Melekat di Lokasi Prostitusi Semarang, Begini Asal-Usul Sunan Kuning

Melekat di Lokasi Prostitusi Semarang, Begini Asal-Usul Sunan Kuning
(Gambar: kecsmgbarat.semarangkota.go.id)

Jatengkita.id – Nama Sunan Kuning selama ini lebih identik dengan kawasan lokalisasi di Semarang. Namun di balik stigma tersebut, tersimpan kisah sejarah yang cukup kompleks dan masih menjadi perdebatan hingga sekarang.

Di wilayah Kalibanteng, tepatnya di Jalan Sri Kuncoro, terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai pusara Sunan Kuning. Letaknya yang hanya sekitar 100 meter dari bekas lokalisasi membuat nama tokoh ini semakin melekat dengan citra negatif, meski belum tentu sesuai dengan fakta sejarahnya.

Dua Versi Sosok Sunan Kuning

Ada dua versi utama mengenai identitas Sunan Kuning. Versi pertama menyebut bahwa ia adalah Soen An Ing, seorang pendakwah asal Tiongkok yang datang ke Jawa pada abad ke-17 untuk menyebarkan Islam.

Nama tersebut kemudian berubah menjadi “Sunan Kuning” karena masyarakat Jawa kesulitan melafalkannya.

Sementara itu, versi lain yang lebih banyak didukung kajian sejarah menyebut Sunan Kuning adalah Amangkurat V atau Raden Mas Garendi, seorang bangsawan Jawa yang berperan dalam perlawanan terhadap VOC.

Ia dikenal sebagai pemimpin dalam peristiwa Geger Pacinan, yaitu pemberontakan besar gabungan Jawa dan Tionghoa melawan kolonial Belanda.

Dalam peristiwa tersebut, ia bahkan sempat dinobatkan sebagai raja Mataram dengan gelar Sunan Amangkurat V, meskipun masa kekuasaannya berlangsung singkat.

sunan kuning
Amangkurat V (Ilustrasi: kompas.com)

Akhir Hidup yang Tragis

Kisah Sunan Kuning berakhir tragis setelah kekuatan pasukannya melemah akibat tekanan VOC. Ia akhirnya tertangkap dan diasingkan ke luar Pulau Jawa, hingga wafat di Sri Lanka. Fakta ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberadaan makamnya di Semarang.

Melansir dari detik.com, sejumlah peneliti menduga bahwa makam yang berada di Kalibanteng bukanlah milik Sunan Kuning, melainkan makam para pengikut atau prajuritnya yang gugur dalam pertempuran.

Hingga kini, belum ada bukti kuat yang memastikan bahwa tokoh tersebut benar-benar dimakamkan di lokasi itu.

Dari Sejarah ke Stigma Lokalisasi

Nama Sunan Kuning semakin dikenal luas sejak digunakan sebagai nama kawasan lokalisasi di Semarang Barat. Akibatnya, citra tokoh ini perlahan bergeser dari sosok sejarah menjadi identik dengan dunia prostitusi.

Padahal, dalam tradisi Jawa, gelar “sunan” tidak selalu merujuk pada tokoh agama seperti Wali Songo, tetapi juga bisa berarti pemimpin atau bangsawan.

Jejak Sejarah yang Mulai Terlupakan

Terlepas dari berbagai versi yang ada, Sunan Kuning tetap menjadi bagian dari sejarah panjang perlawanan terhadap VOC di Nusantara. Sayangnya, kisah perjuangannya kini mulai terlupakan dan kalah oleh stigma sosial yang melekat pada namanya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih. Ada banyak lapisan cerita yang perlu dipahami agar kita tidak keliru dalam memaknai masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *