Jatengkita.id – Dalam dunia hiburan global, industri K-pop bersinar bak bintang paling terang. Diiringi sorak sorai para penggemar fanatik yang tersebar di seluruh dunia, grup-grup seperti BTS, BLACKPINK, SEVENTEEN, hingga NewJeans terus mencetak rekor penjualan, memuncaki tangga lagu, dan menciptakan gelombang budaya populer yang disebut Hallyu Wave.
Namun di balik gegap gempita dunia K-pop yang penuh warna, gemerlap lampu panggung, dan ribuan photocard yang diburu penggemar, tersembunyi satu persoalan besar yang mulai menyeruak ke permukaan: sampah.
Demam Photocard: Cinta atau Konsumerisme?
Setiap kali sebuah grup K-pop mengumumkan comeback, para penggemar langsung bersiap. Tak hanya menanti lagu baru, mereka juga bersiap berburu versi album yang berbeda, masing-masing dengan desain, bonus, dan tentu saja, photocard eksklusif.
Photocard, kartu kecil bergambar anggota grup idola telah menjelma menjadi barang koleksi yang sangat bernilai. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah di pasar sekunder, bahkan mengalahkan harga album itu sendiri.
Namun justru dari sinilah masalah muncul. Karena sistem photocard acak, fans terpaksa membeli lebih dari satu album hanya untuk meningkatkan peluang mendapatkan bias mereka. Di komunitas daring, istilah seperti bulk buying, album dumping, dan photocard-only sale menjadi hal lumrah.
Fans membeli 10 hingga 20 kopi album yang sama, hanya untuk mengambil satu photocard, dan menjual atau bahkan membuang sisanya.
Fakta Mengejutkan di Balik Cinta Buta Fans
Menurut data Circle Chart, penjualan album fisik K-pop di Korea Selatan melonjak drastis dari 57 juta unit pada 2021 menjadi lebih dari 74,2 juta unit pada 2022. Tahun 2023, angka ini mencapai rekor tertinggi: 80 juta unit.
Yang mengejutkan, rata-rata penggemar K-pop membeli 3,2 salinan album yang sama. Angka ini jauh di atas rata-rata pembelian album fisik global, menunjukkan betapa masifnya budaya overconsumption dalam fandom K-pop.
Di Indonesia sendiri, album K-pop laris manis meski lagunya sudah tersedia secara gratis di platform digital. Hal ini menjadi bukti bahwa tujuan utama pembelian album bukan lagi untuk mendengarkan musik, melainkan untuk memiliki photocard idola atau melengkapi koleksi.
Bahkan, sebuah photocard Jungkook dari BTS edisi terbatas pernah dijual hingga Rp 12 juta, sementara albumnya sendiri hanya seharga Rp300 ribu.
Strategi Industri yang Mendorong Sampah
Agensi hiburan Korea Selatan telah menemukan formula pemasaran yang sangat menguntungkan. Mereka merilis album dalam berbagai versi, masing-masing berisi photocard eksklusif. SM Entertainment, misalnya, merilis album aespa “MY WORLD” dalam 14 varian berbeda.
Grup lain seperti SEVENTEEN dan Stray Kids juga dikenal memiliki beragam versi album per comeback. Strategi ini terbukti ampuh: penjualan meledak, pendapatan meningkat, dan popularitas naik.
Namun di sisi lain, strategi ini menciptakan gunungan sampah yang jarang dibicarakan. Greenpeace Asia Timur pada 2023 melaporkan bahwa produksi album K-pop menghasilkan sekitar 58 ribu ton sampah kemasan setiap tahun.
Sekitar 85 persen bahan kemasan tersebut terbuat dari plastik PVC dan lapisan metalik yang sangat sulit didaur ulang. Di tengah era krisis iklim dan kerusakan lingkungan, angka ini sangat mengkhawatirkan.

Jejak Karbon dari Album K-pop: Tak Kasat Mata, Tapi Nyata
Produksi album K-pop tidak hanya menghasilkan sampah fisik, tetapi juga menyisakan jejak karbon yang signifikan. Mulai dari pembuatan bahan baku (plastik, kertas, tinta), pencetakan massal, pengemasan, hingga distribusi global, seluruh proses ini mengonsumsi energi dalam jumlah besar.
Green Music Australia melaporkan bahwa satu CD fisik menghasilkan sekitar 500 gram emisi karbon. Dengan 74 juta unit album terjual pada 2022, total emisi yang dihasilkan dari album fisik K-pop diperkirakan mencapai setidaknya 37 ribu ton CO₂e setara dengan emisi tahunan dari lebih dari 8.000 mobil.
Belum lagi emisi dari logistik internasional. Banyak penggemar di luar Korea yang membeli album melalui pengiriman udara.
Pengiriman satu kilogram barang dari Seoul ke Jakarta, misalnya, dapat menghasilkan 4–5 kg CO₂e. Bulk order dari fansite bisa berarti ratusan kilogram barang dan emisi gas rumah kaca yang sangat besar.
Ironi di Era Digital: Ketika Musik Tak Lagi Jadi Tujuan
Ironisnya, mayoritas pendengar K-pop saat ini menikmati musik melalui platform digital seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music. Bahkan menurut survei terbaru, 92 persen fans lebih memilih streaming daripada mendengarkan CD.
Namun justru penjualan album fisik yang melonjak, karena keberadaan photocard dan insentif lain seperti tiket undian fansign atau konser.
CD fisik dalam album bahkan sering kali tidak dibuka. Banyak penggemar yang langsung menjual ulang album tanpa isinya atau membuang CD karena tak digunakan.
