4 Pahlawan dari Jawa Tengah yang Berjasa bagi Indonesia

4 Pahlawan dari Jawa Tengah yang Berjasa bagi Indonesia
Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (Gambar : nasional.okezone.com)

Jatengkita.id – Jawa Tengah melahirkan banyak tokoh penting sekaligus pahlawan dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya berjuang melawan penjajah, para pahlawan ini juga memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang untuk memajukan bangsa. 

Dengan jasa-jasa mereka, bangsa Indonesia di masa kini dapat menikmati kemerdekaan dan pembangunan yang lebih baik. Berikut adalah empat pahlawan asal Jawa Tengah yang berpengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa.

  1. Sultan Agung Hanyokrokusumo
(Gambar : kebudayaan.jogjakota.go.id)

Pahlawan yang juga dikenal dengan Sultan Agung Mataram ini merupakan salah satu raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram.

Memiliki nama asli Raden Mas Jatmika, atau dikenal juga dengan sebutan Raden Mas Rangsang, ia naik takhta pada tahun 1613 di usia yang cukup muda, yaitu 20 tahun.

Di bawah pimpinan Sultan Agung yang penuh visi, Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya. Ia menaklukkan wilayah pesisir seperti Surabaya dan Madura, dan kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga sebagian daerah Jawa Barat.

Di masa pemerintahannya ini, kolonial Belanda datang ke Nusantara melalui kongsi dagang VOC (Vereenigde Ooos Indische Compagnie). Menyadari bahwa kedatangan bangsa asing itu membahayakan kekuasaan Mataram Islam di Pulau Jawa, Sultan Agung melakukan perlawanan besar-besaran.

Sayangnya, perlawanannya berakhir setelah tentara VOC membakar lumbung persediaan makanan pasukan Kerajaan Mataram Islam. Meski begitu, perlawanannya menjadi simbol perjuangan terhadap kolonialisme.

Selama masa pemerintahannya juga, Sultan Agung melakukan penyesuaian unsur-unsur kebudayaan Indonesia dengan agama Hindu dan Islam. Berkat usahanya tersebut, tradisi yang ditinggalkan Sultan Agung masih diwariskan hingga saat ini. Contohnya adalah Grebeg Puasa dan Grebeg Maulud.

Selain itu, peninggalan Sultan Agung juga terlihat melalui penanggalan tahun saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing. Sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan unsur kalender Islam dan tradisi lokal tersebut masih digunakan hingga saat ini.

Perjuangannya dalam memajukan agama dan kebudayaan Islam membuatnya mendapat gelar Susuhunan (Sunan) yang selama ini diberikan kepada Wali.

Sekitar tahun 1645 yang menjadi tahun wafatnya, Sultan Agung mendirikan Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga kerajaan. Mulai dari dirinya, keluarga dan keturunan raja-raja dimakamkan di sana.

Selepas kepergiannya, kekuasaan Mataram diturunkan kepada putranya, yaitu Raden Mas Sayidin.

2. Slamet Riyadi

(Gambar : ikpni.or.id)

Slamet Riyadi, atau Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, adalah pahlawan kelahiran Surakarta, Jawa Tengah.

Ia dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Peranan pentingnya mempertahankan kemerdekaan negeri dari ancaman kolonialisme Belanda.

Sejak usia muda, Slamet Riyadi bergabung dengan para pejuang kemerdekaan. Ia turut mengangkat senjata pada 1945 di Surakarta, mendukung gerakan perlawanan di kampung halamannya tersebut.

Pada masa revolusi nasional, Jepang menyerah dan Belanda berupaya kembali menjajah Indonesia. Riyadi ikut berjuang dalam kampanye gerilya melawan Belanda hingga memperoleh kenaikan pangkat.

Bertanggung jawab atas Resimen 26 di Surakarta, ia memimpin pasukan di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Ambarawa dan Semarang.

Riyadi terus bertempur hingga ajal menjemputnya dalam medan perang. Pada 04 November 1950, di usianya yang masih 23 tahun, peluru senjata mesin menembus perutnya. Pertempuran untuk merebut kembali Ambon itu berakhir di hari yang sama, dan Riyadi dimakamkan di Ambon.

Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasanya, banyak tempat maupun jalan dinamai dengan namanya.

Misalnya, jalan utama sepanjang 58 kilometer (36 mil) di Surakarta, sebuah kapal perang milik TNI Angkatan Laut bernama KRI Slamet Riyadi, hingga sebuah universitas di Surakarta dan Yayasan Pendidikan Katolik Slamet Riyadi.

Tak sampai di situ, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia untuknya pada 09 November 2007.

