Jatengkita.id – Kapal Borobudur, demikian ia dikenal, bukan sekadar replika biasa, melainkan hasil rekonstruksi dari relief abad ke-8 dan ke-9 yang terpahat di dinding candi.
Dari pahatan batu itu, terungkap bahwa masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, telah memiliki teknologi pelayaran yang maju sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Relief kapal di dinding candi Buddha terbesar di dunia itu selama berabad-abad hanya menjadi bagian dari ornamen.
Namun bagi para peneliti, ukiran tersebut menyimpan cerita besar: tentang pelaut, perdagangan, dan kemampuan teknologi masyarakat Jawa kuno. Dari sanalah lahir gagasan untuk menerjemahkan batu menjadi kayu, sejarah menjadi kenyataan.
Dari Relief Sunyi ke Kapal Nyata
Kapal Borobudur merupakan rekonstruksi dari kapal layar bercadik ganda yang tergambar dalam relief abad ke-8 hingga ke-9. Bentuknya unik cadik tidak sepanjang lambung, layar tanja yang miring, serta tiang bipod dan tripod yang menopang layar.
Di bagian depan terdapat tiang cucur, sementara di sisi kapal terlihat galeri pendayung, tempat awak menggerakkan kapal ketika angin tak bersahabat.
Detail lain tak kalah menarik: rumah atas sebagai ruang berlindung, ukiran mata di haluan, serta kemudi samping yang mengatur arah.
Sebagian kapal dalam relief bahkan digambarkan memiliki 6 hingga 9 dayung. Semua ini menunjukkan bahwa kapal tersebut bukan sekadar alat transportasi sederhana, melainkan kapal laut yang dirancang untuk perjalanan jauh.
Ciri-ciri ini sekaligus menegaskan identitasnya sebagai teknologi lokal Nusantara. Berbeda dengan kapal India atau Tiongkok, kapal Borobudur menggunakan cadik dan layar tanja, dua elemen khas Asia Tenggara.
Fakta ini membantah anggapan lama yang menyebut kapal dalam relief tersebut berasal dari luar. Justru, masyarakat Jawa telah menjadi pelaut handal sejak milenium pertama Masehi.
Meluruskan Sejarah yang Sempat Kabur
Sejarah kapal Borobudur tidak lepas dari berbagai kesalahpahaman. Ada yang menganggap kapal tersebut berasal dari India, seiring kuatnya pengaruh budaya India di Nusantara.
Ada pula yang mengaitkannya dengan Sriwijaya atau bahkan Majapahit. Namun, bukti-bukti justru menunjukkan sebaliknya.
Catatan Sriwijaya hanya menyebut perahu sederhana seperti sampan, sementara kapal besar bercadik seperti Borobudur tidak ditemukan dalam sumber tersebut. Adapun kapal utama Majapahit seperti jong tidak menggunakan cadik.

Fakta bahwa kapal ini hanya tergambar di Borobudur yang merupakan peninggalan Jawa semakin memperkuat bahwa kapal ini adalah produk budaya maritim Jawa kuno.
Narasi ini penting, bukan sekadar untuk meluruskan sejarah, tetapi juga untuk mengembalikan kepercayaan diri terhadap kemampuan leluhur bangsa.
Bahwa jauh sebelum teknologi modern berkembang, masyarakat Nusantara telah mampu menciptakan kapal yang sanggup menjelajah samudra luas.
Ekspedisi yang Membungkam Keraguan
Kisah Kapal Borobudur mencapai puncaknya pada tahun 2003, ketika kapal ini benar-benar mengarungi lautan. Diinisiasi oleh Philip Beale, proyek rekonstruksi ini melibatkan Nick Burningham sebagai desainer, serta pengrajin tradisional As’ad Abdullah dari Pulau Kangean.
Dengan menggunakan 125 meter kubik kayu lokal seperti jati, ulin, dan bungor, kapal sepanjang 18,29 meter itu dibangun tanpa paku atau besi. Hanya dalam waktu empat bulan enam hari, kapal selesai menghidupkan kembali teknik pembuatan kapal tradisional yang hampir terlupakan.
Ekspedisi pun dimulai. Dilepas oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, kapal berlayar menyusuri jalur perdagangan kuno yang dikenal sebagai “The Cinnamon Route”. Rute ini diyakini sebagai jalur pelaut Nusantara menuju Afrika pada masa lampau.
Perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Ombak besar, badai, dan ganasnya Tanjung Harapan menjadi ujian berat. Namun, kapal tetap bertahan.
Setelah menempuh sekitar 11.000 mil laut selama enam bulan, Kapal Borobudur akhirnya tiba di Accra, Ghana, pada Februari 2004. Hebatnya, tidak ada kerusakan signifikan pada struktur kapal selama pelayaran.
Keberhasilan ini menjadi jawaban atas keraguan banyak pihak. Bahkan, di awal perencanaan, ekspedisi ini sempat dianggap mustahil, termasuk oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Minimnya dukungan sponsor dalam negeri semakin menambah tantangan. Namun pada akhirnya, kapal ini justru membuktikan bahwa teknologi kuno Nusantara mampu bersaing dengan kondisi laut modern.
Kini, Kapal Borobudur berlabuh tenang di Museum Samudraraksa. Di sana, ia tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga ruang refleksi. Pengunjung dapat melihat langsung kapal, memahami proses pembuatannya, serta mengikuti jejak pelayaran bersejarahnya.
Lebih dari sekadar artefak, Kapal Borobudur adalah cerita tentang keberanian, pengetahuan, dan identitas. Ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan hanya negara kepulauan, tetapi juga bangsa pelaut yang pernah menjelajah dunia.
