Jatengkita.id – Di tengah keberagaman yang membentang dari Sabang sampai Merauke, Indonesia berdiri kokoh di atas fondasi persatuan. Sebuah ungkapan bijak dari khazanah budaya Jawa, “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”.
Filosofi tersebut bermakna kerukunan membawa kekuatan dan ketenteraman, sedangkan perselisihan memicu kehancuran. Pitutur ini menjadi relevan untuk direfleksikan dalam memaknai kedaulatan serta perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa.
Filosofi hidup ini bukan sekadar kalimat kiasan. Kalimat mutiara adalah prinsip utama yang terbukti menjadi strategi paling ampuh dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia.
Persatuan Kolektif, Fondasi Utama Perjuangan Kemerdekaan
Sejarah mencatat bahwa perlawanan daerah yang bersifat kedaerahan kerap mengalami kegagalan.
Kemerdekaan Indonesia baru menemukan titik terangnya ketika para pendiri bangsa dan seluruh elemen masyarakat dari pelbagai suku, agama, serta golongan menyatukan tekad dalam satu visi bersama.
Penerapan prinsip rukun agawe santosa tecermin dalam beberapa pilar perjuangan kemerdekaan.
- Konsensus Persatuan Nasional
Para tokoh bangsa mengesampingkan latar belakang egosentris demi melahirkan semangat kebangsaan yang utuh. - Kekuatan Kolektif dan Gotong Royong
Berbekal rasa sebangsa dan setanah air, kebersamaan rakyat sanggup menumbangkan kekuatan militer penjajah yang jauh lebih modern. - Pondasi Dasar Bernegara
Kerukunan dijadikan batu penjuru dalam merumuskan tata negara dan konsensus nasional untuk mengawal kedaulatan Republik Indonesia.
Baca juga: Festival Kuliner hingga Lomba Dayung, Ini Daftar Even Agustus di Jawa Tengah
Pelajaran Sejarah, Bahaya Crah Agawe Bubrah bagi Kedaulatan
Sebaliknya, paruh kedua dari pepatah tersebut, crah agawe bubrah, menggarisbawahi risiko fatal dari sebuah perpecahan. Penjajah kolonial selama berabad-abad mampu melanggengkan kekuasaannya di Nusantara melalui strategi divide et impera atau politik adu domba.
Ketika antar-elemen bangsa mudah terprovokasi dan terjebak dalam konflik internal, ketahanan nasional secara otomatis melemah.
Pertengkaran antargolongan tidak hanya menguras energi bangsa. Tetapi juga membuka celah bagi pihak asing atau ancaman luar untuk mengikis kedaulatan negara hingga berujung pada kehancuran.
Relevansi Filosofi di Era Modern
Tantangan mempertahankan kedaulatan di era modern tidak lagi berwujud kontak senjata, melainkan potensi polarisasi sosial.
Oleh karena itu, ajaran rukun agawe santosa, crah agawe bubrah memegang peranan krusial sebagai benteng moral dalam kehidupan berbangsa saat ini melalui langkah-langkah nyata.
- Merawat Kebinekaan
Menjaga toleransi dan kedamaian di tengah perbedaan suku, agama, ras, serta dinamika pilihan politik. - Sinergi Mengisi Kemerdekaan
Mengalihkan energi konfrontatif menjadi kerja sama produktif demi menciptakan kesejahteraan sosial dan kemajuan ekonomi bersama. - Ketahanan Informasi
Menolak segala bentuk narasi provokatif, hoaks, dan upaya adu domba yang berpotensi memecah belah persatuan nasional.
Pesan luhur dari pepatah Jawa ini mengingatkan bahwa kedaulatan Indonesia bukanlah hadiah yang statis. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga melalui komitmen bersama untuk tetap rukun dan bersatu.
