Jatengkita.id – Siapa sangka pertunjukan tradisional Wayang Orang Sriwedari yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun justru kini paling ramai dikunjungi oleh penonton berusia 20 hingga 30 tahun?
Di jantung Kota Solo, di dalam kompleks Taman Sriwedari yang melegenda, ada sebuah gedung yang hampir setiap malam selalu menyala lampunya dan terdengar alunan gamelan dari dalamnya.
Gedung Wayang Orang Sriwedari, satu-satunya kelompok wayang di dunia yang pentas setiap hari tanpa henti, dari Senin hingga Sabtu, sejak lebih dari satu abad yang lalu.
Kalau kamu orang Jawa Tengah dan belum pernah menyaksikannya langsung, ini saatnya.
Bermula dari Istana, Tumbuh Menjadi Milik Semua Orang
Cerita Wayang Orang Sriwedari tidak bisa dilepaskan dari nama besar Pakubuwono X, raja Keraton Surakarta yang berkuasa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pada masa itu, pertunjukan wayang yang semula hanya bisa dinikmati di lingkungan istana mulai dibuka untuk masyarakat umum.
Taman Sriwedari, yang waktu itu dikenal sebagai Bon Rojo atau kebun raja, menjadi ruang pertama di mana rakyat biasa bisa duduk bersama dan menyaksikan seni yang selama ini hanya milik kalangan bangsawan.
Sambutan masyarakat luar biasa. Penonton membludak. Dan pada tahun 1928 hingga 1930, gedung pertunjukan permanen akhirnya berdiri di kawasan Taman Sriwedari. Wayang Orang Sriwedari resmi menjadi bagian dari kehidupan warga Solo.
Secara formal, kelompok kesenian ini tercatat berdiri sejak 1911, dengan pertunjukan komersial pertamanya dimulai pada 1922. Sejak saat itu, mereka tidak pernah benar-benar berhenti.
Rahasia Wayang Orang Sriwedari Solo Tetap Hidup saat Hampir Terbengkalai
Tidak semua perjalanan mulus. Ada masa di mana Wayang Orang Sriwedari nyaris tidak bisa bertahan. Memasuki tahun 1970-an, gelombang modernisasi membuat masyarakat berangsur meninggalkan hiburan tradisional.
Penonton yang tadinya ratusan menyusut drastis menjadi puluhan. Pertunjukan yang sudah puluhan tahun menjadi kebanggaan Solo akhirnya terpaksa dihentikan sementara. Gedung yang dulunya megah mulai lapuk dimakan waktu.
Keadaan baru berubah pada 2011, ketika pemerintah akhirnya turun tangan melakukan revitalisasi. Kursi-kursi baru yang nyaman dipasang.
Layar LCD ditempatkan di samping panggung untuk menampilkan terjemahan bahasa Jawa secara real-time, memudahkan penonton yang tidak fasih berbahasa Jawa untuk tetap bisa mengikuti jalannya cerita.
Para pemain terbaik diangkat menjadi pegawai negeri, dengan gaji dan tunjangan yang diharapkan bisa menjaga semangat mereka untuk terus melestarikan kesenian ini. Hasilnya, Wayang Orang Sriwedari bangkit kembali dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Satu-satunya Wayang yang Pentas Setiap Hari di Dunia
Ini bukan klaim sembarangan. Mengutip dari detik.com, Didik Wibowo, selaku Koordinator Wayang Orang Sriwedari, menegaskan bahwa tidak ada kelompok wayang lain di dunia yang tampil setiap hari seperti yang dilakukan Sriwedari.
Satu-satunya. Dan itu bukan sesuatu yang mudah dipertahankan selama lebih dari satu abad. Setiap malam, mulai pukul 19.30 hingga 20.00 WIB, panggung Sriwedari kembali hidup.
Para pemain yang sudah dirias menyerupai tokoh-tokoh pewayangan dengan kostum yang detail dan autentik tampil membawakan lakon dari Mahabharata maupun Ramayana.
Karakter Punakawan selalu hadir untuk mencairkan suasana dengan humor khas Jawa yang kadang diselipkan pesan-pesan sosial yang relevan dengan kehidupan hari ini.
Yang membuat pertunjukan ini berbeda dari wayang konvensional adalah inovasinya. Durasi yang dulu bisa berlangsung hingga pukul tiga dini hari kini dipangkas menjadi sekitar 2,5 jam.
