Jatengkita.id – Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan nyeri berdenyut hebat, mual, muntah, dan sensitivitas terhadap cahaya atau suara.
Menariknya, data dari berbagai studi menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami migrain dibandingkan laki-laki. Bahkan, menurut laporan global kesehatan, sekitar 75 persen penderita migrain adalah perempuan.
Lantas, apa sebenarnya penyebab perempuan lebih rentan terhadap migrain? Apakah hanya karena faktor hormonal, atau ada penyebab lain yang turut berperan?
- Faktor Hormon: Pelaku Utama Migrain pada Perempuan
Salah satu penyebab utama migrain pada perempuan adalah fluktuasi hormon, khususnya hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini memainkan peran penting dalam siklus menstruasi dan sistem reproduksi perempuan.
Saat hormon ini naik turun, tubuh bisa mengalami reaksi yang memicu migrain. Beberapa momen yang rentan memicu migrain akibat hormon antara lain menstruasi, kehamilan, masa menyusui, dan menopause dan perimenopause.

- Sensitivitas terhadap Pemicu Migrain
Perempuan umumnya lebih sensitif terhadap pemicu migrain eksternal dibandingkan laki-laki. Beberapa pemicu umum yang lebih sering berdampak pada perempuan antara lain stres emosional, perubahan pola tidur, konsumsi makanan tertentu (makanan olahan, kafein berlebih), dan cuaca atau perubahan tekanan udara.
- Struktur Otak dan Neurokimia
Penelitian menunjukkan bahwa otak perempuan dan laki-laki merespons nyeri secara berbeda. Perempuan memiliki aktivitas yang lebih tinggi pada bagian otak yang bertanggung jawab terhadap rasa sakit dan stres. Selain itu, distribusi zat kimia di otak seperti serotonin juga berbeda.
Serotonin adalah neurotransmitter yang berperan penting dalam regulasi suasana hati, tidur, dan rasa sakit. Kadar serotonin yang rendah berkaitan erat dengan migrain.
Karena perempuan cenderung memiliki fluktuasi kadar serotonin yang lebih besar selama siklus hormonal, ini juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat mereka lebih rentan terhadap migrain.
Baca juga: Benarkah Wanita Lebih Cepat Gemuk dari Pria?
- Penggunaan Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi oral (pil KB) yang mengandung estrogen dan progesteron juga dapat memicu atau memperparah migrain, terutama pada perempuan yang sudah memiliki riwayat migrain sebelumnya.
Bahkan, bagi perempuan yang mengalami migrain dengan aura (gejala visual atau sensorik sebelum migrain), penggunaan pil KB kombinasi dapat meningkatkan risiko stroke, sehingga penggunaannya harus dipertimbangkan secara hati-hati.
- Faktor Genetik
Migrain cenderung diturunkan dalam keluarga. Jika ibu atau saudara perempuan mengalami migrain, maka risiko seorang perempuan untuk mengalaminya pun meningkat.
Beberapa gen telah dikaitkan dengan kerentanan terhadap migrain dan perempuan tampaknya memiliki ekspresi genetik ini lebih dominan dibandingkan laki-laki.
- Faktor Psikologis dan Peran Sosial
Beberapa ahli meyakini bahwa tekanan psikologis dan peran sosial perempuan ikut andil dalam tingginya prevalensi migrain. Perempuan seringkali harus membagi peran sebagai ibu, istri, pekerja, sekaligus pengurus rumah tangga.
Beban fisik dan emosional yang besar ini dapat memicu stres kronis yang berujung pada migrain. Selain itu, perempuan juga lebih sering mengalami gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan, dua kondisi yang berhubungan erat dengan migrain kronis.

- Gaya Hidup dan Pola Makan
Gaya hidup juga memengaruhi risiko migrain. Perempuan yang terlalu sibuk dan sering melewatkan waktu makan, kurang olahraga, atau dehidrasi lebih berisiko mengalami migrain. Tidak sedikit pula yang menjalani diet ekstrem yang justru mengacaukan keseimbangan tubuh dan memicu sakit kepala.
- Obesitas dan Perubahan Berat Badan
Obesitas juga merupakan faktor risiko migrain dan perempuan lebih berisiko mengalami fluktuasi berat badan karena siklus hormon. Penambahan berat badan yang cepat atau kelebihan berat badan secara umum bisa meningkatkan frekuensi dan intensitas migrain.
Bisakah Migrain Dicegah?
Meski migrain tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, perempuan bisa mengelola dan mengurangi frekuensinya dengan beberapa cara.
- Mengatur pola tidur dan istirahat yang teratur
- Mengelola stres dengan meditasi, yoga, atau konseling
- Mengenali dan menghindari pemicu makanan
- Menjaga hidrasi dan pola makan sehat
- Melakukan olahraga ringan secara rutin
- Mencatat jurnal migrain untuk melacak waktu dan penyebab serangan
Jika migrain sering kambuh atau sangat parah, dokter mungkin akan merekomendasikan obat pencegahan atau terapi hormonal yang disesuaikan dengan kondisi tubuh perempuan.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






