Jatengkita.id – Budayawan Jawa Tengah, Ki Anom Suroto meninggal dunia pada hari Kamis (23/10) pagi di RS dr. Oen Solo. Sebelumnya, ia sudah mengalami perawatan selama lima hari akibat serangan jantung. Selain itu, ia juga diketahui memiliki sakit diabetes.
Selama hidupnya, Ki Anom Suroto dikenal sebagai dalang yang memiliki suara emas dan memegang gaya Surakarta dan Mangkunegaran. Dalang senior ini lahir tahun 1948 di Klaten, Jawa Tengah. Selama proses belajarnya, ia banyak menimba ilmu dari dalang senior lain seperti Ki Narto Sabdo.
Pada tahun 1968, ia berhasil debut publik setelah lolos seleksi di Radio Republik Indonesia. Tak berhenti di Indonesia, Ki Anom Suroto terus melebarkan sayapnya hingga ke luar negeri. Pada tahun 1991, ia berhasil tampil di Amerika Serikat. Ia juga mencatatkan pernah tampil di Jepang, Rusia, Spanyol, Jerman Barat, dan Australia.
Selama kiprahnya sebagai dalang, Ki Anom Suroto tidak hanya berkarya di pedalangan, namun juga menciptakan gending Jawa yang banyak digemari penikmat wayang. Beberapa lakon yang diciptakan sendiri adalah Semar Mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, Wahyu Tejamaya, dan Wahyu Kembar.
Sementara gending-gending Jawa yang diciptakan di antaranya adalah Nyengkuyung Pembangunan, ABRI Rakyat Trus Manunggal, Nandur Ngunduh, dan Pepeling. Karya Pepeling menjadi sangat fenomenal lantaran liriknya mengandung nasihat pengingat salat.
Dalam lirik tersebut, makna yang disampaikan sangat jelas. Jika azan sudah berkumandang, bergegaslah melaksanakan ibadah. Salat lima waktu adalah tiang agama, perintah Allah SWT yang harus ditunaikan untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Akan lebih baik jika salat dilaksanakan secara berjamaah. Hidup hanya sementara, maka bersabar dan bertawakalah.

Melansir dari situs rri.co.id, Ki Anom Suroto mampu menguasai tiga kategori dalam unsur pewayangan, yaitu sabet, catur, dan iringan,
Sabet sendiri merupakan cara dalang memainkan wayang agar ekspresi dan karakternya bisa tervisualisasikan. Dengan begitu, maksud yang ingin disampaikan kepada penonton bisa dipahami.
Sedangkan catur adalah bahasa yang disampaikan dalang yang berbentuk dialog, narasi, atau penggambaran suasana. Kategori ketiga adalah iringan yang merupakan musik gamelan atau gending yang dimainkan untuk mendukung latar dan suasana cerita.
Selama masa hidupnya, Ki Anom Suroto juga melakukan pembinaan kepada generasi muda agar bisa mewarisi seni pewayangan. Ia juga masih aktif dalam forum seni untuk mengadakan sarasehan.
Berkat kariernya yang moncer, Ki Anom Suroto mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung Haryo (KRTH) Lebdo Nagoro dari Keraton Surakarta. Selain itu, Presiden Soeharto juga memberinya penghargaan Satya Lencana Kebudayaan.
Jenazah Ki Anom Suroto rencananya akan dimakamkan di pemakaman keluarga Depokan Juwiring, Kabupaten Klaten jam tiga sore.