Bahasa yang digunakan pun beragam, mencakup Bahasa Jawa Krama, Bahasa Jawa Ngoko, dan Bahasa Indonesia, sehingga penonton dari berbagai latar belakang bisa menikmati cerita tanpa merasa tertinggal.
:quality(80)/https://kompas.id/wp-content/uploads/2021/03/e65e77e6-e90b-4371-b81c-603a4b5a8255_jpg.jpg)
70 Persen Penontonnya Kini Anak Muda
Inilah bagian yang paling mengejutkan sekaligus paling membanggakan. Data terkini menunjukkan bahwa 70 persen penonton Wayang Orang Sriwedari adalah anak muda berusia 20 hingga 30 tahun.
Angka yang tidak terbayangkan beberapa dekade lalu, ketika pertunjukan ini justru nyaris mati karena ditinggalkan generasi mudanya.
Didik Wibowo menjelaskan ada tiga alasan utama mengapa anak muda kini berbondong-bondong datang ke Sriwedari. Pertama, regenerasi pemain yang berjalan dengan baik, karena mayoritas pemain aktif saat ini masih berusia muda.
Kedua, tampilan yang lebih atraktif dan jauh berbeda dari wayang klasik yang terkesan kaku. Dan ketiga, faktor keunikan yaitu bahwa ini satu-satunya wayang yang tampil setiap hari. Daya tarik ini tidak dimiliki pertunjukan mana pun di dunia.
Dampaknya terlihat langsung di penjualan tiket. Di hari biasa seperti Senin hingga Rabu, tiket terjual antara 120 hingga 150 lembar. Memasuki Kamis, angkanya naik ke 200 hingga 300. Jumat sekitar 300-an.
Dan di malam Sabtu, lonjakan paling dramatis terjadi. Bahkan pernah mencapai 708 tiket terjual dalam satu malam hingga kapasitas gedung dinyatakan penuh.
Tiket Murah, Pengalaman Tak Ternilai
Untuk menyaksikan pertunjukan yang sudah melewati lebih dari satu abad ini, kamu tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Harga tiket masuk hanya Rp10.000 per orang untuk wisatawan lokal, sementara wisatawan mancanegara dikenakan Rp50.000. Dengan harga segitu, kamu mendapatkan pertunjukan teater tradisional Jawa yang lengkap, mulai dari tari, gamelan, dialog, hingga humor yang mengalir alami di tengah cerita.
Ada bonus yang tidak semua orang tahu. Pengunjung juga bisa menyaksikan proses rias para pemain sebelum pertunjukan dimulai.
Momen ketika para seniman memoles wajah mereka dengan kosmetik warna-warni dan mengenakan kostum wayang yang rumit adalah salah satu momen paling menarik untuk diabadikan, sebuah foto human interest yang sulit ditemukan di tempat lain.
Gedung Wayang Orang Sriwedari berlokasi di Jalan Kebangkitan Nasional No. 15, Surakarta, tepat di dalam kompleks Taman Sriwedari yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota.
Lebih dari Sekadar Hiburan
Di setiap pertunjukan, terutama saat adegan Punakawan, selalu ada pesan yang disisipkan kepada penonton, bahwa wayang adalah warisan budaya asli Indonesia yang tidak boleh punah dan harus terus dijaga bersama.
Pesan itu bukan sekadar kalimat di atas panggung. Ia adalah alasan mengapa gedung ini terus menyala setiap malam, mengapa para pemainnya terus datang dan berlatih, dan mengapa semakin banyak anak muda Jawa Tengah yang kini memilih menghabiskan malam mereka di kursi Gedung Sriwedari daripada di tempat lain.
Wayang Orang Sriwedari bukan hanya bertahan. Namun tumbuh. Dan itu, lebih dari satu abad setelah pertama kali lampunya dinyalakan, adalah sebuah pencapaian yang layak untuk dilihat langsung.
Dari sini kita juga belajar bahwa budaya tak akan punah meski di telan oleh waktu dan perubahan zaman jika dilestarikan dengan benar, peran anak muda juga sangat penting untuk membuat budaya lebih hidup lagi hingga menjadi bagian dari warisan yang dipelihara turun-temurun.
