Memahami Pitutur Luhur dalam Filosofi Jawa Tengah

Memahami Pitutur Luhur dalam Filosofi Jawa Tengah
(Gambar : askara.co)

Jatengkita.id – Budaya Jawa Tengah tidak hanya tercermin dalam kesenian dan tradisi, tetapi juga tertanam kuat dalam bahasa dan ungkapan-ungkapan bijak yang dikenal sebagai pitutur luhur.

Ungkapan-ungkapan ini tidak sekadar kata-kata, melainkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun, dan menjadi pedoman dalam bersikap, berpikir, dan bertindak.

“Pitutur luhur” dalam bahasa Jawa berarti ajaran tinggi atau petuah mulia, yang merujuk pada nasihat-nasihat penuh makna yang diwariskan oleh para leluhur atau tokoh yang dihormati. Secara etimologis, pitutur berarti nasihat, pelajaran, atau peringatan, sedangkan luhur berarti tinggi, mulia, atau baik. 

  • Ojo Dumeh

Salah satu ungkapan terkenal adalah “Ojo dumeh” yang berarti jangan sombong atau merasa paling berkuasa. Ungkapan ini mengajarkan pentingnya rendah hati dan menyadari bahwa semua kekuasaan atau kelebihan adalah titipan yang bisa hilang kapan saja.

Dalam konteks kehidupan sosial, ojo dumeh mengingatkan siapa pun agar tidak semena-mena terhadap yang lain.

  • Alon-Alon Waton Kelakon
Pitutur Luhur
(Gambar : Pinterest)

Ada pula “Alon-alon waton kelakon”, yang berarti pelan-pelan asal tercapai. Di tengah era serba cepat dan instan, falsafah ini justru menjadi penyeimbang—mengajarkan ketekunan, kehati-hatian, dan konsistensi. Bahwa yang penting bukanlah cepat, tetapi tepat dan berhasil dengan cara yang benar.

Baca juga : Upacara Ruwatan Jawa : Makna Filosofis di Balik Penolak Bala

  • Urip Iku Mung Mampir Ngombe

Artinya, hidup itu hanya singgah untuk minum. Pitutur ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang sederhana namun mendalam. Ungkapan ini menyiratkan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, sehingga harus dijalani dengan makna, welas asih, dan kesadaran spiritual.

Yang menarik, pitutur luhur tidak selalu diajarkan secara langsung, melainkan melalui cerita wayang, tembang macapat, atau petuah orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengalir lembut dalam budaya tutur, tetapi mengakar kuat dalam perilaku.

Di tengah modernisasi dan globalisasi, banyak kalangan muda mulai menjauh dari kearifan lokal ini. Oleh karena itu, penting untuk terus menggali, mengajarkan, dan menghidupkan kembali pitutur luhur, baik melalui pendidikan budaya, media sosial, maupun kesenian modern.

Hal ini dilakukan agar nilai-nilai luhur khas Jawa Tengah tetap relevan dan menginspirasi lintas generasi.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *