Membedah Ajaran Sastra Gending Sultan Agung

Membedah Ajaran Sastra Gending Sultan Agung
(Gambar: sastra.org)

Jatengkita.id – Sastra Gending adalah karya sastra penting yang ditulis oleh Sultan Agung Anyakrakusuma sekitar tahun 1613-1645. Sultan Agung merupakan raja Kesultanan Mataram yang memiliki nama asli Raden Mas Jatmika dan populer sebagai Raden Mas Rangsang.

Karyanya ini berisikan ajaran filsafat, tasawuf, dan kebijaksanaan hidup, yang ditulis ke dalam bahasa Jawa baru dan berbentuk tembang macapat. Ia membungkusnya secara ringkas terkait ajaran Islam melalui puisi yang sangat indah.

Kandungan utama dari Sastra Gending ini lebih mengutamakan pada hubungan manusia dengan Tuhan dan perjalanan spiritual menuju hakikat hidup. Makna “sastra” (ilmu) dan “gending” (syariat) sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Maknanya begitu filosofis, yaitu menyatukan ajaran agama dengan budaya, sehingga membentuk keselarasan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Melalui Sastra Gending inilah Sultan Agung berhasil menunjukkan proses pembauran budaya Jawa dengan ajaran Islam. 

Gending tersebut ditembangkan secara harmoni melalui puisi tradisional Jawa agar membuatnya mudah dilantunkan dan dipahami oleh masyarakat.

Karya sastra adiluhung milik Sultan Agung ini  mengandung ajaran mendalam mengenai tasawuf falsafi Ibnu Arabi, sinkretisme Islam-Kejawen, filsafat, dan kebijaksanaan hidup yang menggunakan perumpamaan sastra dan gending, sebagai panduan spiritual untuk mencapai pemahaman mengenai Tuhan.

sultan agung
(Gambar: facebook.com)

Serat Sastra Gending menyalurkan nilai-nilai kehidupan, baik moral maupun spiritual ke dalam ajaran Islam sekaligus dalam budaya lokal di masyarakat. Hal tersebut juga menjadi panduan agar bisa menjalani kehidupan dengan bijaksana dan berorientasi pada kebaikan. 

Dengan mengajarkan Islam melalui konteks budaya Jawa, Sultan Agung mampu membuat dua hal tersebut menjadi sepadan, sehingga aktivitas ibadah secara fisik tidak hanya melalui raga saja, tetapi juga dengan kesungguhan hati (niat tulus dan keikhlasan).

Selain itu, melalui Sastra Gending, Sultan Agung juga mengajarkan arti moralitas dan etika dalam hidup. Dengan menggambarkan konsep sastra, yaitu Dzat dan Gending yaitu makhluk yang harus menyatu dalam kehidupan seorang muslim sejati. 

Keduanya harus disatukan sebagai fondasi. Sehingga, manusia dalam menuju Tuhan-nya harus bisa menjaga hati, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan perbuatan.

Singkatnya, Sastra Gending merupakan tuntunan bagi manusia agar memiliki hati yang bersih dan mendekatkan diri kepada sang pencipta melalui hukum syariat dan ilmu kalbu.

Karya sastra yang monumental milik Sultan Agung memang bukan sekedar karya sastra biasa. Sang raja menulis ini sebagai suatu bentuk nasihat, khususnya kepada kaum muda agar bisa mencapai kehidupan secara harmoni antara keseimbangan spiritual dan duniawi.

Baca juga: Bagaimana Kalender Jawa Bisa Berdampingan dengan Kalender Islam?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *