Filosofi Janur Kuning dalam Pernikahan Adat Jawa

Filosofi Janur Kuning dalam Pernikahan Adat Jawa
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Pernah dengar kiasan “sebelum janur kuning belum melengkung” artinya “masih punya kesempatan mendekati dia, karena dia belum resmi menikah?” 

Ungkapan tersebut memang sering kita dengar di luar sana. Bagi mereka yang belum sah menikah, kesempatan mendapatkan jodoh masih bisa diperjuangkan, begitu katanya. Asal dengan cara yang baik dan sportif. 

Tapi tahukah kamu, apa itu janur kuning dan apa maknanya dalam pernikahan? Yuk kita bahas di sini. 

Filosofi Janur Kuning

Janur kuning merupakan daun dari pohon kelapa muda yang dirangkai atau disusun cantik untuk digunakan sebagai simbol penanda pernikahan. Di Jawa, selain sebagai dekorasi, janur kuning juga memiliki makna budaya dalam pernikahan. 

Daun ini punya peran penting sebagai pengumuman resmi kepada masyarakat, bahwa sedang berlangsung upacara pernikahan. Umumnya, janur kuning dipasang di depan rumah mempelai atau lokasi hajatan seperti di gang perkampungan. 

Istilah janur kuning berasal dari “Sejatining Nur” (cahaya) atau “Jan” (Jannah/surga) dan “Nur” (cahaya), yang bermakna harapan agar kedua pasangan mendapatkan cahaya ilahi dan keberkahan dalam menjalani biduk rumah tangga. 

janur kuning
(Gambar: Pinterest)

Warna kuningnya yang cerah melambangkan sabda dadi, sebuah doa atau harapan agar apa yang diinginkan dapat terwujud. 

Uniknya, teknik dalam merangkai janur kuning diyakini harus dilakukan secara manual, yaitu disuwir-suwir menggunakan tangan dan tidak boleh digunting. Hal ini untuk mengajarkan arti kesabaran dan kreativitas dalam seni. 

Dalam praktiknya, ada dua rangkaian utama yang dipakai, yaitu kembar mayang dan umbul-umbul. Pada bentuk kembar mayang, umumnya janur dirangkai berpasangan dan diletakkan di sisi pelaminan. Sepasang janur kuning ini melambangkan penyatuan dua jiwa dan kesucian. 

Sedangkan untuk rangkaian umbul-umbul, biasanya janur dibentuk secara menjulang dan dipasang di pintu masuk (gang perkampungan). Gunanya sebagai petunjuk atau penanda lokasi yang punya hajat.

Keberadaannya tak hanya sekedar penanda saja, tetapi juga berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada tamu dan wujud syukur atas acara yang sedang berlangsung.

Janur sebagai dekorasi sederhana namun indah dalam pernikahan Jawa, merupakan simbol sakral dan cinta kasih yang diharapkan selalu muda dan abadi. Bahkan, keberadaanya juga diyakini sebagai simbol perlindungan untuk menyingkirkan hal-hal buruk selama acara berlangsung.

Baca juga: Memahami Konsep Mahar Pernikahan: Nilai Simbolis dan Makna Religius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *