Jatengkita.id – Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa istimewa bagi Muslim. Kita harus banyak menggali hikmah dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari melalui amalan Isra Mi’raj.
Peristiwa agung ini merupakan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW yang berlangsung dalam satu malam. Ajaibnya, perjalanan ini mencakup fisik dan spiritual sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra serta berbagai hadis sahih.
Peristiwa ini dipahami para ulama sebagai perjalanan rohani yang sarat makna keimanan, keteguhan hati, dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.
Sejarawan dan cendekiawan Islam menyebut Isra Mi’raj sebagai perjalanan heroik Rasulullah SAW menuju puncak kesempurnaan spiritual. Hingga kini, peristiwa tersebut terus dikaji dari sisi teologis maupun ilmiah.
Sekilas tentang Isra Mi’raj
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Isra Mi’raj terjadi sekitar tahun 620–621 Masehi, atau tahun ke-10 kenabian. Masa ini adalah sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah.
Peristiwa ini datang setelah Nabi mengalami masa duka mendalam akibat wafatnya dua sosok paling berpengaruh dalam hidup dan perjuangan dakwahnya, yakni pamannya Abu Thalib dan istrinya tercinta, Khadijah RA.
Peristiwa ini juga sering disebut sebagai tahun kesedihan (Aamul Huzn). Kehilangan tersebut mengguncang batin Rasulullah SAW, hingga Allah SWT menganugerahkan Isra Mi’raj sebagai bentuk penghiburan sekaligus penguatan iman.
Dari peristiwa inilah, perintah salat lima waktu ditetapkan sebagai kewajiban utama umat Islam dan menjadi fondasi kehidupan spiritual seorang Muslim.
Isra Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan Rasulullah SAW, melainkan mengandung pesan penting tentang makna ibadah, kedisiplinan, dan akhlak.

Di tengah tantangan kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, meneladani nilai-nilai Isra Mi’raj menjadi sangat relevan untuk meningkatkan iman sekaligus memperbaiki kualitas hidup.
Oleh karena itu, peringatan Isra Mi’raj seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum refleksi dan perbaikan diri bagi setiap Muslim.
Baca juga: Filosofi Urip Iku Urup: Nilai Islam dalam Pitutur Sunan Kalijaga
Amalan Isra Mi’raj
Peringatan Isra Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amalan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salah satu amalan utama yang dianjurkan saat Isra Mi’raj adalah dengan menjaga dan menyempurnakan salat lima waktu. Salat merupakan inti dari peristiwa Isra Mi’raj dan penghubung langsung antara hamba dengan Tuhannya.
Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak salat sunah seperti salat dhuha, tahajud, rawatib, dan hajat untuk menyempurnakan ibadah wajib.
Amalan lainnya yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Tidak hanya sebatas tilawah, mengamalkan Al-Qur’an juga merenungi makna dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dzikir dan doa juga menjadi amalan ringan dengan pahala besar, seperti istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta salawat. Menjelang Isra Mi’raj, umat Islam juga dianjurkan membaca doa bulan Rajab: “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana”.
Doa tersebut sebagai bentuk harapan agar diberi keberkahan usia dan kesempatan bertemu bulan Ramadan. Selain itu, puasa sunah di bulan Rajab dapat menjadi sarana melatih kesabaran dan meningkatkan ketakwaan.
Baca juga: Part #1 : Cordoba, Kiblat Peradaban Islam di Eropa
Lebih dari sekadar ibadah ritual, Isra Mi’raj mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beribadah, kekhusyukan, keikhlasan, serta tawakal kepada Allah SWT.
Memahami hikmah Isra Mi’raj mendorong umat Islam untuk menjadikan salat sebagai prioritas utama, memperbaiki akhlak, memperluas wawasan keagamaan, serta membiasakan evaluasi dan refleksi diri.
Mengajak keluarga dan lingkungan sekitar untuk beribadah bersama juga menjadi langkah nyata dalam meneladani nilai kebersamaan dan dakwah Rasulullah SAW.
Sehingga dengan mengamalkan nilai-nilai Isra Mi’raj secara konsisten, peringatan ini tidak hanya meningkatkan keimanan, tetapi juga berdampak nyata pada kualitas hidup, baik secara spiritual, sosial, maupun moral.
Baca juga: Menelusuri Islamisasi Jawa, dari Majapahit ke Mataram


