Jatengkita.id – Harga RAM untuk perangkat konsumen seperti PC, laptop, hingga smartphone meroket drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan ekstrem ini terjadi akibat perubahan strategi besar-besaran dari raksasa produsen memori dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, yang kini memusatkan produksi pada High Bandwidth Memory (HBM) untuk pusat data Artificial Intelligence (AI).
Akibatnya, pasokan RAM untuk pasar konsumen menyusut tajam dan memicu lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut laporan TrendForce, tren fenomena kenaikan harga dari RAM ini mulai terlihat sejak Oktober 2025 dan terus memburuk. Para analis menyebutkan bahwa pabrikan mengalihkan fokus produksi mereka dari RAM konsumen ke memori khusus untuk AI.
Bahkan, Samsung dan SK Hynix dilaporkan mengalokasikan sekitar 40 persen produksi RAM global untuk satu megaprojek AI, yaitu Stargate milik OpenAI.
Ketidakpastian makin terasa menjelang musim belanja atau yang biasa disebut Black Friday. Mashable, sebuah platform media menemukan sejumlah kit RAM dijual dengan harga di atas $1.000 atau senilai dengan 16.687.000 IDR.
Angka tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya pada masa musim diskon. Lonjakan semakin parah pada awal Desember setelah Micron, produsen besar terakhir yang masih aktif di segmen konsumen, mengumumkan langkah mengejutkan.
Krisis RAM semakin parah setelah pengumuman Micron pada 03 Desember 2025. Perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa mereka akan menghentikan produksi RAM dan SSD Crucial untuk konsumen guna memperbesar kapasitas produksi bagi pelanggan strategis di sektor AI.

EVP dan Chief Business Officer Micron, Sumit Sadana, menegaskan bahwa permintaan memori dari pusat data AI melonjak begitu cepat hingga perusahaan harus mengubah arah bisnis sepenuhnya.
Ini berarti gamer, pengguna laptop, dan konsumen umum akan semakin kesulitan mendapatkan RAM berkualitas dengan harga terjangkau. Padahal, Crucial telah menjadi salah satu merek favorit selama hampir tiga dekade untuk pasar RAM gaming terjangkau.
Penutupan lini ini menjadi sinyal peringatan bahwa dampak kenaikan harga RAM tidak hanya dirasakan pengguna PC, tetapi juga perangkat lain seperti laptop, tablet, hingga smartphone.
Secara keseluruhan, harga RAM telah naik rata-rata 171 persen dibanding tahun lalu. Banyak produk bahkan mengalami kenaikan lebih ekstrem. Dengan industri memprioritaskan AI, tren kenaikan harga ini diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat.
Micron juga secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka akan menutup lini bisnis RAM konsumen Crucial pada 2026 demi memfokuskan seluruh sumber daya untuk kebutuhan AI. Keputusan ini menandai akhir perjalanan Crucial selama 30 tahun, sekaligus membuat harga RAM semakin melesat.
Tak lama setelah pengumuman tersebut, berbagai produsen melaporkan lonjakan pendapatan yang berlipat, seiring meningkatnya harga jual memori.
Lonjakan Harga RAM yang Mengguncang Pasar
RAM yang sebelumnya dianggap komponen termurah dalam perakitan PC kini berubah menjadi salah satu bagian paling mahal. Contohnya, kit RAM 32GB DDR5-7200 yang dulu dijual di bawah $100 kini melambung hingga tiga sampai empat kali lipat.
Kondisi ini tak hanya sangat memberatkan para perakit PC mandiri, namun juga merembet ke pasar lebih luas. Seperti yang dikutip dari telset.id, harga laptop diperkirakan naik pada awal 2026 akibat krisis ini.
Perusahaan seperti CyberPowerPC (desktop rakitan) dan Framework (laptop modular) telah menaikkan harga produk mereka. Bahkan Raspberry Pi yang terkenal sebagai ikon komputer murah, turut menyesuaikan harga karena biaya memori yang melonjak.
Apa yang Bisa Dilakukan Oleh Konsumen?
Dalam kondisi pasar yang belum stabil, beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan agar memudahkan para konsumen adalah sebagai berikut.
- Memilih perangkat rakitan (pre-built) dari merek besar seperti Lenovo atau Apple, yang cenderung memiliki stok dan kekuatan negosiasi lebih baik sehingga kenaikan harga tidak langsung dirasakan.
- Menggunakan kapasitas RAM secukupnya, seperti 16GB untuk sebagian besar pengguna dan gamer kasual.
- Menentukan waktu pembelian, apakah membeli sekarang sebelum harga makin naik, atau harus sabar menunggu sekitar 2–3 tahun hingga pasar stabil kembali.
Baca juga: Ini Alasan Layanan Cloudflare Down dan Dampaknya pada Internet






