Waspadai 9 Penyebab Gula Darah Rendah dan Bahayanya

Waspadai 9 Penyebab Gula Darah Rendah dan Bahayanya
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Hipoglikemia atau kondisi gula darah rendah menjadi salah satu gangguan kesehatan yang sering kali tidak disadari banyak orang. Meski identik dialami oleh penderita diabetes, siapa saja sebenarnya bisa mengalami penurunan gula darah secara drastis akibat berbagai faktor.

Kondisi ini dapat menimbulkan gejala ringan seperti pusing dan tubuh gemetar, hingga mengancam nyawa ketika menyebabkan kejang atau penurunan kesadaran mendadak.

Para ahli menegaskan bahwa hipoglikemia bukan kondisi yang boleh disepelekan, terutama jika terjadi berulang tanpa penanganan yang tepat.

Gula darah atau glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Glukosa dapat diperoleh dari makanan mengandung karbohidrat seperti nasi, roti, susu, kentang, atau buah, selain dihasilkan oleh organ hati sebagai cadangan energi.

Ketika kadar gula darah turun di bawah batas normal—umumnya di bawah 70 mg/dL, tubuh tidak dapat berfungsi optimal. Pada titik tertentu, otak sebagai organ paling sensitif terhadap glukosa mulai mengalami gangguan karena kekurangan pasokan energi.

Menurut berbagai penelitian, hipoglikemia dapat berkembang secara cepat dan tanpa disadari, terutama pada orang yang mengonsumsi obat diabetes. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian.

Oleh sebab itu, mengenali penyebab, gejala, dan langkah penanganannya menjadi hal yang sangat penting.

Hiperinsulin dan Obat Debetes Penyebab Paling Umum

Penyebab gula darah rendah paling banyak dialami oleh penderita diabetes, terutama mereka yang menggunakan insulin atau obat-obatan tertentu untuk menurunkan kadar gula darah. Ketika dosis obat terlalu tinggi atau tidak sesuai anjuran dokter, kadar glukosa dapat turun drastis dalam waktu singkat.

Inilah yang membuat penderita diabetes sangat rentan mengalami hipoglikemia, terutama jika pola makannya tidak teratur atau melakukan aktivitas fisik berat.

Selain insulin, obat-obatan diabetes oral seperti sulfonilurea juga dapat memicu penurunan gula darah. Bahkan, pada kasus tertentu seseorang bisa mengalami hipoglikemia hanya karena tidak sengaja mengonsumsi obat diabetes milik orang lain.

Obat Lain yang dapat Memicu Hiperinsulin

Tidak hanya obat diabetes, beberapa obat lain juga dapat menyebabkan hipoglikemia. Salah satunya adalah kina (quinine), obat yang digunakan untuk menangani malaria.

Pada anak-anak serta pasien gagal ginjal, penggunaan obat tertentu dapat menimbulkan efek samping lebih kuat karena kemampuan tubuh membuang obat telah menurun. Penumpukan obat inilah yang akhirnya memicu hipoglikemia mendadak.

Kondisi ini menjadi alasan mengapa pasien dengan gangguan ginjal disarankan melakukan pemeriksaan berkala terhadap fungsi organ dan menyesuaikan dosis obat dengan saksama. Dokter sering kali meninjau ulang konsumsi obat untuk mengurangi risiko penurunan gula darah yang terlalu cepat.

Aktivitas Berlebihan Tanpa Asupan Makanan Cukup

Hipoglikemia juga bisa terjadi akibat aktivitas fisik atau olahraga berat tanpa diimbangi konsumsi makanan yang memadai. Saat tubuh bekerja keras, glukosa dibakar lebih cepat untuk menghasilkan energi.

Jika cadangan glukosa menipis, gula darah turun dan tubuh mulai kehilangan kemampuan mengatur energi dengan baik.

Kondisi ini rentan dialami atlet, pekerja yang melakukan aktivitas fisik berat, atau siapa saja yang melakukan olahraga intens di pagi hari tanpa sarapan lebih dulu.

Oleh sebab itu, tenaga kesehatan menyarankan untuk mengonsumsi makanan berkarbohidrat sebelum beraktivitas berat guna mencegah hipoglikemia.

Konsumsi Alkohol Berlebihan, Ancaman Serius Bagi Fungsi Hati

Tidak sedikit orang yang tidak menyadari bahwa alkohol dapat memicu penurunan gula darah. Secara normal, organ hati melepaskan cadangan glukosa untuk menjaga kadar gula tetap stabil.

Namun, alkohol dapat menghambat proses pelepasan glukosa tersebut sehingga tubuh kekurangan suplai energi. Jika seseorang mengonsumsi alkohol tanpa makan, risiko hipoglikemia meningkat sangat tajam.

Kondisi ini lebih berbahaya bagi penderita diabetes yang menggunakan insulin. Ketika insulin bekerja menurunkan gula darah sementara hati tidak mampu melepaskan glikogen sebagai cadangan, gula darah bisa turun dengan cepat.

