Jatengkita.id – Di sebuah gudang museum yang tenang di kota kecil ‘s-Gravenzande, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, tersimpan sebuah batu yang membawa cerita panjang dari tanah Jawa.
Ia dikenal sebagai Prasasti Ngadoman—atau yang lebih akrab disebut Batu Damalung sebuah peninggalan yang bukan hanya merekam masa lalu, tetapi juga menyeberangi benua dan waktu.
Batu itu tak mencolok. Ia tidak berdiri megah seperti candi, atau populer seperti artefak besar lainnya. Namun, di balik diamnya, tersimpan kisah penting tentang peralihan budaya, bahasa, dan sejarah di penghujung kejayaan Kerajaan Majapahit.
Nama “Ngadoman” merujuk pada lokasi penemuannya yaitu sebuah wilayah yang kini masuk Kabupaten Semarang, di lereng Gunung Merbabu. Dalam bahasa Jawa Kuno, kawasan ini dikenal sebagai “Damalung”, yang kemudian melekat sebagai nama lain prasasti tersebut.
Prasasti ini pertama kali ditemukan pada tahun 1824 oleh Residen Semarang, Hendrik Jacob Domis. Dalam catatannya, ia menemukan batu tersebut di sisi timur lereng Merbabu, dengan ukiran aksara kuno yang menarik perhatiannya.
Merasa benda itu penting, Domis membawanya ke Salatiga dan menunjukkan kepada Demang setempat, Ngabehi Ronodipuro. Ronodipuro mengenali aksara tersebut sebagai aksara Jawa Kuno, meski ia tidak memahami maknanya.
Pesan dari Masa Lampau
Upaya memahami isi prasasti pun berlanjut. Salinan aksara dikirim ke Panembahan Sumenep yang dianggap lebih memahami bahasa Kawi. Dari sanalah, untuk pertama kalinya prasasti ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan Belanda.
Isi prasasti tersebut bukan tentang kekuasaan atau penaklukan, melainkan ajaran moral. Ia berbicara tentang pentingnya kejujuran, keteguhan dalam beragama, menjaga ucapan, serta konsekuensi dari perbuatan manusia.
Pesannya sederhana namun dalam, bahwa kebaikan akan membawa kemuliaan, dan keburukan akan berujung pada hukuman. Sebuah refleksi nilai-nilai etika yang tetap relevan hingga hari ini.
Menurut arkeolog Edi Sedyawati, Prasasti Ngadoman diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1450 M pada masa menjelang runtuhnya Majapahit.
Periode ini merupakan masa penting dalam sejarah Jawa. Bukan hanya karena perubahan politik, tetapi juga karena terjadi peralihan budaya, termasuk dalam penggunaan aksara.

Dari aksara Kawi atau Jawa Kuno, masyarakat mulai beralih ke aksara Jawa Baru yang kemudian banyak digunakan dalam naskah sastra.
Menariknya, prasasti ini menunjukkan perpaduan antara bentuk lama dan baru. Ia menjadi bukti bahwa perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang bertahap. Di sinilah nilai penting Prasasti Ngadoman. Ia menjadi “jembatan” yang menghubungkan dua era dalam sejarah aksara Jawa.
Perjalanan Panjang ke Negeri Seberang
Setelah ditemukan, prasasti ini sempat ditempatkan di kediaman Domis di Salatiga. Kemudian, ia diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap—lembaga kebudayaan di Batavia yang kini dikenal sebagai Museum Nasional Indonesia.
Namun, jejaknya kemudian menjadi samar. Catatan dari tahun 1873 menunjukkan bahwa prasasti ini sudah berada di Belanda, tepatnya di Museum Leiden.
Bagaimana proses perpindahannya tidak tercatat secara jelas dan sebuah kisah yang masih menyisakan tanda tanya hingga kini. Selama hampir dua abad, Prasasti Ngadoman seakan “menghilang” dari perhatian publik Indonesia.
Hingga akhirnya, pada 07 Agustus 2024, sejarawan Bonnie Triyana menemukan kembali prasasti tersebut di ‘s-Gravenzande. Penemuan ini bermula dari diskusi di Salatiga pada awal 2023, yang kemudian mendorong pencarian lebih lanjut.
Dengan bantuan kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp, jejak prasasti ini berhasil dilacak. Setelah sekian lama berada di luar negeri, Batu Damalung kembali “ditemukan” meski belum kembali ke tanah asalnya.
Penemuan ini bukan sekadar soal lokasi benda, tetapi juga tentang menghidupkan kembali ingatan sejarah yang sempat terputus.
Lebih dari Sekedar Batu
Prasasti Ngadoman bukan hanya artefak. Ia adalah saksi perubahan zaman dari era Majapahit menuju fase baru dalam sejarah Jawa. Ia merekam pergeseran aksara, nilai, dan cara masyarakat memahami dunia.
Lebih dari itu, perjalanannya dari lereng Merbabu hingga ke Belanda mencerminkan dinamika sejarah kolonial, di mana banyak warisan budaya Nusantara tersebar ke berbagai belahan dunia.
Kini, keberadaannya kembali diketahui, membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut, sekaligus refleksi tentang pentingnya menjaga warisan budaya.






