Semarang — Kasus pneumonia atau radang paru-paru pada anak usia bawah lima tahun (balita) di Provinsi Jawa Tengah tercatat cukup tinggi. Berdasarkan data sepanjang Januari hingga Juli 2026, terdapat 33.314 balita yang terserang penyakit pernapasan ini, dengan 35 anak di antaranya meninggal dunia. Situasi ini menuntut tindakan pencegahan dan penanganan medis yang lebih serius dari pemerintah daerah.
Pneumonia masih menjadi salah satu penyakit menular yang sangat berbahaya bagi balita. Terlebih lagi, kondisi musim kemarau panjang saat ini memicu peningkatan debu dan menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Jawa Tengah, yang secara tidak langsung turut memperbesar risiko infeksi pernapasan pada kelompok rentan.
Merespons tingginya angka tersebut, Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Sururul Fuad, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk segera melakukan langkah nyata di lapangan. Sebagai anggota komisi yang membidangi urusan kesejahteraan rakyat dan kesehatan, ia mendesak Dinas Kesehatan memperkuat layanan hingga tingkat desa.
“Data puluhan ribu balita yang sakit ini menyangkut nyawa anak-anak kita. Pemprov melalui Dinas Kesehatan harus memastikan seluruh Puskesmas dan rumah sakit rujukan memiliki stok obat-obatan yang cukup, ketersediaan oksigen, dan tenaga medis yang siap menangani,” ujar Sururul Fuad di pada Jumat (11/9/2026).
Sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Tengah, Sururul juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan di tingkat rumah tangga. Menurutnya, penanganan sering terlambat karena banyak orang tua yang belum paham mengenali ciri-ciri radang paru-paru pada anak, seperti ritme napas yang terlalu cepat atau bagian dada yang tampak melesak ke dalam saat anak bernapas.
“Kami mendorong pemerintah daerah untuk mengutamakan edukasi langsung kepada keluarga. Akan sangat baik jika kegiatan Posyandu di tiap desa lebih diaktifkan untuk memantau kesehatan anak-anak secara berkala. Sebab, kesiapsiagaan orang tua di rumah adalah kunci agar anak yang sakit cepat mendapat pertolongan fasilitas kesehatan terdekat,” papar legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) 12 tersebut.
Lebih lanjut, Sururul Fuad mengingatkan bahwa meski kondisi udara Jawa Tengah saat ini dipastikan aman dari paparan debu vulkanik yang belakangan melanda provinsi lain, cuaca kering akibat kemarau panjang tetap membawa risiko besar bagi pernapasan anak. Ia berharap alokasi anggaran kesehatan di Jawa Tengah benar-benar difokuskan untuk mencegah semakin banyaknya balita yang jatuh sakit maupun kematian balita.
“Jika kita ingin membangun sumber daya manusia Jawa Tengah yang cerdas dan berkualitas, jaminan utamanya adalah kesehatan mereka sejak usia dini. Tidak boleh ada lagi balita yang tidak tertolong akibat lambatnya penanganan atau kurangnya fasilitas kesehatan,” tutupnya.
