Jatengkita.id – Sejak kecil, kita tumbuh dengan cerita rakyat, termasuk dongeng. Di sekolah, di buku gambar, sampai di acara TV minggu pagi.
Tapi jarang kita sadari bahwa cerita itu bukan sekadar hiburan. Ia menanamkan “software” dalam pikiran kita: bagaimana kita memandang hidup, proses, dan cara mencapai sesuatu.
Ambil contoh Candi Prambanan. Legenda bilang Bandung Bondowoso hampir bikin seribu candi dalam semalam. Instan. Sakti. Kalau gagal, bukan karena proses, tapi karena digagalkan Roro Jonggrang.
Pesan yang diam-diam masuk adalah keajaiban bisa datang tiba-tiba, tanpa proses panjang. Padahal dalam kenyataan, membangun peradaban selalu butuh puluhan, bahkan ratusan tahun kerja kolektif.
Lalu ada Kancil Nyolong Timun. Kita ketawa karena kancil licik tapi cerdas. Tapi tanpa sadar, kita belajar bahwa kecerdikan itu boleh dipakai untuk curang, ngelabui, asal selamat sendiri.

Bandingkan dengan cerita Jepang tentang Momotaro, yang juga cerdik tapi dipakai untuk mengalahkan iblis—tujuannya kolektif, bukan sekadar kenyang perut.
Inilah bedanya. Bangsa-bangsa yang maju, ceritanya menekankan proses, kerja tim, pengorbanan, dan visi jauh ke depan. Kita? Sering mengidolakan yang instan, atau akal-akalan pribadi.
Bukan berarti cerita kita jelek. Justru, ini jadi bahan refleksi. Kalau sejak kecil kita dicekoki dongeng tentang jalan pintas, jangan heran kalau di dunia nyata banyak yang cari shortcut: mau kaya cepat, mau sukses kilat, bahkan kalau bisa bangun “candi” tanpa proses.
Tugas kita generasi sekarang adalah menulis ulang narasi. Bukan menghapus cerita rakyat, tapi mengolah maknanya. Kancil harus kita ajarkan bukan sekadar licik, tapi cerdas membela sesama. Candi Prambanan bukan tentang kerja instan, tapi tentang imajinasi besar yang gagal karena kurangnya kerja sama.
Kalau narasi kolektif bisa kita ubah, maka arah bangsa pun bisa ikut berubah. Karena bangsa besar dibentuk bukan hanya oleh kebijakan, tapi juga oleh cerita yang ditanamkan di benak anak-anaknya.



