JatengKita.id- Sedulur mungkin sulit membayangkan bagaimana bambu dengan ukuran diameter yang terbilang kecil mampu dikreasikan menjadi sebuah piranti musik klasik dan jazz yang merdu. Nyatanya ide unik yang bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita ini mampu direalisasikan dengan apik oleh Mbah Min.
Pria bernama asli Ngatmin ini menjalankan bisnisnya dari rumahnya yang berada di Japan Wetan, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Meski hanya menamatkan pendidikan di sekolah dasar, Ngatmin diketahui memiliki basic skill dunia perkayu-an yang tak main-main sejak berusia 17 tahun. Kala itu Ngatmin masih bekerja sebagai tukang ukir kayu di Jepara.
Keberhasilan Pria asal Pati ini dalam membuat biola bambu bermula dari percobaannnya membuat biola di tahun 2009 untuk membantu saudaranya, Parmin yang merupakan seorang pemilik les biola di Bogor. Saat itu, peminat les biola di Bogor sedang meningkat pesat, sehingga Parmin membutuhkan banyak biola. Sayangnya harga biola pada masa itu tergolong cukup mahal. Oleh karena itu Parmin, selaku pemilik tempat les biola banyak menawarkan kerjasama pembuatan biola kepada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Sayangnya tidak ada yang mampu memenuhi permintaan tersebut, hingga ia mengajak Ngatmin.
Meski memiliki basic skill dalam bidang perkayuan, Ngatmin mengaku tak lanhsung bisa dan mahir membuat biola. Dengan ketekunan, kerja keras, dan bantuan dari Parmin, Ngatmin cepat belajar dan akhirnya terampil membuat biola dengan bentuk yang sempurna dan resonansi suara yang pas.
Bertahun-tahun menekuni pembuatan biola berbahan kayu, Ngatmin-pun memiliki ide untuk membuat sesuatu yang tak biasa dan berbeda dari yang lain, yakni menggunakan bahan bambu. Berbekal keterampilan mengolah kayu, Ngatmin pada akhirnya bisa Merealisasikan ide tak biasa-nya tersebut.
Pemilihan bahan bambu nyatanya tidaklah salah. Bambu ternyata memiliki serat yang lebih halus daripada kayu. Bahkan bagi para musisi dan pengamat musik, biola Mbah Min terbukti memiliki suara yang lebih halus dibanding biola berbahan kayu biasa.
Satu buah biola bambu dibanderol Ngatmin dengan harga mulai dari 3 juta-an. Memang terbilang lebih mahal dari biola kayu yang hanya seharga 1,5 juta-an saja. Namun mahalnya harga tersebut sebenarnya sebanding dengan sulitnya proses pengerjaan biola bambu. Bilah bambu harus melalui proses perataan karena bentuk silindernya yang tergolong rumit untuk dibentuk. Proses pembuatan satu set biola bambu-pun terbilang lama, yakni 1,5 bulan.
Selain menonjolkan bahan pembuatannya, Ngatmin juga melengkapi biola bambu buatannya dengan ukiran kepala punakawan di bagian scroll atau kepala biola. Tak hanya itu, terdapat ukiran lain yang menghiasi bagian bridge atau jembatan biola. Benar-benar bernilai seni ya lur!!
Kualitas dan keunikan biola bambu Mbah Min sangat diminati oleh masyarakat lokal hingga mancanegara lho lur! Biasanya Ngatmin memasok biola ke kawasan Semarang, Bogor, Jakarta, Riau hingga Kalimantan. Sementara di mancanegara, biola Mbah Min telah menjangkau pasar Malaysia dan Hongkong. Luar Biasa ya lur!!