Hasil investigasi Korea Waste Association tahun 2023 menunjukkan bahwa 70 persen album K-pop yang dikirim ke pabrik daur ulang di Incheon ditolak karena komposisinya terlalu kompleks.
Album tersebut mengandung stiker hologram, plastik multilayer, lem khusus, dan kertas berlapis kimia, membuatnya hampir mustahil untuk didaur ulang.
Klaim “Ramah Lingkungan” yang Dipertanyakan
Menanggapi kritik tentang sampah yang dihasilkan, beberapa agensi hiburan mencoba menjawab dengan merilis album yang diklaim ramah lingkungan.
Misalnya, mini album debut grup ILLIT berjudul “SUPER REAL ME” menggunakan bahan daur ulang dan biodegradable. HYBE juga memperkenalkan album digital berbasis aplikasi Weverse, tanpa CD fisik.
Namun berbagai laporan menunjukkan bahwa klaim “eco-friendly” ini lebih menyerupai greenwashing. Greenpeace menyebutkan bahwa 30-40 persen kemasan ramah lingkungan di industri K-pop masih mengandung plastik multilayer, yang tidak bisa didaur ulang secara konvensional.
Photocard dari album Weverse, meski disebut larut dalam air, tetap dibungkus plastik. Bahkan dalam album yang diklaim ramah lingkungan, masih ditemukan photobook mewah dengan lapisan kimia, stiker hologram, dan kemasan yang mencolok.
Sebuah ironi yang menunjukkan bahwa desain dan estetika tetap menjadi prioritas, bukan keberlanjutan lingkungan.

Saat Klaim Hijau Menjadi Alat Promosi
Beberapa perusahaan bahkan memperbesar jumlah versi album dalam satu comeback sambil tetap mengklaim bahwa produknya ramah lingkungan. SM Entertainment, misalnya, menaikkan versi album AESPA dari 3 menjadi 5, meski sebelumnya mengumumkan inisiatif pengurangan limbah.
Praktik ini menimbulkan pertanyaan serius tentang ketulusan niat perusahaan terhadap isu lingkungan. Data menunjukkan bahwa meskipun berbagai inisiatif ramah lingkungan diperkenalkan, total penjualan album fisik justru meningkat 18 persen pada 2023.
Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut tidak benar-benar mengurangi limbah, bahkan bisa memperburuknya karena mendorong fans membeli lebih banyak dengan alasan “aman untuk lingkungan”.
Fenomena Album Dumping dan Kegagalan Sistem Daur Ulang
Salah satu fenomena paling mencolok dalam fandom K-pop adalah album dumping, yaitu tindakan membeli banyak album untuk mendapatkan photocard, lalu menjual atau membuang album yang tidak diinginkan.
Banyak penggemar secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak mendengarkan CD dalam album tersebut. Mereka hanya tertarik pada photocard atau tiket undian fansign.
Laporan terbaru dari Korea Waste Association menyebutkan bahwa satu comeback besar yang menghasilkan penjualan 1 juta album fisik menyumbang sekitar 300 ton sampah—setara dengan limbah dari 50 rumah tangga selama satu tahun.
Plastik PET-G dalam album edisi terbatas tidak bisa terurai secara alami, dan logam berat dalam stiker hologram berisiko mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan benar.
Di pusat daur ulang Seoul, tumpukan album K-pop yang menumpuk hanya bisa diproses sebagian. Hanya sekitar 20 persen material yang bisa dipisahkan dan didaur ulang. Sisanya dibakar, melepaskan dioksin dan bahan berbahaya ke atmosfer.
Perlu Evaluasi Total: Dari Fans hingga Industri
Industri hiburan, seperti industri lainnya, harus bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Klaim ramah lingkungan tidak cukup jika hanya bersifat kosmetik.
Perlu perubahan menyeluruh, mulai dari desain kemasan, pengurangan versi album, hingga penghentian sistem photocard acak yang mendorong konsumsi berlebihan.
Di sisi lain, penggemar juga memegang peran penting. Kesadaran bahwa cinta pada idola tidak harus diwujudkan lewat konsumsi berlebih bisa menjadi kunci perubahan.
Mendukung idola bisa melalui streaming resmi, pembelian merchandise digital, atau partisipasi dalam kampanye online yang tidak menghasilkan limbah.
Sudah saatnya komunitas fandom K-pop bersatu dan menyuarakan dukungan pada praktik yang lebih berkelanjutan. Dengan kekuatan kolektif yang mereka miliki, tekanan dari fans bisa mendorong perubahan signifikan di level perusahaan.
Menuju K-pop yang Lebih Bertanggung Jawab
K-pop adalah bukti nyata bahwa musik dapat menyatukan dunia. Namun cinta pada musik tidak boleh mengorbankan lingkungan. Sebuah sistem yang memproduksi jutaan album, hanya untuk sebagian besar dibuang, bukanlah bentuk cinta yang sehat.
Jika K-pop ingin bertahan dalam jangka panjang, bukan hanya secara komersial tetapi juga secara etis dan ekologis, maka diperlukan reformasi besar dalam model bisnis dan budaya fandom-nya.
Penghargaan seperti Billboard atau Circle Chart perlu mengevaluasi ulang parameter kesuksesan yang masih berbasis penjualan fisik.
Dari Euforia ke Kesadaran
K-pop memang tentang cinta. Cinta pada musik, cinta pada idola, cinta pada komunitas. Tapi di era krisis iklim global, mungkin sudah saatnya mencintai dengan lebih sadar.
Sebelum memutuskan membeli album kesepuluh hanya demi satu photocard, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita mendukung idola atau sistem yang merusak bumi? Karena seperti halnya grup favorit kita yang tidak tergantikan, bumi juga tak memiliki versi alternatif.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






