Jejak Sejarah Kue Putu dalam Serat Centhini

Jejak Sejarah Kue Putu dalam Serat Centhini
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Kue putu bukan sekadar jajanan tradisional. Di balik bentuknya yang sederhana dan aroma bambu yang harum, tersimpan jejak sejarah Kue Putu yang panjang, menghubungkan peradaban Tiongkok dan Jawa, sekaligus mengukuhkan posisinya dalam khazanah sastra klasik Nusantara.

Salah satu referensi tertua mengenai kue ini tercatat dalam naskah agung sastra Jawa, Serat Centhini, yang ditulis pada 1814 pada masa Kerajaan Mataram.

Dalam naskah tersebut, kue putu ditulis sebagai “puthu”, disebut sebagai salah satu hidangan pagi yang disajikan bersama serabi. Catatan ini tidak hanya menunjukkan eksistensi kue putu sejak abad ke-17, tetapi juga menegaskan bahwa kudapan ini memiliki kedudukan penting dalam tradisi kuliner Jawa.

Tercatat dalam Naskah Sastra Jawa

Serat Centhini dikenal sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa. Karya monumental ini disusun atas prakarsa Sunan Pakubuwana V dari Keraton Surakarta. Isinya mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari ajaran agama, adat istiadat, seni, hingga kuliner.

Dalam salah satu bagian kisah perjalanan tokoh Syekh Amongraga ke Desa Wanamarta di Jawa Timur sekitar tahun 1630-an, diceritakan bahwa Ki Bayi Panurta meminta para santrinya menyiapkan hidangan pagi berupa serabi dan puthu.

Fakta ini memperlihatkan bahwa pada masa itu, putu bukan sekadar jajanan sore seperti yang sering diasosiasikan saat ini, melainkan menu sarapan yang lazim dinikmati masyarakat.

Keberadaan puthu dalam naskah tersebut menjadi bukti kuat bahwa kue ini telah populer dan mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa sejak ratusan tahun silam.

Penyebutan langsung dalam karya sastra klasik menunjukkan bahwa kue putu bukan makanan pinggiran, melainkan bagian dari tradisi kuliner yang diakui.

sejarah kue putu
(Gambar: istockphoto.com)

Jejak Akulturasi dari Dinasti Ming

Sejarah kue putu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Tiongkok. Sejumlah penelusuran sejarah menyebutkan bahwa cikal bakal putu berasal dari kue Tiongkok bernama Xian Roe Xiao Long yang sudah ada sejak masa Dinasti Ming.

Kue tersebut berbahan dasar tepung beras dan berisi kacang hijau lembut yang dimasak dalam cetakan bambu menggunakan uap. Bentuk dan teknik memasaknya memiliki kemiripan dengan kue putu yang dikenal di Indonesia saat ini.

Akulturasi terjadi ketika kue tersebut masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan. Hubungan dagang antara Tiongkok dan wilayah Jawa telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Interaksi budaya itu melahirkan berbagai bentuk adaptasi, termasuk dalam dunia kuliner.

Isian kacang hijau yang umum digunakan di Tiongkok kemudian diganti dengan gula merah atau gula Jawa yang lebih mudah diperoleh dan sesuai dengan selera masyarakat lokal. Perubahan ini menandai proses lokalisasi, menjadikan putu sebagai identitas kuliner Jawa yang khas.

Perpaduan teknik memasak dari Tiongkok dan bahan lokal Nusantara melahirkan cita rasa baru yang unik. Seiring waktu, masyarakat tidak lagi memandangnya sebagai makanan asing, melainkan sebagai bagian dari tradisi sendiri.

Filosofi dalam Uap dan Bunyi

Kue putu identik dengan proses pengukusan dalam cetakan bambu. Ketika matang, uap air akan mengeluarkan bunyi khas yang nyaring. 

Secara filosofis, proses pengukusan yang perlahan mencerminkan nilai kesabaran dan ketekunan. Adonan tepung beras yang sederhana harus melalui proses uap panas agar matang sempurna. Ini melambangkan bahwa sesuatu yang baik membutuhkan waktu dan proses.

Bunyi uap yang unik juga memiliki makna sosial. Di masa lalu, suara tersebut menjadi panggilan bagi warga untuk berkumpul. Anak-anak berlari menghampiri pedagang, orang dewasa keluar rumah untuk membeli. Interaksi kecil itu membangun kehangatan dan kebersamaan.

Bentuknya yang silinder kecil dari cetakan bambu juga sarat makna. Dalam tradisi Jawa, bentuk bundar sering dikaitkan dengan simbol kesempurnaan dan keutuhan. Ada pula yang berpendapat bahwa nama “putu” muncul dari bunyi “tu…tu…” yang terdengar saat uap keluar dari cetakan.

Dalam konteks budaya Jawa, makanan sering dikaitkan dengan simbol dan makna tertentu. Putu dengan isian gula merah yang meleleh di tengah melambangkan manisnya kehidupan yang tersembunyi di balik kesederhanaan.

Kelapa parut yang ditaburkan di atasnya memberi sentuhan gurih, menciptakan harmoni rasa. Perpaduan manis dan gurih ini seolah menggambarkan keseimbangan hidup.

Simbol Kebersamaan dan Identitas

Di tengah arus globalisasi, kue putu hadir sebagai pengingat bahwa tradisi sederhana memiliki nilai mendalam. Setiap kepulan uap dan bunyi khasnya membawa cerita panjang tentang akulturasi, perjuangan ekonomi, dan kebersamaan.

Baca juga: Deretan Jajanan Tradisional yang Cocok jadi Menu Sarapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *