Romansa Roro Oyi dan Amangkurat 1 yang Berakhir Tragis

Romansa Roro Oyi dan Amangkurat 1 yang Berakhir Tragis
(Ilustrasi: Generate AI)

Jatengkita.id – Salah satu kisah romansa di era Kerajaan Mataram yang berakhir tragis adalah kisah antara Roro Oyi dan Amangkurat 1. Roro Oyi merupakan anak dari seorang demang Mangunjoyo yang dijual dan dijadikan calon selir bagi sang raja.

Ia berasal dari keluarga Tionghoa dan Jawa yang berdagang di Surabaya. Parasnya yang menawan membuatnya dijuluki sebagai mutiara perempuan.

Kala itu, Amangkurat 1 baru saja kehilangan sang permaisuri. Istrinya meninggal diduga diracuni oleh seseorang. Raja kemudian memutuskan mencari sosok pengganti dan menikah lagi.

Raja pun memerintahkan dua menterinya untuk sesegera mungkin mencari seorang gadis cantik yang bisa dinikahinya dan menggantikan Kanjeng Ratu Malang. Sosok Roro Oyi kemudian diboyong oleh Naya Taruno dan Yuda karti untuk dihadapkan pada raja.

Awal Mula

Bermula saat raja bertemu dengan Roro Oyi, ia langsung jatuh hati padanya dan berencana menikahi gadis cantik tersebut. Namun karena Roro Oyi diketahui masih dibawah umur, maka rencana sang raja harus diundur dan bersedia menunggunya hingga akil baligh.

Roro Oyi lalu dititipkan kepada utusannya sang raja, yaitu Ngabehi Wirareja, untuk menjaga dan merawat sang gadis hingga dewasa dan siap untuk dipinang suatu hari nanti.

Wirareja adalah salah satu pejabat yang dipercaya Amangkurat 1. Mulanya, Roro Oyi dirawat dan dijaga di rumah sang pejabat, sebelum akhirnya diketahui oleh Putra Mahkota, Raden Mas Rahmat, anak dari Amangkurat 1.

Singkat cerita, saat Roro Oyi menginjak dewasa. Ia bukannya menjaga perasaannya dari laki-laki lain namun justru jatuh cinta kepada Raden Mas Rahmat.

Situasi menjadi rumit, ketika Putra Mahkota juga jatuh hati kepada Roro Oyi. Terjadilah cinta segitiga yang membuat hubungan antara anak dan bapak menjadi tegang.

Dari sinilah mulai terjadi kekacauan besar. Perasaan sang Putra Mahkota yang tidak bisa diabaikan, membuat dirinya nekat membawa Roro Oyi pergi demi cintanya.

Raden Mas Rahmat dan Roro Oyi Menikah

Sang Putra Mahkota memboyong gadis cantik yang akan dinikahi oleh ayahnya tersebut dari kediaman Wirareja untuk dipinang dan hidup bahagia bersama. Dalam pelariannya, dikisahkan keduanya sudah menikah dan hidup bahagia. 

Sayangnya, kebahagiaan tersebut tak berselang lama. Dua insan yang sedang dimabuk asmara pun terpaksa harus berakhir, karena hal tersebut diketahui oleh Amangkurat 1. Sang raja menjadi murka dan Mataram pun akhirnya geger.

Ia memerintahkan semua anak buahnya agar segera menangkap Putra Mahkota dan Roro Oyi ke hadapannya hidup-hidup.

Sang raja bahkan berjanji akan membunuh siapa saja yang ikut membantu kepergian calon istrinya dan Putra Mahkota. Akibat peristiwa tersebut, Wirareja diusir ke Ponorogo. 

Ia merasa telah dikhianati, sehingga tindakannya berada diluar kendali. Segala cara telah dilakukan mulai dari menjarah, membakar rumah kediaman Putra Mahkota, hingga menangkap orang-orang kepercayaan Putra Mahkota.

roro oyi dan amangkurat 1
(Ilustrasi: intisari.grid.id)

Kematian Roro Oyi

Asmara Roro Oyi dan Putra Mahkota dianggap sebagai penghianatan besar dan cinta terlarang yang harus segera dihentikan. Hari telah tiba, di mana mereka berdua tertangkap oleh prajurit kerajaan dan menghadap langsung di hadapan sang Raja.

Dengan rasa kecewa dan amarah besar, Raja Amangkurat 1 memberikan pilihan berat dalam hidup Putra Mahkota. Untuk menebus semua kesalahannya agar diampuni, Putra Mahkota harus memilih antara kekuasaan atau cinta.

Putra Mahkota akan diampuni raja dengan syarat membunuh perempuan yang ia cintai dengan tangannya sendiri. Awalnya ia tidak berani melakukan hal tersebut. Namun sang raja menyebut jika Putra Mahkota tidak bisa melakukannya, maka ia yang akan bertindak dengan membunuh Putranya sendiri.

Mendengar hal tersebut, Roro Oyi berteriak dan mengatakan suaminya tak boleh mati. Ia tak sanggup bila pria yang dicintainya mati mengenaskan karena dihukum. Oleh karena itu, Roro Oyi menyerahkan diri untuk dijadikan tawanan dan menggantikan suaminya untuk kemudian dibunuh.

Dengan sangat terpaksa, Putra Mahkota akhirnya meracuni Roro Oyi. Selain menggunakan racun, beberapa sumber lain mengatakan Roro Oyi dibunuh dengan cara ditusuk dengan keris. Wanita cantik itu pun meninggal dunia, dan Putra Mahkota terbebas dari hukuman mati.

Pengkhianatan dan Pemberontakan Putra Mahkota pada Ayahnya

Setelah peristiwa tersebut, Amangkurat 1 dengan rasa kecewanya yang masih tertinggal melucuti jabatan dari Putra Mahkota. Putranya kemudian diasingkan ke suatu daerah bernama Lipura. 

Selama masa pengasingannya, ia dihantui rasa sedih dan merasa bersalah terus menerus akibat perintah membunuh Roro Oyi sehingga membuatnya ditinggal pujaan hati. Hal itu, membuatnya merasa dendam kepada Sang Raja.

Putra Mahkota akhirnya menawarkan Raden Trunajaya yaitu seorang pemimpin dari Madura, untuk menggulingkan tahta ayahnya sendiri agar dendamnya bisa terbalaskan.

Setelah melalui rencana yang panjang, hari pemberontakan itu pun tiba. Putra Mahkota yang sudah menjalin kerja sama dengan sekutunya kemudian menyerang Keraton Plered hingga pusat kerajaan itu hancur tak tersisa.

Kekacauan itu membuat Amangkurat 1 meninggalkan kerajaan dan lari untuk menyelamatkan diri, Namun di tengah pelariannya, sang raja meninggal dunia. Pemberontakan besar yang dilakukan rakyat dan orang-orang di sekelilingnya membuatnya tak berdaya.

Sang penguasa yang selama ini dikenal kejam dan penuh kontroversi harus berakhir dan gugur. Pemerintahannya berakhir tahun 1677.

Sebelum akhirnya meninggal, Amangkurat l sempat ingin meminta bantuan kepada VOC. Namun, belum sempat ia meminta tolong, ajal sudah lebih dulu menjemputnya. Amangkurat 1 wafat di Wanayasa dan dimakamkan di Tegalarum, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *