri. Setiap episodenya produksi murah banyak dibuat hanya dalam waktu 3–7 hari namun keuntungan yang dihasilkan berlipat-lipat dari penjualan token, iklan, dan langganan aplikasi.
Model kerja seperti ini disebut sebagai industrialized storytelling, yaitu produksi cerita secara massal, cepat, dan efisien sesuai selera pasar. Skenario disederhanakan, konflik diperbanyak, dan drama dipadatkan agar bisa dinikmati dalam waktu singkat tetapi tetap memancing emosi.
Format vertikal ikut menekan biaya produksi karena tidak memerlukan alat sinema profesional. Banyak yang hanya dibuat menggunakan smartphone kelas atas, ring light, dan set sederhana seperti apartemen sewaan atau studio kecil.
Mengapa Drama China Bisa Sangat Adiktif? Penjelasan Psikologi Sosial
Dalam konteks tontonan, masyarakat era digital cenderung memilih konten cepat selesai, langsung ke konflik, dan memberikan stimulus emosional intens dalam waktu singkat. Mekanisme ini mendorong pelepasan dopamin berulang, sehingga penonton merasa “harus” terus melanjutkan episode berikutnya.
Sedangkan dari perspektif sosial, dracin memenuhi kebutuhan konformitas terhadap tren media sosial. Ketika aplikasi short drama dibicarakan di TikTok atau Instagram, pengguna lain terdorong untuk menonton agar tidak ketinggalan fenomena populer.

Strategi Pemasaran, Gratis di Awal, Berbayar di Tengah Jalan
Salah satu strategi paling efektif adalah penyajian episode awal secara gratis. Konten teaser biasanya menampilkan adegan pemancing emosi yang dirancang sebagai titik hook.
- tokoh utama dikhianati pasangan,
- ibu tiri kejam melakukan konspirasi,
- pria kaya jatuh cinta pada gadis miskin,
- konflik keluarga besar yang sengaja diputus di momen klimaks
Setelah titik tensi mencapai puncaknya, episode gratis berakhir mendadak. Untuk melanjutkan, penonton harus masuk ke aplikasi berbayar.
Strategi ini memanfaatkan kelemahan psikologis manusia terhadap cliffhanger. Penonton merasa tidak puas jika meninggalkan cerita di puncak ketegangan, sehingga akhirnya memilih membayar.
Beberapa platform bahkan menerapkan sistem “per episode bayar”, sehingga untuk menyelesaikan satu drama terdiri dari puluhan episode, pengguna harus merogoh kocek berkali-kali.
Konten yang Telah Disaring Pemerintah China
Fenomena dracin tidak bisa dilepaskan dari regulasi ketat di Tiongkok. Pemerintah melalui NRTA (National Radio and Television Administration) menyensor ribuan seri pendek yang dianggap vulgar, berlebihan, atau bertentangan dengan moral negara.
Sebaliknya, pemerintah mendorong rumah produksi untuk membuat cerita yang mempromosikan nilai budaya dan moral Tiongkok, seperti kesetiaan kepada keluarga, kerja keras sebagai jalan menuju kesuksesan, penghormatan terhadap orang tua, nasionalisme dan nilai kolektivisme.
Bahkan, ada rencana khusus untuk memproduksi video pendek yang menyisipkan ideologi politik Presiden Xi Jinping sebagai bagian dari strategi soft power digital. Dengan kata lain, dracin bukan hanya komoditas hiburan, tetapi juga kanal penyebaran nilai yang bersifat halus dan tidak terasa.
Risiko Akulturasi Budaya, Teori Kultivasi George Gerbner
Dalam teori Cultivation (George Gerbner, 1967), paparan media yang berulang dapat membentuk persepsi audiens terhadap realitas sosial.
Ketika masyarakat Indonesia terus-menerus terpapar narasi dan nilai dari Tiongkok, tanpa disadari mereka akan menganggap nilai tersebut sebagai sesuatu yang normal dan wajar.
Hal yang yang disajikan dalam dracin berasal dari budaya Tiongkok, bukan budaya Indonesia. Jika dikonsumsi tanpa filter kritis, masyarakat dapat terseret dalam akulturasi nilai secara pasif.
Dampak Kognitif, Rentang Konsentrasi Mengalami Penurunan
Konsumsi konten super cepat secara berlebihan berpotensi mengganggu rentang fokus (attention span). Kebiasaan menonton dracin secara terus-menerus dapat memengaruhi kemampuan memusatkan perhatian pada aktivitas lain seperti membaca, belajar, atau bekerja.
Peneliti media menyebut fenomena ini sebagai fast-content fatigue, yaitu kondisi ketika otak terbiasa pada impuls cepat sehingga tidak lagi sanggup bertahan pada konten yang lebih lambat. Hal ini terbukti meningkatkan kecenderungan multitasking yang justru menurunkan produktivitas.
Risiko Kesehatan Mental, Kecemasan dan Ketergantungan Hiburan
Menurut sejumlah psikolog, kecanduan binge-watching dapat memicu kecemasan ketika tidak bisa menonton kelanjutan episode. Kemudian, rasa gelisah karena menunggu update drama, insomnia akibat menonton hingga larut malam, rasa kosong setelah serial selesai (post-series blues).
Tantangan bagi Industri Lokal
Ledakan drama China membuat industri konten lokal Indonesia menghadapi tantangan besar. Biaya produksi drama Indonesia jauh lebih tinggi, durasi lebih panjang, dan proses kreatif lebih kompleks. Hal ini membuat konten lokal kalah cepat dan kalah murah dibanding dracin.
Untuk bersaing, kreator lokal mulai membuat proyek drama vertikal, namun jumlahnya masih sangat terbatas.
Tantangan terbesar ada pada pendanaan, sumber daya manusia, dan strategi pemasaran. Namun, peluangnya terbuka lebar jika pelaku industri mampu beradaptasi dengan format dan selera baru penonton.






