Jatengkita.id – Terletak di daerah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Desa Kradenan adalah perkampungan yang masih memancarkan pesona pedesaan tradisional.
Sawah-sawah hijau membentang luas, rumah-rumah limasan terselip rapi di sepanjang jalan kampung yang sederhana, sementara anak-anak bermain kelereng dan bola plastik di halaman rumah, membuat suasana desa terasa hidup namun tetap damai.
Udara segar yang bercampur aroma tanah basah dan padi matang menambah kesan alami, seakan waktu berjalan lebih lambat di sini. Desa Kradenan tampak seperti desa Jawa Tengah pada umumnya tenang, harmonis, dan sarat tradisi.
Namun, di balik ketenangan itu, desa ini memiliki ciri khas unik yang membuatnya dikenal luas sebagai penghasil arak tradisional. Mengutip dari liputan6.com, begitu memasuki wilayah RT 2 RW 4 Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan, pengunjung akan disambut dengan aroma tebu yang terbakar.
Wanginya akan menimbulkan sensasi harum manis seperti tape. Aroma ini berasal dari aktivitas warga yang masih mempertahankan tradisi pembuatan arak, minuman fermentasi yang menjadi identitas lokal desa.
Tumpukan kayu bakar dan keranjang yang dilapisi plastik terlihat di halaman rumah, menjadi bahan bakar dan wadah fermentasi arak tradisional. Proses ini dilakukan secara turun-temurun, menggunakan tetes tebu, tape beras ketan, gula merah, dan ragi alami.
Beberapa produsen bahkan memiliki izin resmi Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Grobogan.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1436074/original/034652700_1481779157-ember_arak1.jpg)
Produksi Arak Kradenan
Arak Plumpung, sebutan untuk arak yang diproduksi di desa ini, memiliki beberapa tingkatan kadar alkohol, mulai super, sedang, dan biasa.
Beberapa varian dicampur dengan bahan lain, seperti sari buah atau beras kencur, menghasilkan minuman khas seperti Arak Mix dan Kopi Solo, yang tetap memabukkan namun memiliki rasa unik.
Produksi arak menyesuaikan permintaan, terutama menjelang merti desa atau apitan, saat warga desa lain memesan arak untuk upacara adat. Satu rumah produksi bisa menampung ratusan liter fermentasi, dengan proses penyulingan tradisional menggunakan tungku bakar, atau tungku modifikasi sederhana.
Harga jual bervariasi, mulai dari Rp90 ribu per liter untuk kualitas super hingga Rp250 ribu per dirigen 22 liter kualitas sedang. Produk ini tak hanya dikonsumsi oleh warga lokal, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah.
Meskipun produksi arak menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi desa, kehidupan warga di Kradenan tetap normal seperti penduduk desa biasa. Bahkan anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan normal.
Bagi warga setempat, arak dianggap sebagai jamu tradisional yang aman jika dikonsumsi sesuai takaran. Bahaya muncul hanya jika arak dicampur bahan kimia atau disalahgunakan.
Hingga kini, sekitar 50 warga masih menekuni usaha arak secara turun-temurun, menjaga tradisi sekaligus memberikan kontribusi ekonomi bagi keluarga dan desa.
Aroma khas arak, uap dari tungku tradisional, dan kegiatan fermentasi yang terus berlangsung menjadikan Desa Kradenan unik di Kabupaten Grobogan, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi dan ekonomi lokal dapat berjalan berdampingan.
Baca juga: Eksplorasi Fenomena Bledug Kuwu dan Potensi Wisatanya






