Jatengkita.id – Di jantung Kabupaten Banyumas, tepatnya di kompleks Pendopo Si Panji, berdiri sebuah tempat yang menyimpan kekayaan budaya Jawa yang nyaris tak lekang dimakan zaman, Museum Wayang Banyumas atau Museum Sendang Mas.
Sendang Mas merupakan bentuk singkat dari Seni Pedalangan Banyumas. Hal ini untuk menegaskan betapa berbedanya Wayang Gagrag Banyumasan dengan jenis wayang lainnya.
Begitu melangkah ke dalam bangunan bergaya joglo itu, aroma kayu tua dan nuansa sakral langsung menyapa. Suasana hening menyelimuti ruang demi ruang, seolah membawa pengunjung menembus batas waktu menuju masa ketika wayang bukan hanya tontonan, melainkan juga tuntunan.
Di sinilah tersimpan koleksi wayang yang merekam perjalanan budaya masyarakat Banyumas dan Jawa pada umumnya. Berlokasi di Jalan Budi Utomo No. 1, Sudagaran, Banyumas, museum ini mudah dijangkau dari pusat Kota Purwokerto.
Harga tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp2.000 per orang. Dengan biaya sekecil itu, pengunjung sudah bisa menikmati perjalanan panjang sejarah seni pewayangan. Selain itu juga menambah wawasan budaya yang kaya nilai.
Museum ini buka setiap hari dengan jam operasional Senin-Jumat jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Sementara hari Sabtu dan Minggu buka jam sembilan pagi hingga setengah tiga sore.
Warisan Panjang Seni Bayangan
Museum Wayang Banyumas berdiri sebagai upaya pelestarian seni pertunjukan yang telah mengakar ratusan tahun di tanah Jawa. Diresmikan pada 31 Desember 1983, museum ini awalnya dibangun atas prakarsa seniman dan budayawan Banyumas.
Mereka khawatir akan hilangnya tradisi pewayangan di tengah gempuran budaya populer. Pemerintah daerah kemudian mendukung ide itu dengan memusatkan berbagai koleksi wayang dari dalang, kolektor pribadi, dan masyarakat.
Koleksi yang dimiliki Museum Wayang Banyumas tidak hanya terbatas pada berbagai jenis wayang yang merekam lintasan sejarah dan perkembangan seni pertunjukan, tetapi juga mencakup beragam perlengkapan pendukung pementasan wayang.
Di antaranya terdapat blencong sebagai alat penerangan tradisional, gamelan sebagai musik pengiring utama, serta calung, yaitu instrumen khas Banyumasan yang memperkaya nuansa lokal dalam setiap pertunjukan.
Museum ini juga menyimpan pakeliran atau layar pertunjukan, yang menjadi elemen penting dalam penyajian seni bayangan.
Adapun jenis koleksi wayang yang tersimpan antara lain Wayang Gagrag Banyumasan Tempo Dulu dan Sekarang, Gagrag Yogyakarta, dan Wayang Krucil.
Selain itu ada juga Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, serta Wayang Suket atau dikenal pula sebagai Wayang Adam Marifat.
Tak hanya itu, museum ini juga memiliki koleksi Gamelan Slendro, Calung atau Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, serta dokumentasi Banyumas Tempo Dulu.
Menariknya lagi, museum ini turut memamerkan benda-benda Tosan Aji (senjata tradisional), koleksi buku perpustakaan, serta artefak arkeologis berupa peralatan dari batu dan kayu. Koleksi tersebut semakin menegaskan peran museum ini sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya Banyumas.
Keberadaan Museum Wayang Banyumas tidak berhenti pada fungsi koleksi. Di sinilah generasi muda bisa belajar langsung tentang filosofi, seni rupa, dan sastra Jawa yang terkandung dalam pewayangan. Pihak museum sering menggelar pementasan rutin pada hari-hari tertentu.

Setiap pertunjukan biasanya dibawakan dalang lokal dengan gaya Banyumasan yang khas, penuh humor, spontanitas, dan sentuhan kearifan lokal. Tidak jarang, pementasan juga dibumbui musik gamelan Banyumasan yang temponya cepat dan ritmis. Hal tersebut mampu menggugah semangat penonton.
Bagi pelajar dan mahasiswa, museum ini menjadi sumber penelitian budaya yang kaya. Mereka dapat menelusuri bagaimana bentuk wayang berubah mengikuti perkembangan zaman. Bisa juga menelusuri bagaimana cerita-cerita pewayangan digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan kritik sosial.
Pesona Ruang yang Menyatu dengan Sejarah
Bangunan museum yang berdiri di area Pendapa Si Panji juga memiliki nilai sejarah tersendiri. Pendapa ini dulunya merupakan pusat pemerintahan kabupaten pada masa kolonial, tempat bupati memimpin rapat dan menerima tamu penting.
Arsitekturnya yang khas Jawa, dengan tiang-tiang kayu jati dan ukiran tradisional, memberi suasana sakral yang memperkuat aura budaya.
Beberapa ruang di museum dilengkapi dengan papan informasi yang menjelaskan asal-usul setiap jenis wayang, teknik pembuatannya, hingga filosofi warna dan bentuk tokohnya.
Pengunjung bisa menyentuh beberapa replika untuk merasakan bahan dan tekstur aslinya, menjadikan pengalaman kunjungan lebih interaktif.
Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, keberadaan Museum Wayang Banyumas menjadi benteng penting bagi pelestarian nilai-nilai tradisi. Meskipun tidak selalu ramai pengunjung, semangat para pengelola dan seniman lokal untuk terus memperkenalkan seni wayang tak pernah surut.
Bagi masyarakat Banyumas, wayang bukan hanya warisan leluhur, melainkan juga cermin kehidupan, ada kebaikan dan keburukan, kelucuan dan kebijaksanaan, seperti halnya hidup manusia.
Dalam bayangan tokoh-tokohnya, tersimpan pesan moral bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap kegelapan bisa diterangi oleh kebijaksanaan.
Ketika matahari sore mulai menembus sela-sela kayu pendapa, bayangan patung-patung wayang tampak memanjang di lantai museum seolah menegaskan bahwa meski zaman berubah, bayangan budaya tak akan pernah benar-benar hilang.
Museum Wayang Banyumas berdiri sebagai saksi, bahwa warisan leluhur akan terus hidup selama masih ada yang mau melihat dan belajar dari bayang-bayangnya.
Baca juga: Uniknya Tradisi Begalan Banyumas, Teater Rakyat tentang Rumah Tangga