Pilihan redaksi : Mengenal Lebih Dekat Pahlawan Indonesia dari Mata Uang Rupiah

3. Jenderal Gatot Subroto

Gatot Subroto adalah pahlawan dari Banyumas
(Gambar : esi.kemdikbud.go.id)

Salah satu sosok pahlawan terkenal asal Banyumas, Jawa Tengah. Jenderal TNI (Anumerta) Gatot Subroto dikenal karena perannya dalam pembentukan dan penguatan Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Ia memasuki sekolah militer Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Magelang pada tahun 1923, lalu mengikuti pendidikan lanjutan di Sukabumi.

Di masa pendudukan Jepang, Gatot Subroto mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer milik Jepang yang merekrut tentara pribumi di Bogor. Selepas lulus, ia diangkat menjadi komandan kompi di Banyumas sebelum akhirnya ditunjuk menjadi komandan batalyon.

Pasca kemerdekaan, Gatot Soebroto bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kariernya berlanjut hingga dipercaya menjadi Panglima Divisi II, Panglima Corps Polisi Militer, dan Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya.

TKR inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dinilai memiliki kecerdikan dalam merancang strategi, peran Gatot Subroto terus berlanjut dalam mengatasi berbagai pemberontakan pasca kemerdekaan.

Misalnya, pemberontakan di wilayah Madiun, Jawa Timur dan pemberontakan di Sulawesi Selatan. Semua pemberontakan berhasil diatasi di bawah kepemimpinannya.

Pada kerusuhan tahun 1953, Gatot Subroto, yang dituduh sebagai dalang, mengundurkan diri dari jabatannya sekaligus dari dinas militer. Ia baru aktif kembali tiga tahun setelahnya dan diangkat sebagai Wakil Kepala Staf akngkatan Darat (Wakasad).

Sosok ini juga menggagas perlunya sebuah akademi militer gabungan (Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut) untuk membina para perwira muda. Gagasan itu terwujud pada tahun 1965 dengan pembentukan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Letnan Jenderal yang lahir pada 10 Oktober 1907 ini berpulang pada 11 Juni 1962 di usia 54 tahun.  Berbagai tanda kehormatan dianugerahkan kepada Gatot Subroto atas jasa-jasanya di dunia militer.

Namanya juga diabadikan menjadi nama berbagai tempat, seperti Jalan Jenderal Gatot Subroto, bandar udara, hingga rumah sakit di Jakarta.

4. Tjipto Mangoenkoesoemo

(Gambar : esi.kemdikbud.go.id)

Pahlawan yang lahir dari keluarga priyayi Jawa ini menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran untuk pribumi di Batavia. Setelah lulus, ia bekerja sebagai seorang dokter sekaligus pejuang yang aktif dalam pergerakan nasional.

Lahir di Jepara pada 04 Maret 1886, ia merupakan salah satu tokoh utama dalam pembentukan Indische Partij, organisasi politik pertama yang berani secara terang-terangan menentang Belanda.

Ia dikenal sebagai “Tiga Serangkai” bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Mereka berfokus meningkatkan kesadaran nasionalisme rakyat yang kala itu dijajah Belanda, berjuang untuk mendapatkan kembali pemerintahan Indonesia yang merdeka.

Pada 1908, bersama Wahidin Sudirohusodo dan Soetomo, ia juga berperan dalam pembentukan Boedi Oetomo, organisasi pertama yang membangkitkan kesadaran nasional.

Karena aktivitas politiknya yang kritis terhadap pemerintahan Belanda, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Bandung.

Di sanalah ia bertemu kaum nasionalis yang lebih muda seperti Soekarno. Tjipto juga pernah dibuang ke Banda, Maluku, karena dianggap terlibat dalam pemberontakan komunis pada 1927.

Dalam masa pembuangannya, penyakit asma Tjipto kambuh. Pemerintah sebetulnya mengizinkannya untuk dibebaskan, dengan syarat melepaskan hak politiknya. Namun, ia memilih mati di Banda daripada melepas hak politiknya.

Ia meninggal pada 08 Maret 1947 di usia 57 tahun dan dimakamkan di Ambarawa, Semarang. Penyakit asma merenggut nyawanya, tapi tidak dengan semangat juangnya. Terbukti dengan namanya yang terus dikenang hingga dijadikan nama jalan dan rumah sakit.

Keempat pahlawan ini telah memberikan sumbangsih besar bagi bangsa Indonesia. Meski telah gugur dalam proses memperjuangkan negeri, semangat mereka diwariskan pada generasi penerus bangsa.

Kunjungi akun YouTube Jateng Kita untuk konten menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *