Jatengkita.id – Sebelum dikenal sebagai kota metropolitan di pesisir utara Jawa, Semarang berawal dari sebuah pulau kecil yang kini nyaris terlupakan. Sejarahnya justru bermula dari sebuah pulau kecil di pesisir utara Jawa.
Pulau tersebut bernama Pulau Tirang, sebuah daratan yang kini telah hilang, namun menyimpan peran penting sebagai cikal bakal lahirnya ibu kota Jawa Tengah ini.
Eksistensi Pulau Tirang
Pada masanya, Pulau Tirang merupakan pulau kecil tak berpenghuni yang dikelilingi perairan dangkal dan kawasan pesisir alami. Keindahan bentang alamnya bahkan sempat menjadikannya ikon wisata bahari di Semarang.
Pada periode awal, wilayah bawah Semarang masih berupa gugusan pulau-pulau karang dan endapan lumpur. Salah satunya dikenal sebagai Pulau Tirang. Pulau ini berdiri terpisah dari daratan Jawa, dipisahkan oleh selat yang cukup lebar.
Seiring berjalannya waktu, selama berabad-abad endapan lumpur yang dibawa aliran sungai perlahan menimbun selat tersebut hingga menyatukan Pulau Tirang dengan daratan Jawa.
Meski wujud fisiknya kian berubah, nama “Tirang” tetap lestari sebagai penanda sejarah geologis sekaligus legenda awal berdirinya Kota Semarang. Namun, perubahan alam dalam beberapa dekade terakhir kembali mengancam keberadaannya.
Abrasi laut yang terus menggerus kawasan pesisir, ditambah minimnya upaya pelestarian lingkungan, membuat Pulau Tirang semakin menyusut hingga akhirnya tenggelam dan menghilang dari peta.
Kini, kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Pantai Tirang. Ironisnya, sebagian besar masyarakat dan wisatawan tidak mengetahui bahwa pantai yang mereka kunjungi dulunya merupakan bagian dari sebuah pulau. Bahkan pulau ini yang menjadi titik awal lahirnya Kota Semarang.
Jika menelusuri kawasan bekas Pulau Tirang saat ini, yang tampak hanyalah deretan tambak ikan dan udang milik warga.
Di sepanjang jalur dari Desa Tapak menuju Pantai Tirang, hamparan hutan mangrove yang ditanam sebagai penahan abrasi menjadi rumah bagi beragam fauna pesisir. Sebut saja burung air yang kerap terlihat beterbangan di area tersebut.
Garis Pantai Tirang yang tersisa saat ini diyakini sebagai jejak terakhir keberadaan Pulau Tirang. Pada sekitar era 1960-an, abrasi laut yang semakin parah akhirnya menenggelamkan pulau tersebut sepenuhnya.
Meski secara fisik Pulau Tirang telah hilang, perannya dalam sejarah Semarang justru sangat besar.

Sejarah Pulau Tirang dan Cikal Bakal Semarang
Mengutip dari laman main.semarangkab.go.id, sejarah berdirinya daerah Semarang tidak dapat dilepaskan dari sosok Ki Ageng Pandanaran. Ia merupakan tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di pesisir Jawa Tengah.
Bermula pada sekitar abad ke-16, Ki Ageng Pandanaran, cucu Raden Patah dan putra Adipati Unus (Raja Demak II) tengah melakukan perjalanan pengembaraan. Mereka akhirnya tiba di sebuah pulau bernama Pulau Tirang, yang saat itu juga dikenal sebagai Tirang Ngampar.
Di Pulau Tirang inilah Ki Ageng Pandanaran membuka permukiman baru bernama Tirang Amper. Kawasan ini ditanami pohon pandan yang tumbuh subur di sekitarnya. Dari sinilah kemudian muncul sebutan Ki atau Kyai Pandan Aran. Nama ini kelak melekat kuat dalam sejarah Semarang.
Di wilayah tersebut, Ki Pandan Aran berhasil menata kehidupan masyarakat. Ia juga menggantikan kekuasaan lokal yang masih menganut tradisi Hindu-Buddha dengan tatanan sosial bercorak Islam.
Nama “Semarang” sendiri diyakini berasal dari kondisi alam wilayah tersebut. Menurut cerita yang berkembang, Syeh Wali Lanang menyebut kawasan ini sebagai Asem Arang atau Asem Arana, merujuk pada banyaknya pohon asam yang tumbuh jarang-jarang di kawasan pesisir Pulau Tirang.
Dari penyebutan inilah nama Semarang kemudian dikenal hingga kini. Setelah Ki Pandan Aran wafat, kepemimpinan wilayah tersebut dilanjutkan oleh putra sulungnya, Pangeran Kesepuhan, yang dikenal sebagai Ki Pandan Aran II.
Pada masa itu, Kerajaan Demak telah runtuh akibat konflik internal. Kekuasaan beralih ke Kerajaan Pajang. Oleh Raja Pajang, Ki Pandan Aran II diangkat sebagai penguasa wilayah Semarang sekaligus ditetapkan sebagai bupati dengan gelar Adipati Pandan Aran II.
Sejak saat itulah sistem pemerintahan di wilayah Semarang mulai terbentuk secara administratif dan terus berkembang hingga menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Semarang.
Pulau Tirang memang telah hilang ditelan abrasi. Namun jejaknya tetap hidup dalam sejarah. Dari sebuah pulau kecil di pesisir utara Jawa, Semarang tumbuh menjadi kota besar dan semua itu bermula dari Pulau Tirang yang kini hanya tersisa dalam cerita dan ingatan.
Dengan demikian, Pulau Tirang bukan sekadar bagian dari sejarah alam, melainkan titik awal terbentuknya Kota Semarang.
Baca juga: Asal-Usul Jawa Tengah, dari Peradaban Jaman Purba hingga Modern






