Jatengkita.id – Upaya memperkuat kesiapsiagaan kesehatan di tengah bencana kembali digelar oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Agenda bertajuk “Pertemuan Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Reproduksi pada Kondisi Bencana dengan intervensi Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kespro” tersebut digelar pada hari Selasa (29/07/2025).
Ratusan peserta dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, rumah sakit, serta lintas sektor terkait dilibatkan dalam kegiatan ini.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jateng, Yuni Rahayuningtyas, S.KM., M.Kes. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.
“Krisis kesehatan akibat bencana bukan hanya mengancam fisik, tapi juga membawa dampak serius pada kesehatan reproduksi, termasuk kelompok rentan. PPAM menjadi instrumen penting agar hak kesehatan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.
Tunjukkan Kontribusi, UNNES Inisiasi Program Sekolah Siap Siaga Bencana
Dalam pertemuan ini, Universitas Negeri Semarang (UNNES) turut mengambil peran strategis melalui kehadiran Efa Nugroho, S.KM., M.Kes., dosen sekaligus peneliti bidang kesehatan masyarakat.

Ia memaparkan PPAM Komponen 2, yang berfokus pada upaya mencegah kekerasan seksual dan merespons kebutuhan penyintas. Selain itu juga ada PPAM Komponen 3, yang menitikberatkan pada pencegahan penularan serta pengurangan kesakitan dan kematian akibat HIV dan IMS lainnya.
“Dalam situasi bencana, risiko kekerasan seksual meningkat dan para penyintas membutuhkan layanan cepat serta responsif. Di sisi lain, akses layanan kesehatan untuk mencegah HIV dan IMS harus tetap dijaga agar tidak terjadi krisis kesehatan yang lebih besar,” terang Efa Nugroho dalam pemaparannya.
Selain UNNES, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Tengah dan PKBI Jawa Tengah. Selain itu ada juga Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah, serta Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Para narasumber membahas sembilan komponen PPAM secara menyeluruh, mulai dari layanan maternal, neonatal, hingga kesehatan lanjut usia.
Melalui forum ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi. Mereka juga didorong untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai upaya penguatan layanan kesehatan reproduksi di daerah masing-masing.
Pertemuan ini menegaskan bahwa peran akademisi, pemerintah, dan organisasi profesi harus berjalan beriringan, sehingga hak kesehatan reproduksi masyarakat dapat tetap terjamin meski di tengah bencana.
Baca juga:
UNNES Selenggarakan Pelatihan Media Pembelajaran Augmented Reality di Thailand
Kampanye SEBESTIBI: Mahasiswa UNNES Ciptakan Jingle Pencegahan TBC
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