Inilah sebabnya seseorang yang tampak mabuk berat sebenarnya bisa sedang mengalami hipoglikemia parah.

gula darah rendah
Gejala hipoglikemia (Gambar: istockphoto.com)

Gangguan Hati, Ginjal, dan Penyakit Kritis Lain

Penyakit hati seperti hepatitis dan sirosis dapat mengganggu kemampuan tubuh menghasilkan dan mengatur glukosa.

Sementara pada penyakit ginjal, kemampuan tubuh mengeluarkan obat menurun sehingga obat menumpuk dan bekerja lebih kuat dari yang seharusnya. Kedua kondisi ini dapat menyebabkan hipoglikemia berat.

Selain itu, sepsis, malaria, atau infeksi tertentu juga dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan menurunkan kadar gula darah. Pasien dengan kondisi kritis sering kali mengalami hipoglikemia karena tubuh tidak mampu mempertahankan kadar glukosa secara normal.

Kurang Nutrisi dan Gangguan Makan

Mereka yang mengalami gangguan makan seperti anoreksia nervosa atau menjalani diet ekstrem berisiko mengalami hipoglikemia. Dalam jangka panjang, tubuh yang tidak mendapat nutrisi memadai akan kehabisan cadangan energi.

Ketika glikogen menipis, tubuh tidak mampu mengangkat gula darah ke level normal, sehingga memicu gejala berat seperti kejang atau hilang kesadaran.

Fenomena hipoglikemia pada orang yang berpuasa terlalu lama atau diet yang terlalu ketat juga semakin sering muncul. Para ahli menyarankan konsultasi dengan ahli gizi sebelum melakukan diet tertentu agar penurunan berat badan tidak mengganggu metabolisme tubuh secara drastis.

Tumor Pankreas dan Produksi Insulin Berlebihan

Penyebab hipoglikemia yang jarang terjadi namun sangat serius adalah tumor pankreas atau insulinoma. Tumor ini memicu tubuh memproduksi insulin secara berlebihan. Ketika insulin terus menerus dilepaskan, gula darah akan turun bahkan ketika seseorang sudah makan cukup.

Pada beberapa kasus, tumor lain di tubuh juga bisa menghasilkan zat menyerupai insulin dan menimbulkan gejala serupa.

Kurang Hormon Seperti Hormon Pertumbuhan dan Andrenal

Beberapa gangguan pada kelenjar adrenal dan hipofisis dapat menyebabkan tubuh kekurangan hormon tertentu yang berperan mengatur metabolisme glukosa.

Anak-anak yang memiliki kadar hormon pertumbuhan rendah juga dapat mengalami hipoglikemia, terutama saat sedang sakit atau kekurangan asupan makanan.

Kekurangan hormon ini tidak hanya menimbulkan gejala lemas, tetapi juga dapat mengganggu pertumbuhan dan fungsi tubuh secara keseluruhan jika tidak ditangani.

Hiperinsulin pada Bayi Baru Lahir

Hipoglikemia juga rentan terjadi pada bayi baru lahir, terutama bayi dari ibu dengan diabetes tidak terkontrol. Setelah lahir, produksi insulin bayi dapat tetap tinggi sehingga gula darah turun drastis.

Meskipun hipoglikemia pada bayi biasanya bersifat sementara, kondisi ini perlu pemantauan ketat karena dapat menyebabkan kejang atau berhenti bernapas.

Gejala Hiperinsulin yang Sering Diabaikan

Gejala gula darah rendah sebenarnya cukup mudah dikenali. Penderita umumnya mengalami kulit pucat, berkeringat, jantung berdebar, sakit kepala, serta sulit berkonsentrasi. Pada beberapa orang muncul rasa lapar berlebihan, mudah marah, cemas, hingga kesemutan pada bibir dan pipi.

Jika hipoglikemia memburuk, gejalanya meningkat menjadi kebingungan, pandangan kabur, kehilangan koordinasi, bahkan mimpi buruk saat tidur.

Pada tingkat berat, penderita dapat kehilangan kesadaran dan mengalami kejang. Kondisi ini membutuhkan pertolongan segera karena sangat berbahaya jika terlambat ditangani.

Langkah Pertolongan Pertama Saat Gula Darah Rendah

  • Memberikan asupan karbohidrat cepat serap sebanyak 15 hingga 20 gram. Contohnya adalah jus buah, madu, permen, atau soda biasa.
  • Jika kadar masih di bawah 70 mg/dL, penderita perlu mengonsumsi karbohidrat tambahan. Setelah kadar gula membaik, penderita dianjurkan mengonsumsi makanan ringan seperti biskuit atau roti untuk mencegah gula darah kembali turun.
  • Pada hipoglikemia berat ketika penderita tidak dapat makan atau minum, diperlukan suntikan glukagon atau glukosa intravena.

Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Tekanan Darah Rutin. Ini Alasannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *