Jatengkita.id – Kerajaan jawa memiliki latar sejarah dan budaya yang unik dan mengagumkan. Penggunaan bahasa dan istilah di dalamnya juga memiliki arti yang baik dan mendalam. Warisan tersebut masih digunakan dari zaman nenek moyang hingga saat ini.
Namun apakah banyak yang mengetahui istilah kerajaan tersebut dan makna di dalamnya? Penyebutan seorang raja seperti Paku Alaman, Pakubuwono (PB), Mangkunegara, sampai Hamengkubuwono (HB) mungkin sering terdengar di telinga kita, namun asing pemaknaan.
Sejarah Singkat
Kerajaan Mataram Islam mengalami konflik internal dan juga campur tangan VOC pada masa pemerintahan Paku Buwono III. Akhirnya, setelah terlalu banyak konflik, mereka membuat sebuah perjanjian yang menghasilkan perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.
Perjanjian tersebut memecah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kerajaan, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Kasunanan Surakarta yang saat itu dipimpin oleh Paku Buwono III.
Hamengkubuwono
Hamengkubuwono adalah gelar untuk raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta). Singkatnya, ini adalah sebuah nama yang diberikan kepada sultan atau raja yang memimpin kerajaan di Yogyakarta.
Kepemimpinan Kesultanan Ngayogyakarta dimulai oleh Pangeran Mangkubumi, anak dari Sunan Amangkurat IV. Pangeran Mangkubumi diberi gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai raja pertama yang memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atas perjanjian Giyanti.
Saat ini, raja Yogyakarta yang bertakhta adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X sejak tahun 1989 sampai sekarang. Hal unik yang ditemukan adalah raja yang memimpin Yogyakarta saat ini juga masuk ke dalam jabatan sebagai Gubernur sesuai dengan undang-undang istimewa yang berlaku di Yogyakarta.
Hamengkubuwono sendiri memiliki arti pemelihara dunia, mencerminkan peran raja sebagai pelindung rakyat dan penjaga harmoni budaya jawa. Tradisi itu diteruskan oleh pada sultan hingga kini, termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Pakubuwono
Paku Buwono adalah gelar untuk raja Kasunanan Surakarta. Ini adalah nama yang diberikan untuk raja yang memimpin kerajaan yang bertakhta di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sebuah sumber menyebutkan gelar Pakubuwono pertama kali digunakan oleh Pangeran Puger, raja Mataram Islam ketujuh, yang kemudian diteruskan oleh Pakubuwono II. kemudian Pakubuwono II memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sela dan mendirikan Kasunanan Surakarta pada 1745.
Setelah perjanjian Giyanti ditandatangani bersama putra dari Pakubuwono III, ia menjadi penguasa Surakarta. Sejak itu, gelar Pakubuwono diwariskan turun temurun hingga kini kepada Pakubuwono XIII yang baru saja meninggal pada November 2025 lalu.
Pakubuwono sendiri berasal dari kata “paku” (penegak) dan “buwono” (dunia/alam semesta) bermakna penegak tatanan dunia atau paku dunia. Gelar ini melambangkan peran raja sebagai penjaga harmoni dan keseimbangan serta yang pertama kali digunakan oleh Pangeran Puger (Pakubuwono I).
Paku Alam
Paku alam adalah istilah yang digunakan untuk raja yang diberikan kekuasaan untuk kadipaten pakualaman di Yogyakarta. Gelar ini diberikan kepada pemimpin sebuah kerajaan kecil yang lahir dari kesultanan Yogyakarta pada tahun 1813.
Jadi, ibarat sebuah provinsi yang memiliki kabupaten, Paku Alam ini adalah bupati yang memimpin sebuah kabupaten di provinsi. Tapi, Paku Alam disini memimpin dari perpanjang tangannya kesultanan Yogyakarta.
Pemimpin pertamanya adalah pangeran Natakusuma (Paku Alam I). Gelar Paku Alam ini melambangkan peran penting dalam penyeimbang politik dan budaya di Jawa.
Namun setelah bergabung dengan NKRI, Paku Alam berubah status menjadi Wakil Gubernur DIY secara turun temurun, dengan penguasa saat ini adalah Paku Alam X.
Mangkunegara
Mangkunegara adalah sebutan bagi raja yang memimpin Kadipaten Mangkunegaran, sebagai monarki otonom di Jawa yang didirikan oleh Raden Mas Said (pangeran Sambernyawa) atau Mangkunegara I pada tahun 1757. Mangkunegaran saat ini berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya di Surakarta.
Saat ini yang bertakhta memiliki gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara X. Ia bertahta sejak tahun 2022 hingga saat ini.
Baca juga: Jelajah Pura Mangkunegaran Surakarta, Arsitekturnya Elit!






