Jatengkita.id – Pelaksanaan upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di “Kampung Gang Presiden” Puntan, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, pada Senin (17/8/2026) pagi berlangsung sangat meriah dan unik.
Tepat pukul 07.00 WIB, lapangan upacara telah dipenuhi warga yang antusias mengikuti jalannya pengibaran sang saka merah putih.
Bukan upacara biasa, momentum perayaan kemerdekaan kali ini disulap menjadi panggung kebhinekaan sekaligus kampanye lingkungan yang mencerminkan besarnya kontribusi warga negara.
Perempuan sebagai Soko Guru Peradaban
Pemandangan berbeda langsung terlihat pada jajaran petugas upacara. Seluruh petugas inti, mulai dari protokol, pasukan pengibar bendera, hingga pembaca UUD 1945, dipercayakan kepada ibu-ibu dan remaja putri Kampung Puntan.
Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Kehadiran para ibu sebagai pelaksana upacara menyimbolkan bahwa perempuan merupakan soko guru peradaban bangsa.
Hal ini sekaligus mengirimkan pesan kuat bahwa perempuan dapat tampil mengambil peran di ruang publik dengan aman, nyaman, dan penuh wibawa.
Warna-Warni Nusantara dan Pesan Daur Ulang
Sudut pandang menarik lainnya adalah tingginya partisipasi warga yang hadir mengenakan kostum unik. Mulai dari pakaian adat yang membentang dari Sumatra hingga Papua, hingga berbagai seragam profesi menghiasi barisan peserta upacara.
Lebih jauh lagi, kreativitas warga Kampung Puntan patut diacungi jempol. Hadir pula kostum adat daur ulang yang terbuat dari limbah plastik.
Salah satu warga RT 02/RW 01, Emma Apriliana, menyulap bubble wrap bekas pembungkus paket online menjadi outer dan rok pakaian adat Kalimantan. Emma mengaku ide ini berawal dari keprihatinannya terhadap tumpukan sampah plastik.
“Ini kan ada bekas bubble wrap banyak di rumah. Biasanya buat bungkus paket belanja online. Nah ini daripada dibuang, saya kumpulin kemudian saya jahit sendiri. Saya explore dan saya buat kostum 17-an,” kata Emma kepada media.
Emma mengaku mendapat ide dari sosial media. Karena skil menjahitnya, akhirnya ide kreatifitas itu tertuang menjadi kostum adat Kalimantan.
“Ya saya dapat idenya dari sosial media. Sering lihat modifikasi-modifikasi kostum dari sampah plastik,” jelas Emma.
Menariknya, penampilan memukau Emma hari ini bahkan sudah menarik minat warga kampung lain yang berniat menyewa kostumnya.
“Alhamdulillah sudah ada yang pesan sewa kostum saya, Mas. Gara gara saya posting di status WhatsApp,” ungkap Emma.
Selain itu, kostum daur ulang juga digunakan Ratna Wardani, warga RT 02/RW 01. Ratna Memanfaatkan tumpukan limbah plastik kemasan deterjen dari rumahnya menjadi sebuah kostum upacara yang nyentrik.
Dengan kreativitas dan semangat menyambut kemerdekaan, Ratna menghabiskan waktu selama satu pekan penuh untuk menyelesaikan mahakaryanya tersebut.
“Ya daripada bungkus deterjennya dibuang, ya mending dimanfaatkan untuk kostum 17an, Mas. Siapa tahu bisa jadi inspirasi banyak orang. Ini saya butuh waktu seminggu,” jelas Ratna.
Baca juga: Festival Kuliner hingga Lomba Dayung, Ini Daftar Even Agustus di Jawa Tengah
Mengisi Kemerdekaan dengan Karya dan Kerukunan
Bertindak selaku Pembina Upacara, tokoh masyarakat Puntan, Waimin, dalam amanatnya menegaskan bahwa tema besar yang diusung dalam kegiatan ini adalah Bhinneka Tunggal Ika. Ia menekankan bahwa masyarakat Puntan bisa berdiri kokoh karena adanya persatuan.
“Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya menjaga guyub rukun antar warga, bergotong-royong, dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat,” terang Waimin.
Ia juga menyoroti penggunaan baju adat dan kostum profesi. Menurutnya, ini adalah pesan bagi generasi muda di tengah gempuran teknologi agar terus mengenal dan mencintai budaya bangsanya.
“Selain itu, kostum profesi membawa pesan tersirat bahwa di usia kemerdekaan ke-81 ini, masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus berkontribusi melalui profesinya masing-masing,” kata Waimin.
Sementara itu, salah satu warga, Suharsulasmono, mengaku sangat bahagia dan mengapresiasi kegiatan upacara tahun ini. Tampil gagah mengenakan pakaian beskap yang menyimbolkan adat Jawa, ia menyampaikan harapannya.
“Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya berharap cerminan upacara hari ini dapat menjadi pemantik semangat persatuan. Tidak hanya bagi warga di sini, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara luas,” ujar Suhar.
Ketua RT 02, Santoso, mengaku sangat terharu dan bangga melihat antusiasme warganya yang luar biasa semangat serta banyak terlibat secara langsung.
“Saya sangat bangga dan senang warga Puntan kompak kompak, agenda positif seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” tutur Santoso.
Senada dengan hal tersebut, Ketua RT 03, Puji Riyanto, berpesan bahwa kesuksesan upacara pagi ini adalah bukti nyata kerukunan warga.
“Ini membuktikan bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan yang ada, warga Puntan bisa bersatu dan sukses melaksanakan agenda upacara bersama-sama. Ini adalah wujud guyub rukun yang sesungguhnya,” pungkas Puji.
