Pangeran Samber Nyawa: Kisah di Balik Pergulatan Status Bangsawannya

Pangeran Samber Nyawa: Kisah di Balik Pergulatan Status Bangsawannya
(Gambar: historia.id)

Jatengkita.id – Pangeran Samber Nyawa merupakan julukan Raden Mas Said, sosok berpengaruh pada abad ke-18. Ia lahir tahun 1725 dari keluarga bangsawan Mataram.

Pangeran Samber Nyawa adalah pahlawan dari Surakarta, pendiri praja Mangkunegaran l. Ia adalah cucu dari Raja Amangkurat IV dari Kasunanan Mataram Kartasura.

Kisahnya dikenal luas sebagai salah satu tokoh yang berjuang keras melawan Belanda. Julukan “Samber Nyawa” muncul dari reputasinya sebagai pemimpin perang yang mengerikan dan paling ditakuti karena sosoknya begitu gigih dan kuat dalam melawan musuh.

Tekad serta keberaniannya di medan perang terutama keahliannya dalam perlawanan bersenjata, menjadikannya sebagai salah satu pemimpin perang paling berpengaruh di tanah Jawa pada masa itu.

Arti Sebutan Samber Nyawa

Sebutan “samber nyawa” berasal dari kata “samber” yang memiliki arti penerbangan yang cepat, dan “nyawa” yang artinya jiwa atau roh, sehingga bisa disimpulkan makna dari “samber nyawa” berarti penangkap jiwa.

Julukan “samber nyawa” diberikan oleh Nicolas Hartingh, perwakilan VOC. Hal tersebut lantaran selama masa peperangan, Raden Mas Said selalu membawa kematian bagi para musuh.

Sumber lain berasal dari sejarawan M.C Ricklefs mengatakan, “samber nyawa” mulanya bukan merujuk langsung pada sosok Raden Mas Said, melainkan nama panji atau bendera miliknya.

Panji tersebut digambarkan sebagai bendera berwarna biru kehitaman dengan tanda bulan putih yang disebut dalam kisah pertempuran di gondang.

Kisah Perjuangan

Pangeran Samber Nyawa diketahui berperang melawan kekuasaan VOC saat usianya masih belasan tahun. Sebagai sosok yang dibuang, ia menjalani hidup dengan penuh penderitaan.

Pada masa itu, Pangeran Samber Nyawa dikenal sebagai pejuang gerilya dan ahli strategi perang yang bisa menyebar maut.

samber nyawa
(Gambar: etnis.id)

Selama berperang, ia tak pernah kalah dan selalu bertahan. Perjuangannya dimulai pada saat dirinya bergabung bersama pemberontakan di Kartasura pada tahun 1742 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi.

Raden Mas Said berperang selama bertahun-tahun melawan kekuasan Mataram dan VOC. Ia menganggap VOC terlalu mencampuri urusan internal kerajaan Mataram dan memecah belah wilayah kerajaan.

Selain itu, rasa marahnya semakin bertambah akibat dirinya tidak dilibatkan dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755, sehingga merasa dikhianati dan tidak diberi wilayah kekuasaan yang adil.

Ditambah, ayahnya, Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro, diasingkan oleh VOC ke Sri Lanka. Hal tersebut membuat Pangeran Samber Nyawa semakin murka dan memberontak.

Selama ayahnya diasingkan ke Sri Lanka oleh pihak Belanda akibat ulahnya menentang VOC, Raden Mas Said bersama saudaranya dirawat oleh abdi dalem di sebuah dusun di wilayah Gunung Kidul. Di sinilah ia hidup memprihatinkan. Hidupnya penuh ketidakadilan meski di lingkungan keraton.

Kepahitan dalam hidup yang dialaminya dan campur tangan VOC dalam urusan Mataram menjadi latar belakang yang mendorong Raden Mas Said melakukan pemberontakan terhadap Belanda.

Ia akhirnya mengambil langkah berani untuk membangun pasukan dan membinanya untuk melawan pasukan VOC dan pemerintahan Mataram (yang kala itu bersekutu dengan VOC).

Pemberontakan Terhadap VOC

Pangeran Samber Nyawa tidak mengumpulkan pasukan perang secara terang-terangan, tetapi menggunakan strategi perang gerilya yang menjadi mimpi buruk bagi Belanda.

Pasukannya selalu berpindah-pindah, sehingga sulit dilacak dan ditangkap oleh VOC. Namun berhasil membabat habis nyawa sang musuh. Akibatnya membuat Belanda kebingungan.

Taktiknya yang cerdas dengan bersembunyi di pedalaman hutan dan melakukan penyerangan mendadak membuat pasukan militer Belanda ketakutan. Dengan jumlah besar, pasukan Belanda semakin kehilangan arah dan akhirnya tidak bisa menguasai lawan.

Kecerdasan dan keberanian Pangeran Samber Nyawa semakin besar saat ia melawan Belanda, Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta. 

Berjuang menuntut hak dan tahtanya, tanpa gentar Pangeran Samber Nyawa gigih melawan tiga kekuatan sekaligus. Ketangguhannya berhasil meruntuhkan mental para musuh hingga membuatnya dikenal sebagai sosok yang mematikan.   

Tahun 1757, perjuangannya berakhir ketika menandatangani perjanjian Salatiga dengan VOC, yang isinya mengakui Raden Mas Said sebagai penguasa Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegaran l.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *