Jatengkita.id – Belanda menjadi salah satu negara penjajah yang banyak meninggalkan warisan infrastruktur di Indonesia, salah satunya kereta api. Pemerintah Hindia Belanda sengaja membangun jaringan rel kereta, terutama di Jawa saat itu, untuk mengangkut hasil perkebunan.
Sebelum dibangunnya rel kereta api, pengiriman barang dilakukan melalui jalur sungai dengan memakai perahu kayu sebagai alat pendistribusian utama barang perdagangan.
Namun, setelah kedatangan Hindia Belanda, jalur utama perekonomian yang sebelumnya melalui jalur sungai, diperluas dengan penambahan jalur darat sehingga dibangunlah rel kereta api.
Jalur perairan yang sebelumnya menjadi moda transportasi untuk perindustrian, berpindah ke tengah kota memakai kereta api sebagai transportasi utama pada masa Belanda untuk menghubungkan beberapa kota lainnya.
Sekitar tahun 1864 di Kota Semarang, Belanda membangun rel kereta api pertama yang lokasinya berada di Desa Kemijen.
Pembangunan Rel kereta pertama di Jawa ini, diprakarsai oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), dengan jalur awal Semarang-Tanggung. Tujuan awal pembangunannya untuk mengangkut hasil bumi.

Jalur Semarang-Tanggung yang panjangnya diperkirakan sekitar 26 kilometer inilah yang menjadi sejarah perkeretaapian dimulai di Indonesia.
Untuk lebih memperluas jalur transportasi darat, pemerintah Hindia-Belanda kemudian mulai membangun jalur kereta api di wilayah Jawa Timur, yang menghubungkan Surabaya-Pasuruan-Malang.
Dengan pembangunan ini, kegiatan ekonomi dan transportasi termasuk perindustrian hasil perkebunan atau pengiriman barang, dilakukan melalui transportasi kereta api.
Pembangunan rel kereta dianggap mempermudah transportasi darat karena efisien dan cepat. Selain itu, mampu mengangkut muatan yang lebih banyak.
Namun, selama pengerjaan jalur rel kereta api, pihak kolonial seringkali melibatkan pekerja paksa. Penduduk pribumi banyak dilibatkan seperti pada kasus pembangunan Jalan Raya Pos.
Tanpa kompensasi yang layak, penduduk pribumi bekerja tanpa upah hingga bentuk paksaan yang menyebabkan kondisi memilukan akibat jam kerja ekstrem dan minimnya makanan.
Kondisi yang tidak manusiawi tersebut menyebabkan para pekerja kelelahan, lapar, kekurangan gizi, hingga penyakit menular. Akibatnya, terjadi kematian massal yang menelan jutaan orang.
Eksploitasi tenaga kerja lokal tersebut merupakan praktik kerja paksa demi keuntungan Ekonomi dan militer pihak koloni.
Baca juga: Sejarah Pembangunan Infrastruktur Era Kolonial di Jawa Tengah






