Jatengkita.id – Menginang atau nyusur adalah aktivitas mengunyah daun sirih yang membungkus tembakau, gambir, kapur sirih, dan pinang. Tradisi nginang ini masih ditemukan di banyak daerah di Jawa Tengah dan umumnya dilakukan lansia perempuan.
Namun jika ditelusuri, menginang rupanya menjadi tradisi di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Melansir dari situs Museum Nasional Indonesia, pinang dan sirih sudah ada di beberapa prasasti pada abad sembilan hingga 10.
Lalu pada abad 10 hingga 14 Masehi, menurut berita Dinasti Sung, pinang dan sirih dicantumkan sebagai komoditas dagang yang diekspor dari Jawa.
Menariknya lagi, BBC News menyebutkan bahwa aktivitas menginang ini juga terukir pada relief Candi Borobudur.
Nginang untuk Kesehatan
Tradisi nginang tidak hanya dilakukan untuk alasan keramahtamahan, namun juga kesehatan hingga ritual atau upacara adat. Di beberapa daerah, aktivitas ini juga diberlakukan dalam prosesi lamaran (hingga muncul istilah meminang), dan
Dari segi kesehatan, orang-orang jaman dulu melakukan nginang untuk beberapa alasan.
- Menjaga Kesehatan Gigi
Sifat antibakteri pada pinang mampu mencegah pertumbuhan bakteri di gigi dan mulut. Air liur yang dihasilkan dari proses mengunyah sirih juga berperan untuk membersihkan gigi dan gusi dari sisa makanan atau kotoran yang menempel. - Menjaga Kesehatan Sistem Pencernaan
Melansir dari situs hellosehat.com, menurut jurnal Plos One, mengunyah biji pinang dapat menghasilkan bakteri baik di usus yang berguna untuk kesehatan usus. - Menurunkan Kadar Gula Darah
Buah pinang memiliki kandungan senyawa pyridine dan piperedine alkaloid yang membantu menurunkan kadar gula darah. Hal ini disebutkan dalam jurnal IOP Conference Series Earth and Environmental Science.

Sumber lain menyebutkan bahwa biji pinang mengandung zat psikoaktif yang banyak ditemukan setelah nikotin, alkohol, dan kafein. Dalam batas tertentu, biji pinang dapat digunakan untuk mengobati depresi, skizofrenia, kejang, dan penyakit lain yang berhubungan dengan sistem saraf pusat.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kebiasaan menginang juga berpotensi memunculkan beberapa penyakit. Sebut saja kanker mulut yang disebabkan kandungan karsinogenik dari biji pinang dan penyakiit jantung akibat kekakuan pada pembuluh darah arteri.
Pangeran Diponegoro dan Tradisi Nginang
Mengutip dari BBC News, Pangeran Diponegoro juga memiliki kebiasaan menginang selama hidupnya. Peter Carey, peneliti Pangeran Diponegoro menyebut bahwa dalam penahanannya di Stadhuis, Pangeran Diponegoro memiliki kegiatan harian, yaitu menginang.
Menurutnya, Pangeran Diponegoro mengutus anak buahnya untuk rutin membeli pinang dengan ongkos 82 gulden. Belanda juga mencatat pengeluaran bulanan yang ditagihkan kepada Keraton Yogyakarta untuk membiayai Pangeran Diponegoro.
Peter juga menyebut, dalam perjalanan pengasingan Pangeran Diponegoro ke Manado, pengawal diminta untuk rutin mensuplai daun sirih.
Meski di era modern, tradisi nginang masih dilakukan di beberapa daerah di Nusantara. Namun frekuensinya tidak sebanyak dulu, mengingat lebih banyak masyarakat yang kini mulai beralih ke cara mutakhir.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






