Jatengkita.id – Perdana Menteri Qatar, Sheikh Muhammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, resmi mengumumkan gencatan senjata antara Israel dengan gerakan perlawanan HAMAS pada Kamis (16/01/2025). Qatar dalam hal ini merupakan mediator bersama Mesir dan Amerika Serikat.
Melansir dari Aljazeera, gencatan senjata akan dibagi dalam tiga fase yang akan dimulai pada Ahad (19/01/2025) mendatang. Sebanyak 33 tawanan Israel akan dibebaskan dan penggunaan senjata harus dihentikan.
Pada hari ketujuh, warga Palestina yang mengungsi diizinkan kembali ke Gaza Utara. Mobil dan lalu lintas non-pejalan kaki juga akan diizinkan kembali ke utara Koridor Netzarim. Secara berangsur-angsur, warga sipil akan dipulangkan ke kampung halaman mereka.
Berlanjut pada periode 01 Maret, Israel harus berkomitmen untuk menarik seluruh pasukannya dari wilayah Gaza, termasuk koridor Philadephia. Israel juga harus menghormati kesepakatan gencata senjata permanen.
Kemudian, pada April mendatang, bila kesepakatan kedua berhasil terpenuhi, maka jenazah para tawanan yang tersisa, harus diserahkan sebagai imbalan atas rencana rekonstruksi tiga hingga lima tahun yang akan dilaksanakan di bawah pengawasan internasional.
Dibalik Persetujuan Netanyahu untuk Gencatan Senjata
Para analis telah mengungkapkan beberapa pandangan dibalik sikap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya sangat keras menolak gencatan senjata dan akhirnya mau menerima. Mengutip dari gazamedia.net, hal tersebut dilaterbelakangi oleh beberapa faktor berikut ini.

- Tekanan Trump
Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump diyakini memiliki peran besar dalam menggerakkan publik Israel untuk menekan Netanyahu agar menyepakati gencatan senjata. Ia terlibat aktif dalam negosiasi dan sangat keras menekan Israel.
Hal ini sangat berlawanan dengan presiden sebelumnya, Joe Biden, yang tidak pernah memberi tekanan keras kepada Israel.
- Kekalahan Militer
Selama 15 bulan penyerangan ke Palestina, Israel mengalami kekalahan militer yang sangat luar biasa. Pasukan HAMAS berhasil membeberkan kelemahan strategi militer Israel dari tiga daerah yang berhasil dikalahkan, yaitu Rafah, Jabalia, dan Beit Hanoun.
Netanyahu mendapat banyak tekanan, baik dari negara sekutu, birokrasi internal, maupun warga sipil.
- Dinamika Negosiasi
Dalam kesepakatan, HAMAS akan melepaskan tahanan Israel yang tersisa secara bertahap. Selain itu, Israel juga harus berkomitmen untuk tidak melanjutkan pertempuran. Namun, beberapa menteri Netanyahu dari sayap kanan menolak kesepakatan tersebut.
Misalnya, Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, mengkhawatirkan kesepakatan tersebut akan menimbulkan perpecahan internal yang berujung pada perang saudara Israel.
- Munculnya Aliansi Turkiye-Suriah
Kemenangan HTS di Damaskus pada akhir tahun 2024 lalu menjadi salah satu pukulan besar bagi Netanyahu. Hal tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa ada peran Turkiye dalam kemenangan melawan rezim Assad.
Aliansi Turkiye-Suriah menjadi kekuatan baru yang dikhawatirkan oleh Israel dan lebih mengancam daripada melawan Iran. Amerika Serikat pun juga akan menimbang ulang bila harus berhadapan dengan Turkiye di Suriah.
Mengawal Gencatan Senjata
Bila menilik sejarah, Israel memiliki catatan sebagai pihak yang selalu melanggar kesepakatan gencatan senjata. Oleh karena itu, hasil kesepakatan yang telah diumumkan Kamis (16/01/2025) harus dikawal ketat oleh seluruh unsur internasional.
Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan bahwa dunia harus memenuhi tanggung jawab hukum dan moralitas terhadap rakyat Gaza.
“Kini, kita dihadapkan pada tugas-tugas sangat penting, seperti mengatasi kehancuran besar yang disebabkan oleh Israel di Gaza dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat sampai ke wilayah tersebut tanpa hambatan,” ujarnya.
Baca juga : Tumbangnya Rezim Assad di Suriah Jadi Awal Pembebasan Palestina





