Jatengkita.id – Jauh sebelum istilah go international populer seperti sekarang, kuliner Jawa ternyata sudah lebih dulu diperkenalkan ke panggung dunia. Momen itu terjadi pada masa penjajahan, tepatnya melalui perhelatan akbar Exposition Universelle di Paris tahun 1889.
Pameran ini menjadi ajang bagi negara-negara penjajah Eropa untuk memamerkan kekayaan alam, budaya, hingga kehidupan sehari-hari dari wilayah koloninya.
Dalam perhelatan yang berlangsung sejak 06 Mei hingga 31 Oktober 1889 tersebut, Hindia Belanda turut menghadirkan representasi Jawa kepada publik internasional.
Berdasarkan buku Rasa Tanah Air: Awal Perkembangan Kuliner Indonesia di Mancanegara pada Akhir Abad ke-19 hingga 1940-an karya Fadly Rahman, kuliner Nusantara dibawa ke Paris oleh sebuah rombongan yang berangkat menggunakan kapal Rotterdamsche Lloyd dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 24 Februari 1889.
Menariknya, kapal tersebut tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga membawa bambu-bambu dari desa-desa di Jawa. Material ini digunakan untuk membangun sebuah “kampung Jawa” di area pameran, lengkap dengan tata ruang dan aktivitas yang dibuat menyerupai kehidupan di tanah asalnya.
Salah satu elemen penting yang ditampilkan dalam kampung Jawa adalah gudang beras. Bagi masyarakat Jawa, beras memiliki nilai simbolik sekaligus fungsional yang sangat kuat. Kehadiran gudang beras ini menjadi penanda bagi para pengunjung bahwa nasi merupakan makanan pokok utama orang Jawa.

Dari sinilah muncul pemahaman pengunjung Eropa bahwa konsumsi nasi sudah melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, tanpa banyak alternatif lain.
Para penghuni kampung Jawa ditampilkan apa adanya. Sajian lauk pauk dan kebiasaan makan ditampilkan secara utuh, memperlihatkan bagaimana orang Jawa sarapan, makan siang, hingga makan malam.
Melalui representasi tersebut, pengunjung semakin menguatkan anggapan bahwa nasi bukan sekadar pilihan, melainkan pusat dari pola makan masyarakat Jawa.
Namun, di balik pameran yang memikat mata itu, tersimpan sisi pilu. Salah satu pemandangan yang terekam adalah orang Jawa yang tampak menikmati rebusan daun kopi panas. Ironisnya, pada masa itu Jawa dikenal sebagai salah satu pengekspor biji kopi berkualitas tinggi di dunia.
Realitas ini mencerminkan ketimpangan kolonial: rakyat Jawa menanam kopi, tetapi aturan keras melarang mereka menikmati biji kopi hasil tanamannya sendiri.
Melalui Exposition Universelle 1889, makanan dan kebiasaan masyarakat Jawa secara tidak langsung telah melangkah ke panggung internasional sejak abad ke-19. Respons para pengunjung menunjukkan bahwa masakan dari Nusantara khususnya Jawa memiliki karakter dan keunikan tersendiri.
Meski lahir dari konteks kolonial yang penuh ketidakadilan, momen ini menjadi salah satu catatan awal bagaimana kuliner Jawa dikenal dunia dan kelak tumbuh menjadi kebanggaan bangsa.






